Temukan minat Anda, bersama

Promo pilihan, ulasan jujur, dan cerita belanja dari mereka yang seminat dengan Anda — setiap hari di Kuybeli.

Temukan minat Anda, bersamaPromo pilihan, ulasan jujur, dan cerita belanja dari mereka yang seminat dengan Anda — setiap hari di Kuybeli.

Perwira TNI Divonis 10 Tahun karena Penyelundupan Sabu dengan Pesawat CN-235

Perwira TNI Divonis 10 Tahun karena Penyelundupan Sabu dengan Pesawat CN-235
Minat|Asia Tenggara

Vonis 10 Tahun yang Mengguncang: Ketika Pesawat Militer Dipakai Bawa Sabu

Kasus penyelundupan narkoba TNI yang melibatkan Mayor Laut (P) Faisal Mulia adalah peristiwa ketika seorang perwira militer sabu menggunakan pesawat CN-235 narkoba milik TNI AL untuk mengangkut paket sabu dari Tanjungpinang, berujung pada vonis pengadilan militer 10 tahun penjara dan pemecatan, yang mengguncang kepercayaan publik terhadap integritas institusi bersenjata.

Pengadilan Militer Tinggi I Medan menjatuhkan vonis 10 tahun penjara dan pidana tambahan pemecatan dari dinas militer kepada Mayor Laut Faisal Mulia pada 20 Agustus 2026.“Memidana terdakwa dengan pidana pokok penjara selama 10 tahun dan pidana tambahan dipecat dari dinas militer,” ujar hakim ketua Kolonel Sarifudin Tarigan. Putusan ini bukan sekadar hukuman individual; ini adalah sinyal keras bahwa penyelundupan narkoba TNI tidak lagi bisa ditoleransi dalam bentuk apa pun. Fakta bahwa vonis pengadilan militer ini dua kali lebih berat dari tuntutan oditur memperlihatkan betapa seriusnya majelis hakim menilai kejahatan ini.

Perwira TNI Divonis 10 Tahun karena Penyelundupan Sabu dengan Pesawat CN-235

Modus Memalukan: Pesawat CN-235 Jadi Kurir Sabu

Di balik angka hukuman, yang paling mencengangkan adalah modusnya: pesawat militer CN-235 disulap menjadi sarana distribusi narkoba. Faisal, yang menjabat sebagai Kasi Operasi dan Latihan Wing Udara 1, membeli sabu sekitar 8 gram dari seseorang bernama Kapak di Batam seharga Rp7,5 juta, lalu menjadikannya 14 paket dengan total berat 9,83 gram. Barang ini tidak hanya dikonsumsi bersama istrinya, tetapi juga dijual kembali dengan nilai transaksi mencapai Rp8,3 juta.

Puncak keberaniannya terjadi pada 26 November 2025. Sebanyak 12 paket sabu disisipkan dalam bingkisan makanan dan dititipkan kepada co-pilot pesawat CN-235 yang akan terbang dari Tanjungpinang menuju Jakarta. Sebelum pesawat berangkat, paket itu berhasil diamankan internal Wing Udara 1, dan Faisal langsung diperiksa. Di sini, pesawat CN-235 narkoba bukan metafora; ini adalah bukti telanjang bagaimana fasilitas militer dipakai mengantar barang haram, dari Tanjungpinang ke jaringan pembeli di Surabaya dan Madiun.

Jaringan Kecil, Luka Besar: Perwira, Istri, dan Rekan Sejawat

Mereka yang menganggap kasus ini hanya tentang “pengguna yang khilaf” jelas menutup mata. Dakwaan menyebut Faisal empat kali bertransaksi sabu dengan Kapak, mulai dari 2 gram sampai 8 gram per pembelian. Sabu itu kemudian dibagi menjadi 14 paket dengan berat total 9,83 gram, disebar ke beberapa titik di Surabaya, Madiun, dan Tanjungpinang. Ia menjual sabu ke perwira lain, termasuk Kapten Laut dan teman istrinya, menjadikan penyelundupan narkoba TNI ini sebagai jaringan kecil yang tumbuh di dalam tubuh militer sendiri.

Yang lebih mengkhawatirkan, istrinya disebut aktif membantu mencarikan pembeli dan mendistribusikan paket sabu. Ini mengubah kasus dari sekadar pelanggaran individu menjadi pola perilaku keluarga yang menjadikan narkoba sebagai bisnis. Hasil tes urine pun menunjukkan Faisal positif amphetamine dan methamphetamine, mempertegas bahwa ia bukan hanya pengedar, tetapi juga pengguna aktif. Dalam konteks perang terhadap narkoba, ini adalah bentuk pengkhianatan ganda: mengkhianati sumpah militer dan mengkhianati kepercayaan publik.

Integritas Militer di Ujung Tanduk dan Pesan dari Vonis

Majelis hakim menilai tindakan Faisal bertentangan dengan program pemerintah dalam pemberantasan narkotika dan mencoreng nama baik TNI. Vonis pengadilan militer yang lebih berat dari tuntutan oditur menunjukkan upaya mengirim pesan: penyelundupan narkoba TNI oleh perwira militer sabu tidak akan dilindungi oleh seragam. Namun, hukuman berat saja tidak otomatis memulihkan kepercayaan publik. Kejahatan ini menunjukkan bahwa akses terhadap aset militer, seperti pesawat CN-235, bisa disalahgunakan tanpa terdeteksi sejak awal.

Kasus ini harus dibaca sebagai peringatan, bukan sekadar skandal sesaat. Pengadilan telah memutus, tetapi pekerjaan rumah institusi masih panjang: memperkuat pengawasan internal, memperketat kontrol penggunaan pesawat, dan menutup ruang abu-abu yang dimanfaatkan oknum. Ke depan, integritas militer tidak cukup dijaga dengan slogan; ia harus dibuktikan lewat keberanian membersihkan barisan sendiri, meski itu berarti menurunkan perwira ke balik jeruji besi.

Kuybeli memperoleh komisi saat Anda berbelanja melalui tautan kami, tanpa biaya tambahan untuk Anda.

You May Also Like

Comments
Tulis sesuatu...
Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berbagi pendapat!