AI yang berangkat dari persoalan sehari-hari
Inovasi siswa berbasis AI adalah karya yang memanfaatkan kecerdasan buatan untuk membantu mengenali masalah nyata dan memberi pengguna informasi atau tindakan yang lebih terarah. Tanara-Tanam dan Aerospora memperlihatkan pendekatan itu dari dua sisi: kondisi tanah yang memengaruhi perawatan tanaman, serta polusi udara di ruang perkotaan. Keduanya penting bukan karena kata “AI” menjamin hasil, melainkan karena para siswa mulai dari kebutuhan yang dapat diamati. Empat siswi SMAN 1 Amlapura merancang Tanara-Tanam untuk membantu petani mempertimbangkan kondisi tanah sebelum memilih perawatan; karya itu membawa mereka ke final nasional Lomba Esai Tingkat PIMNAS 6 kategori presentasi di Jakarta. Presentasi dijadwalkan pada 14–15 November, dengan pendampingan guru fisika I Gede Ngurah Dwija Putra. Di Jakarta, empat siswa SMAN 81 meraih juara pertama Samsung Solve for Tomorrow 2026 kategori SMA/SMK/MA lewat Aerospora, pemurni udara berbasis lumut, AI, dan IoT.
Tanara-Tanam: membaca tanah sebelum merawat
Gagasan Tanara-Tanam lahir dari pengamatan ketua tim, Ni Putu Alisa Yadnyani, bahwa banyak petani belum menjadikan kondisi tanah sebagai pertimbangan utama sebelum menentukan perawatan. Aplikasi ini menawarkan AI deteksi tanah melalui cara yang mudah dijangkau: pengguna mengunggah foto tanah lewat telepon genggam, lalu sistem memperkirakan kondisi awal, termasuk pH, dan menyarankan perawatan tanaman. Namun, batasnya perlu dinyatakan jelas. Prediksi memakai ciri visual seperti warna tanah dan belum menggantikan pengukuran dengan alat khusus. Karena itu, nilai teknologi pertanian ini bukan sebagai pengganti uji tanah, melainkan sebagai pintu masuk agar pengguna lebih sadar pada faktor yang kerap diabaikan. Tim juga mengembangkan fitur untuk membantu memilih tanaman dan memantau perawatan, serta mengangkat pemanfaatan limbah kulit pisang, jeruk, nanas, dan mangga. Konsultasi dengan Dinas Pertanian Karangasem turut membantu mereka menyusun pengelompokan tanaman dan nama ilmiah.
Aerospora: lumut, sensor, dan pencegahan
Aerospora menangani masalah berbeda: partikel halus PM2.5 dan kebutuhan akan lebih banyak ruang hijau di kota. Tim Bryotech Alpha mengambil inspirasi dari kemampuan lumut sebagai komponen biofiltrasi, lalu merancang perangkat menyerupai dinding lumut pintar yang dapat ditempatkan di lobi kantor atau area semi-indoor. Sensor memantau PM2.5, suhu, kelembapan udara, dan kelembapan media tanam; mikrokontroler menjalankan model prediksi berbasis TinyML untuk memperkirakan risiko lumut kekeringan dan mengaktifkan penyiraman sebelum kondisi itu terjadi. Pendekatan prediktif ini lebih menarik daripada sekadar menunggu media kering, meski efektivitas pemurnian tetap harus dibuktikan lewat pengujian independen. Tim menargetkan harga Rp 1,2 juta, konsumsi listrik 15–25 watt, dan cakupan ruangan 50–80 meter persegi, tetapi angka itu merupakan sasaran pengembangan, bukan hasil uji independen. Dashboard VERA menampilkan kondisi lingkungan secara waktu nyata dan memakai kembali tablet bekas; chatbot AI-nya juga dirancang untuk membantu pengguna memahami kualitas udara.
Dua konteks, satu pelajaran tentang teknologi
Perbedaan kedua proyek memperjelas bahwa AI bukan solusi seragam. Tanara-Tanam berangkat dari keputusan pertanian di tingkat lahan: pengguna memotret tanah untuk memperoleh gambaran awal dan rekomendasi. Aerospora berangkat dari persoalan kualitas udara perkotaan: lumut, sensor, sistem penyiraman otomatis, dan dashboard bekerja sebagai satu perangkat untuk ruang dalam atau semi-dalam. Keduanya juga menunjukkan bahwa karya siswa tidak lahir dari teknologi semata. Tanara-Tanam tumbuh dari perhatian pada kebiasaan petani, sedangkan Bryotech Alpha melihat peluang menggabungkan penghijauan, fungsi penyaringan, dan keindahan lumut di gedung kota. Tim Aerospora mengaku mempelajari AI dan IoT dari awal, termasuk elektronika dan mikrokontroler, lalu mengulang desain setelah prototipe awal mengalami kebocoran air. Mereka ingin menyempurnakan perangkat agar kelak bisa diterapkan lebih luas. Sementara itu, final Tanara-Tanam pada 14–15 November menjadi kesempatan berikutnya untuk menguji gagasan mereka di hadapan juri.
Nilai inovasi ada pada batas dan pembuktiannya
Kekuatan kedua inovasi siswa ini terletak pada usaha menghubungkan teknologi dengan kebutuhan pengguna, bukan pada klaim bahwa AI dapat menyelesaikan semua persoalan. Tanara-Tanam akan lebih berguna jika perkiraan foto tanah dipahami sebagai petunjuk awal, bukan diagnosis pasti. Aerospora perlu menunjukkan melalui pengujian terukur seberapa efektif lumut dan sistemnya mengurangi PM2.5 pada ruang dengan kondisi berbeda. Sikap kritis itu tidak mengecilkan pencapaian mereka; justru membuat langkah pengembangan berikutnya lebih jelas. Tanara-Tanam membawa pertanyaan praktis tentang akses informasi tanah ke panggung final, sedangkan Aerospora menawarkan rancangan pemurni udara yang memadukan biofiltrasi dan kendali sensor. Jika kedua tim terus menguji, memperbaiki, dan menjelaskan batas produknya, gagasan sekolah ini berpeluang tumbuh menjadi alat yang benar-benar berguna. Kesimpulannya, masa depan teknologi pertanian dan solusi lingkungan tidak hanya ditentukan oleh kecanggihan model, tetapi juga oleh ketepatan masalah, mutu bukti, dan kemudahan penggunaan.






