Temukan minat Anda, bersama

Promo pilihan, ulasan jujur, dan cerita belanja dari mereka yang seminat dengan Anda — setiap hari di Kuybeli.

Temukan minat Anda, bersamaPromo pilihan, ulasan jujur, dan cerita belanja dari mereka yang seminat dengan Anda — setiap hari di Kuybeli.

Dari Atap Limbah hingga Lumut, Siswa Merancang Solusi Lingkungan

Dari Atap Limbah hingga Lumut, Siswa Merancang Solusi Lingkungan
Minat|Solusi Pintar

Inovasi siswa yang berangkat dari masalah nyata

Solusi lingkungan siswa adalah rancangan yang menjawab persoalan sehari-hari dengan pendekatan yang mengurangi dampak terhadap alam sekaligus bisa diuji manfaatnya. Dua karya pelajar terbaru menunjukkan bahwa bahan alami bukan sekadar pelengkap: bila dipadukan dengan rekayasa yang tepat, bahan tersebut dapat menekan panas bangunan atau membantu menyaring udara. Tiga siswa SMP 3 Kudus—Daffa Ahza Pradana, Ewaldo Andra Adriatic, dan Favian Azka Adhyastha—meraih medali emas NASISC 2026 di Malang pada 23–26 Oktober melalui SEJUK, sistem selubung bangunan yang dirancang untuk mengurangi penyerapan panas. Sementara itu, tim Bryotech Alpha dari SMA Negeri 81 Jakarta menjadi juara pertama kategori SMA Samsung Solve for Tomorrow 2026 dengan AeroSpora, filter udara otonom berbasis lumut. Prestasi ini layak dibaca bukan hanya sebagai kemenangan lomba, melainkan sebagai dua eksperimen yang menghubungkan isu iklim dengan kebutuhan penghuni rumah dan ruang kota.

Dari Atap Limbah hingga Lumut, Siswa Merancang Solusi Lingkungan

SEJUK mengubah limbah menjadi inovasi atap

SEJUK menyasar peningkatan suhu lingkungan yang mendorong ketergantungan pada AC—perangkat yang memakai listrik dan ikut menambah emisi karbon. Jawabannya bukan pendingin mekanis tambahan, melainkan atap anti panas dan dinding yang mengandalkan material lokal. Atapnya memakai komposit tanah liat dan biochar dari tempurung kelapa, lalu dilapisi campuran reflektif dari serbuk cangkang telur, abu sekam padi, dan resin damar untuk memantulkan sinar matahari. Dindingnya menggunakan bata komposit tanah liat dan biochar, dengan pelindung alami berbasis minyak biji jarak dan resin damar. Inilah contoh limbah jadi inovasi yang punya tujuan praktis: mengurangi panas sebelum penghuni harus menyalakan AC. Pada pengujian miniatur, suhu rata-rata ruangan turun sekitar 14,8 persen dibanding bangunan konvensional, dan puncak suhu tertunda. Hasil itu menjanjikan, tetapi belum membuktikan kinerja pada bangunan berukuran nyata.

AeroSpora menempatkan lumut sebagai penyaring

Berbeda dari SEJUK yang berfokus pada panas, AeroSpora menyasar kualitas udara dan polusi PM2.5, sekaligus menawarkan alternatif bagi air purifier konvensional yang memakai filter sintetis. Karya Azka, Keanu, Vania, dan Aqeela ini menggunakan lumut Leucobryum glaucum sebagai media penyaring, lalu sensor memantau kondisi udara dan media tanam. Data diproses untuk mengatur penyiraman otomatis melalui sistem misting agar lumut tetap terjaga kelembapannya. Perangkat berukuran 120 x 50 sentimeter ini memakai daya 15–25 watt dan diklaim menjangkau ruang seluas 50–80 meter persegi. Dashboard VERA menampilkan data sensor serta menyediakan chatbot AI untuk membantu masyarakat mencari informasi tentang kesehatan lumut, PM2.5, dan teknologi perangkat. Nilai lebihnya bukan hanya pada filter biologis, melainkan juga pada keterbukaan data. Namun, klaim jangkauan dan kemampuan penyaringan tetap perlu diuji lebih lanjut dalam penggunaan sehari-hari.

Dari Atap Limbah hingga Lumut, Siswa Merancang Solusi Lingkungan

Dua pendekatan, satu tuntutan pembuktian

Perbandingan keduanya memperlihatkan perbedaan sasaran dan skala intervensi. SEJUK bekerja pada selubung bangunan untuk mengurangi panas yang masuk, sedangkan AeroSpora bekerja di dalam ruang untuk membantu menyaring polutan. Keduanya memilih material atau sistem alami dan menambahkan teknologi: SEJUK memadukan pendinginan pasif dengan ventilasi berbasis IoT, sementara AeroSpora menggunakan sensor, penyiraman otomatis, dan dashboard edukasi. Arah ini lebih masuk akal daripada mengandalkan perangkat yang menambah konsumsi energi atau limbah sintetis tanpa mempertimbangkan bahan dan siklus pemakaiannya. Tetapi gagasan berkelanjutan perlu dinilai dari penerapan, bukan hanya niat. SEJUK masih diuji pada miniatur dan membutuhkan dukungan untuk pengembangan skala lebih luas; tim berharap dapat melanjutkan penelitian, termasuk peluang pematenan atau kerja sama dengan investor. Tim AeroSpora juga ingin membawa proyeknya ke berbagai kota. Tahap berikutnya bagi keduanya adalah menunjukkan bahwa kinerja, perawatan, dan kebutuhan sumber dayanya tetap masuk akal di luar arena kompetisi.

Dari Atap Limbah hingga Lumut, Siswa Merancang Solusi Lingkungan

Kuybeli memperoleh komisi saat Anda berbelanja melalui tautan kami, tanpa biaya tambahan untuk Anda.

You May Also Like

Comments
Tulis sesuatu...
Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berbagi pendapat!