Temukan minat Anda, bersama

Promo pilihan, ulasan jujur, dan cerita belanja dari mereka yang seminat dengan Anda — setiap hari di Kuybeli.

Temukan minat Anda, bersamaPromo pilihan, ulasan jujur, dan cerita belanja dari mereka yang seminat dengan Anda — setiap hari di Kuybeli.

39 Perjanjian H20: Lompatan Besar Sertifikasi Halal Global

39 Perjanjian H20: Lompatan Besar Sertifikasi Halal Global
Minat|Asia Tenggara

H20 Summit dan 39 Perjanjian: Bukan Sekadar Seremoni

Sertifikasi halal internasional adalah sistem pengakuan kehalalan produk yang disepakati lintas negara melalui standar, prosedur, dan lembaga resmi, sehingga satu sertifikat dapat diterima secara luas untuk mempermudah perdagangan, melindungi konsumen Muslim, dan memperkuat kepercayaan global pada rantai pasok halal.

Hari pertama The 5th Summit of Halal 20 (H20) melahirkan 39 kerja sama strategis yang secara terang menegaskan ambisi membangun ekosistem jaminan produk halal yang kuat dan diakui global. Ini bukan berita seremonial, tetapi titik balik politik standar halal global. Dari 39 perjanjian itu, 15 berupa Mutual Recognition Agreement (MRA), 4 Memorandum of Understanding (MoU), 19 Perjanjian Kerja Sama (PKS), dan 1 nota kesepahaman. Komposisi ini menunjukkan strategi dua kaki: memperluas pengakuan sertifikasi ke luar negeri sekaligus menguatkan pondasi sumber daya manusia di dalam negeri. Deputi Bidang Kemitraan dan Standardisasi Halal BPJPH, Abd Syakur, menegaskan kerja sama lintas negara dan sektor adalah syarat mutlak untuk penguatan ekosistem halal yang kredibel dan diakui global.

MRA dengan 15 Lembaga: Mesin Utama Ekspansi Pasar Halal

Inti dari H20 summit 2026 adalah 15 MRA yang ditandatangani BPJPH dengan berbagai Halal Certification Bodies (HCBs) internasional. Inilah jantung ekspansi pasar halal, karena MRA menjadi instrumen formal untuk memperkuat pengakuan dan penerimaan sertifikasi halal antarnegara. Ketika satu sertifikat diterima banyak otoritas luar negeri, hambatan administratif menurun dan daya saing pelaku usaha naik drastis. Melalui MRA tersebut, jejaring kelembagaan halal diperluas ke berbagai benua, sekaligus mendukung tata kelola pemastian produk halal dalam perdagangan lintas negara. Dalam konteks standar halal global, langkah ini praktis memposisikan BPJPH sebagai rujukan: alih-alih sekadar mengikuti standar lain, ia kini duduk di meja perundingan sebagai mitra setara yang sertifikatnya disebut secara eksplisit dalam perjanjian mutual recognition.

“Dari 39 kerja sama tersebut, 15 MRA ditandatangani BPJPH dengan Halal Certification Bodies internasional,” kata Abd Syakur, menekankan fokus pada pengakuan sertifikasi halal lintas batas. Pernyataan ini menggarisbawahi bahwa orientasi H20 bukan lagi promosi simbolik, melainkan integrasi regulasi yang konkret. Di sini, sertifikasi halal internasional berubah menjadi infrastruktur perdagangan: ia menentukan seberapa cepat produk menembus pasar baru, seberapa murah biaya kepatuhan, dan seberapa besar kepercayaan konsumen global terhadap label halal.

MoU Global dan PKS Lokal: Menjembatani Regulasi dan Kapasitas SDM

Ekspansi sertifikasi halal tidak akan bertahan lama jika hanya mengandalkan perjanjian di atas kertas. Di sinilah peran 4 MoU internasional dan 19 PKS nasional yang ditandatangani BPJPH menjadi krusial. MoU dengan mitra strategis dari Korea, China, Australia, dan Inggris diarahkan untuk penguatan kolaborasi pengembangan ekosistem halal dan perluasan jejaring internasional. Ini adalah lapisan kedua setelah MRA: kalau MRA menyasar pengakuan sertifikat, MoU menyasar pertukaran pengetahuan, pengembangan industri, dan akses ke jaringan distribusi dan media yang lebih luas. Sementara itu, 19 PKS dengan Lembaga Pelatihan Halal fokus pada penguatan kualitas sumber daya manusia halal di dalam negeri.

Menurut BPJPH, kombinasi MRA, MoU, dan penguatan SDM merupakan bagian dari upaya membangun sistem jaminan produk halal yang kuat, kredibel, dan mendapat pengakuan global. Tanpa pelatihan yang memadai, standar halal global akan berhenti pada dokumen; dengan SDM yang tersertifikasi dan terlatih, standar tersebut menjadi praktik nyata di pabrik, laboratorium, hingga lini distribusi. Di level opini, keberanian mengalokasikan hampir separuh dari keseluruhan kerja sama untuk PKS dan pelatihan menunjukkan kesadaran bahwa ekspansi pasar halal bukan hanya soal diplomasi, tetapi juga kualitas audit, fatwa, dan pengawasan sehari-hari.

Dampak terhadap Sertifikasi Halal Internasional dan Perdagangan Lintas Batas

Jika ditarik ke level sistem, 39 kerja sama strategis di H20 summit 2026 menyusun tiga efek berantai. Pertama, penguatan legitimasi di mata lembaga sertifikasi halal luar negeri melalui 15 MRA, yang secara langsung menambah kepercayaan terhadap standar halal dan membuka pintu ekspansi pasar halal ke lebih banyak wilayah. Kedua, pemadatan jejaring kerja sama dengan otoritas pangan, perusahaan, dan kanal media luar negeri melalui MoU, yang pada praktiknya akan memudahkan promosi produk bersertifikat dan dialog regulasi. Ketiga, penguatan SDM melalui 19 PKS yang memastikan bahwa kualitas audit dan pengawasan halal tetap sejalan dengan reputasi yang sedang dibangun.

Kerja sama ini juga diarahkan untuk mendukung tata kelola pemastian produk halal dalam perdagangan lintas negara. Artinya, sertifikasi halal tidak lagi berdiri sebagai label domestik, tetapi menjadi paspor regulasi yang diakui di banyak yurisdiksi. Dari sudut pandang strategi, langkah ini memperkuat posisi sebagai salah satu pemimpin diskursus sertifikasi halal global: semakin banyak lembaga internasional menerima standar tertentu, semakin besar perannya dalam membentuk norma ke depan. Tantangannya kini bukan lagi soal akses, tetapi konsistensi implementasi dan kesiapan pelaku usaha memanfaatkan peluang yang sudah dibuka perjanjian-perjanjian ini.

Kuybeli memperoleh komisi saat Anda berbelanja melalui tautan kami, tanpa biaya tambahan untuk Anda.

You May Also Like

Comments
Tulis sesuatu...
Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berbagi pendapat!