Temukan minat Anda, bersama

Promo pilihan, ulasan jujur, dan cerita belanja dari mereka yang seminat dengan Anda — setiap hari di Kuybeli.

Temukan minat Anda, bersamaPromo pilihan, ulasan jujur, dan cerita belanja dari mereka yang seminat dengan Anda — setiap hari di Kuybeli.

Delegasi Parlemen Dorong Kerja Sama Museum: Digital dan Berkelanjutan

Delegasi Parlemen Dorong Kerja Sama Museum: Digital dan Berkelanjutan
Minat|Australia & Selandia Baru

Kunjungan Parlemen yang Menandai Babak Baru Kerja Sama Museum

Kerja sama museum Indonesia Australia adalah upaya terencana untuk saling bertukar pengetahuan, model pendanaan, teknologi digital, dan tata kelola galeri seni agar lembaga budaya di kedua negara menjadi lebih berkelanjutan, inklusif, dan mudah diakses publik luas, terutama generasi muda yang semakin akrab dengan dunia digital. Inisiatif ini tidak lahir dari ruang hampa. Wakil Ketua MPR Edhie Baskoro Yudhoyono memimpin delegasi parlemen dalam kunjungan kerja ke National Gallery of Australia di Canberra pada Jumat, 16 Oktober 2026, untuk mempelajari praktik pengelolaan koleksi, keamanan karya, dan strategi literasi budaya bagi generasi muda. Kunjungan ini sejak awal dimaknai sebagai langkah diplomasi yang konkret, bukan sekadar seremoni, untuk mendorong kerja sama museum Indonesia Australia yang lebih terarah dan berdampak.

Pendanaan Museum Berkelanjutan: Dari Proyek Fisik ke Ekosistem Hidup

Pesan paling tajam dari kunjungan ini adalah kritik terhadap pola lama: museum selesai dibangun, lalu dibiarkan bertahan sendiri. Ibas menekankan bahwa operasional museum dan galeri seni tidak boleh berhenti setelah proses pembangunan fisik selesai; pembiayaan jangka panjang dibutuhkan untuk konservasi, perawatan fasilitas, penelitian, dan peningkatan kapasitas SDM. Di sinilah gagasan pendanaan museum berkelanjutan menjadi kunci. Ia mendorong formulasi pendanaan yang fleksibel melalui kombinasi anggaran pemerintah, kemitraan swasta yang bertanggung jawab, dan dukungan regulasi yang kokoh agar pengembangan museum tidak hanya berpusat di kota-kota besar. Artinya, museum harus dipandang sebagai ekosistem hidup yang terus diberi nutrisi, bukan monumen yang hanya dipotret saat peresmian.

Digitalisasi Koleksi Seni: Jalan Pintas ke Generasi Z dan Milenial

Jika pendanaan adalah bensin, maka digitalisasi koleksi seni adalah kemudi yang menentukan arah museum ke depan. Ibas menggarisbawahi bahwa museum harus bertransformasi menjadi ruang belajar interaktif bagi Generasi Z dan milenial, bukan gudang benda antik yang sunyi. Pemanfaatan teknologi digital seperti pameran virtual dan katalogisasi modern dinilai ampuh memperluas jangkauan edukasi wastra Nusantara dan karya seni rupa lokal. Di sinilah kerja sama museum Indonesia Australia menjadi strategis: National Gallery of Australia mengelola 155.000 karya seni dengan sistem manajemen koleksi yang terstruktur. Pengalaman tersebut dapat diterjemahkan menjadi standar baru digitalisasi di tanah air, dari dokumentasi yang rapi hingga akses daring yang ramah pengguna, sehingga publik tidak lagi bergantung pada kunjungan fisik untuk menikmati dan mempelajari koleksi.

Tata Kelola Galeri Seni yang Inklusif: Belajar dari Praktik Australia

Dimensi lain yang tak kalah penting adalah tata kelola galeri seni. Ibas menilai penguatan tata kelola diperlukan agar museum tidak hanya berfungsi sebagai tempat penyimpanan koleksi, tetapi juga sebagai sarana pendidikan dan pelestarian budaya. Salah satu aspek yang ia soroti dari National Gallery of Australia adalah sistem pengelolaan koleksi: proses kurasi, perlindungan karya seni, dokumentasi, dan pengelolaan risiko menjadi bagian penting dalam operasional museum. Menurutnya, pengalaman bagaimana sebuah galeri nasional mengelola koleksi, mengembangkan pameran, dan membangun kerja sama dengan berbagai institusi di dunia penting sebagai bahan pembelajaran bagi pengembangan museum dan galeri di tanah air. Intinya, tata kelola galeri seni yang inklusif berarti membuka ruang bagi berbagai komunitas, daerah, dan bentuk ekspresi budaya, bukan hanya arus utama.

Kerja Sama Internasional sebagai Strategi, Bukan Ornamen Diplomasi

Inisiatif ini jelas menempatkan kerja sama internasional sebagai strategi kebudayaan, bukan sekadar ornamen diplomasi. Ibas menegaskan tanggung jawab parlemen untuk memastikan diplomasi antara kedua negara berjalan kuat melalui kerja sama, kolaborasi, dan pertukaran gagasan yang terus berkembang. Menurutnya, kerja sama kedua negara dapat diperluas melalui pertukaran pengetahuan dan pengalaman dalam mengelola museum. Wakil Direktur Collection Management & Art Services National Gallery of Australia, Dr. Renée Joyce, bahkan menyambut terbuka peluang pertukaran pengetahuan dan kolaborasi budaya dalam pengelolaan 155.000 karya seni yang mereka ampu. Jika tiga pilar—pendanaan museum berkelanjutan, digitalisasi koleksi seni, dan tata kelola galeri seni yang inklusif—benar-benar diterapkan, maka kunjungan ini bisa menjadi titik balik: museum berubah dari ruang sepi menjadi ruang publik yang hidup, relevan, dan setara di panggung global.

Kuybeli memperoleh komisi saat Anda berbelanja melalui tautan kami, tanpa biaya tambahan untuk Anda.

You May Also Like

Comments
Tulis sesuatu...
Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berbagi pendapat!