Langkah Berani Sumatera Barat: Menjadikan Diplomasi Sebagai Motor Ekonomi
Usulan Pemerintah Provinsi Sumatera Barat untuk menjadi tuan rumah Indian Ocean High-Level Forum 2027 adalah langkah diplomasi regional yang dimaksudkan untuk mengaitkan posisi geografis Sumbar yang menghadap langsung ke Samudra Hindia dengan upaya menarik investasi, memperkuat perdagangan internasional, dan membuka jejaring kerja sama konkret dengan negara-negara di kawasan tersebut. Langkah ini patut dibaca bukan sebagai seremoni, melainkan strategi menempatkan daerah sebagai pemain aktif dalam forum samudra hindia yang selama ini lebih banyak dipersepsikan sebagai ranah kebijakan pusat. Dengan mendorong forum tingkat tinggi digelar di Padang, Sumbar sedang mengirim pesan: diplomasi tidak boleh berhenti di ibu kota; ia harus menyentuh pelabuhan, kampus, dan pelaku usaha lokal. Sikap berani ini layak diapresiasi, tetapi juga perlu dikawal agar tidak berhenti pada slogan tema “One Ocean, Boundless Opportunities — Satu Samudra, Peluang Tanpa Batas.”
Forum Samudra Hindia Sebagai Panggung Diplomasi Regional dari Daerah
Gubernur Mahyeldi menawarkan gagasan agar Indian Ocean High-Level Forum tidak sekadar konferensi, melainkan international platform yang mempertemukan pemerintah, pemerintah daerah, dunia usaha, investor, akademisi, organisasi internasional, komunitas, dan masyarakat untuk membangun kerja sama konkret. Di sinilah ambisi diplomasi regional muncul: Sumbar ingin memosisikan diri sebagai bagian dari jejaring strategis kerja sama kawasan Samudra Hindia, bukan penonton yang pasif. Menurut Mahyeldi, fokus forum diarahkan pada tata kelola laut, ekonomi biru, keberlanjutan lingkungan, konektivitas dan perdagangan, serta kemitraan antardaerah dan antarnegara. Sikap ini menantang pola lama diplomasi regional Asia Tenggara yang sering kali top-down dan tertutup bagi pemerintah daerah. Jika usulan ini dikabulkan, forum di Padang berpotensi menjadi preseden penting: daerah menjadi simpul negosiasi dan kolaborasi, bukan sekadar venue acara.
Posisi Geografis dan Konektivitas Perdagangan Internasional: Modal Yang Harus Diaktualkan
Mahyeldi menegaskan, usulan menjadi tuan rumah didasarkan pada posisi strategis Sumbar di pantai barat dan berhadapan langsung dengan Samudra Hindia, yang menjadi modal penting untuk membangun kerja sama kawasan. Secara historis, garis pantai ini adalah gerbang perdagangan dan migrasi; kini Pemprov berupaya mengaktualkannya lewat forum samudra hindia sebagai penguatan konektivitas perdagangan internasional. Namun modal geografis tidak otomatis bertransformasi menjadi peluang ekonomi tanpa kesiapan ekosistem: pelabuhan, regulasi ramah investasi, kapasitas SDM, hingga kesiapan sektor pariwisata dan ekonomi biru. Di sinilah tantangan terbesar: apakah sumatera barat infrastruktur logistik dan maritim siap menjawab ekspektasi investor dan mitra dagang yang datang ke forum? Mengundang dunia ke Padang tanpa menyiapkan jalur keluar-masuk barang dan ide akan membuat kesempatan emas ini berakhir sebagai festival diplomasi tanpa dampak nyata.
Dari Dialog ke Aksi: Peluang Bagi Warga dan Dunia Usaha
Pemprov Sumbar dengan tegas menyatakan tidak ingin forum ini berhenti sebagai kegiatan internasional tanpa tindak lanjut, tetapi menjadi momentum jejaring ekonomi dan pembangunan yang menyentuh masyarakat. Mahyeldi berharap forum mampu mengubah dialog menjadi aksi melalui kolaborasi investasi, perdagangan, business matching, pengembangan ekonomi biru, pariwisata, pendidikan, kebudayaan, inovasi, hingga konektivitas maritim. Bagi pelaku usaha lokal, ini berarti peluang bertemu langsung dengan investor dan mitra dagang dari negara-negara rim Samudra Hindia; bagi kampus dan komunitas, kesempatan membangun riset bersama dan program pertukaran. Tantangannya, pemerintah daerah harus membangun mekanisme tindak lanjut yang konkret: daftar proyek siap kerja, fasilitasi match-making yang serius, dan transparansi manfaat bagi UMKM serta masyarakat pesisir. Tanpa itu, forum berisiko menjadi panggung elitis yang manfaatnya hanya dirasakan segelintir aktor besar.
Peran Kementerian Luar Negeri dan Agenda Jangka Menengah
Direktur Jenderal Asia Pasifik dan Afrika, Santo Darmosumarto, menyampaikan apresiasi atas inisiatif Pemprov Sumbar dan menyatakan Kementerian Luar Negeri siap mendukung berbagai gagasan kerja sama dengan negara-negara kawasan Samudra Hindia. Ia mengungkapkan bahwa pada 2027 Kementerian akan memulai workshop pengembangan kemitraan IORA, terutama di bidang pariwisata, penanggulangan bencana, dan ekonomi biru, serta mendukung forum kerja sama antarpimpinan pemerintah daerah di kawasan Indian Ocean. Dukungan ini penting, karena menegaskan bahwa diplomasi daerah tidak berjalan sendiri, tetapi menjadi bagian dari strategi nasional memperkuat posisi sebagai regional convener di IORA. Namun dukungan pusat juga harus diikuti komitmen anggaran, sinkronisasi kebijakan, dan keberanian berbagi panggung dengan daerah. Kolaborasi sehat antara pusat dan Sumbar dalam forum ini bisa menjadi model baru diplomasi yang lebih terbuka dan inklusif.
Kesimpulan: Momentum yang Patut Dikawal Bersama
Usulan Sumatera Barat menjadi tuan rumah Indian Ocean High-Level Forum adalah momentum penting menempatkan daerah sebagai aktor diplomasi sekaligus akselerator ekonomi berbasis laut dan perdagangan internasional. Dengan mengandalkan posisi geografis yang berhadapan langsung dengan Samudra Hindia, Sumbar ingin menjadikan forum samudra hindia sebagai pintu masuk investasi, kolaborasi akademik, dan penguatan konektivitas perdagangan internasional. Ambisi itu sehat, tetapi keberhasilannya ditentukan oleh kesiapan internal: perbaikan tata kelola, penguatan kapasitas pelaku lokal, dan keseriusan mengubah hasil forum menjadi program nyata bagi masyarakat. Karena itu, langkah Pemprov layak didukung, sekaligus dikritisi secara konstruktif. Jika forum ini terwujud dan dijalankan dengan orientasi aksi, Sumbar berpeluang naik kelas dari daerah pesisir menjadi simpul penting jaringan ekonomi Samudra Hindia.






