Penanaman Lima Juta Pohon: Rewilding Sebagai Jantung Pembangunan IKN
Program penanaman pohon Borneo di kawasan Ibu Kota Nusantara adalah inisiatif restorasi ekosistem yang menggabungkan pembangunan kota baru dengan reforestasi ekosistem, melalui penanaman jutaan pohon secara berkala, pelibatan ribuan orang, dan perawatan berkelanjutan agar lanskap yang gersang kembali menyerupai hutan tropis alaminya. Otorita IKN menyebut lebih dari 5 juta pohon telah ditanam di kawasan IKN sejak 2025 sebagai bagian dari upaya menghijaukan wilayah inti pemerintahan baru. Ini bukan sekadar proyek penghijauan kosmetik, melainkan strategi jangka panjang: kota dibangun dengan kerangka konservasi lingkungan, bukan menempelkan ruang hijau di akhir. Penanaman pohon dilakukan setiap dua minggu dengan melibatkan sekitar 1.100 orang, menunjukkan bahwa restorasi diposisikan sebagai rutinitas terstruktur, bukan seremoni sesaat. Dalam konteks Borneo yang lama terfragmentasi akibat ekspansi lahan dan kebakaran, langkah ini patut dibaca sebagai koreksi arah: pembangunan yang tumbuh dari hutan, bukan menggantikan hutan.
Skala Implementasi dan Rekor Muri: Antara Simbol dan Substansi
Puncak simbolik dari program restorasi IKN terlihat ketika aksi penanaman pohon di Daerah Aliran Sungai Sanggai mencatat rekor Muri pohon terbanyak di taman kota dalam satu waktu. Lebih dari 2.000 bibit berbagai jenis pohon ditanam di sepanjang DAS Sanggai, melampaui target awal 1.780 bibit. Kutipan yang layak disorot di sini: "Rekor ini dibuat untuk dipecahkan. Mari kota-kota lain menanam lebih banyak pohon untuk menjaga kelestarian alam kita," ujar Deputi Bidang Lingkungan Hidup OIKN Myrna Asnawati Safitri. Rekor ini penting, tetapi yang lebih menentukan adalah pola berulang: Otorita IKN menanam pohon setiap dua pekan, dengan tiap sesi melibatkan sekitar 1.100 orang penanam. Artinya, pemecahan rekor hanya satu titik dalam proses panjang mengganti alang-alang dan lahan gersang dengan tegakan belangeran, ulin, meranti, bangkirai, hingga pohon buah seperti durian dan lai. Jika rekor berhenti sebagai trofi, inisiatif ini akan dangkal. Namun bila dijadikan pemicu kompetisi hijau antar kota, rekor dapat menjadi alat politik lingkungan yang kuat.
Rewilding Borneo: Dari Alang-Alang ke Hutan Tropis
Inti ide reforestasi ekosistem di IKN adalah rewilding—mengembalikan lanskap agar serupa dengan kondisi alaminya, bukan sekadar menambah pepohonan dekoratif. Kepala Otorita IKN Basuki Hadimuljono merujuk pengalaman kawasan di Borneo yang 15 tahun lalu masih kering dan didominasi alang-alang, tetapi kini telah berubah menjadi hutan tropis. Kutipan kuncinya: "Dulu 15 tahun yang lalu, itu lebih jahat dari sini. Gersang, alang-alang. Tapi sekarang sudah jadi hutan tropis. Nah, ini mudah-mudahan 15 tahun lagi sudah hijau, makanya kami rewilding itu." Pernyataan ini menggarisbawahi horizon waktu: program restorasi IKN bukan proyek tahunan, melainkan komitmen lintas dekade. Menanam belangeran, ulin, meranti hingga bangkirai berarti merancang kanopi hutan masa depan, bukan sekadar menyiapkan teduh jangka pendek. Di sini, IKN menjadi laboratorium konservasi lingkungan: apakah kota yang tengah dibangun bisa sekaligus memperbaiki kerusakan historis di Borneo? Jawabannya bergantung pada konsistensi rewilding, bukan pada jumlah bibit di daftar rekor.
Keterlibatan Komunitas dan Tantangan Perawatan
Program penanaman pohon Borneo di IKN sengaja didesain sebagai kerja kolektif, bukan pekerjaan eksklusif aparat. Dalam aksi pemecahan rekor di DAS Sanggai, 2.308 peserta resmi terdaftar; mereka mencakup pejabat Otorita, pemerintah daerah sekitar, perwakilan kementerian/lembaga, perguruan tinggi, masyarakat, pelajar, hingga TNI–Polri. Massa penanam menyebar hampir satu kilometer di kedua sisi sungai, turun ke lereng bantaran untuk menanam di lubang yang sudah disiapkan. Namun penanaman hanyalah awal. Otorita IKN bekerja sama dengan Asosiasi Petani Ibu Kota (APIK) untuk merawat pohon-pohon yang sudah tertanam dan menyiapkan unit kerja khusus untuk pengecekan tanaman. Di sisi lain, cuaca ekstrem dan fenomena El Nino memaksa penyesuaian: penyiraman yang sebelumnya setiap hari dikurangi menjadi dua hingga tiga hari sekali sebagai bentuk penghematan air. Di titik ini, kelemahan terbesar program bukan pada jumlah pohon, melainkan pada daya tahan perawatan. Jika komunitas lokal tidak merasa memiliki, jutaan bibit dapat berakhir sebagai angka di laporan, bukan menjadi kanopi hidup.
IKN sebagai Kota Hutan: Peluang dan Risiko Jangka Panjang
Reforestasi ekosistem melalui program restorasi IKN jelas memberi peluang menjadikan IKN sebagai prototipe kota hutan: ruang urban yang bertumbuh di dalam jaringan vegetasi dan sungai yang dipulihkan. Penanaman pohon dilakukan secara berkala sebagai bagian integral dari pembangunan, bukan tambahan kosmetik. Di akhir salah satu aksi hijau, Deputi Bidang Lingkungan Hidup Myrna Safitri kembali mengajak peserta untuk terus menjaga kelestarian lingkungan, menutup dengan ajakan "fastabiqul khairat"—berlomba dalam kebaikan. Basuki secara terang menyatakan bahwa mereka ingin menjadikan kegiatan menanam pohon sebagai gaya hidup, bukan hanya ritual peringatan hari besar. Namun ambisi ini membawa risiko: bila pembangunan fisik kota melaju tanpa disiplin ekologis yang sama kuatnya, rewilding bisa tergeser oleh beton dan aspal. Konklusinya, lima juta pohon hanyalah titik awal. Keberhasilan konservasi lingkungan di Borneo akan ditentukan oleh apakah komitmen lingkungan jangka panjang ini mampu mengendalikan arah pembangunan, bukan sekadar menghiasnya.






