Debut yang membawa perspektif produser
Juri Asian Future adalah panel penilai yang memilih film terbaik dari program Tokyo Film Festival untuk mendukung sineas Asia yang masih berada di tahap awal karier panjang mereka. Produser Yulia Evina Bhara untuk pertama kalinya bergabung sebagai juri dalam program tersebut di Tokyo International Film Festival 2026; ia menyampaikan pandangannya pada acara karpet merah festival, Senin, 26 Oktober, waktu setempat. Penunjukan ini terasa berarti bukan semata karena menambah nama Indonesia di meja juri, melainkan karena Yulia datang sebagai produser yang telah lama terlibat dalam sirkuit festival. Ia akan menilai 10 film bersama produser Eiko Mizuno-Gray dan sutradara Fujimoto Akio dari Jepang. Pengalaman produksi dapat memperkaya penilaian: bukan hanya apakah sebuah film selesai dengan kuat, tetapi juga apakah suara pembuatnya menjanjikan perjalanan berikutnya.
Asian Future sebagai ruang bagi suara baru
Nilai utama Asian Future terletak pada fokusnya terhadap pembuat film yang belum mapan. Program ini telah hadir sejak TIFF ke-26 pada 2013 dan ditujukan bagi sineas muda serta berkembang di Asia yang baru membuat satu hingga tiga film panjang. Dengan batas pengalaman seperti itu, program ini bukan sekadar kompetisi tambahan: ia memberi perhatian pada karya yang berpotensi menandai arah sinema mendatang. Yulia menyebut seleksi tahun ini kuat dan memandang program tersebut sebagai tempat bagi suara serta talenta yang kelak menjadi masa depan sinema Asia. Penilaian itu tepat sasaran. Festival penting bukan hanya karena mengumumkan pemenang, tetapi juga karena mengarahkan perhatian penonton dan industri kepada pembuat film yang belum memiliki reputasi luas.
Sepuluh film, satu penghargaan utama
Sepuluh film bersaing di Asian Future tahun ini, dengan konflik dan rekonsiliasi dalam keluarga sebagai salah satu tema yang muncul. Salah satu peserta adalah Desember Jani (Jani Be Good), karya sutradara Indonesia Ariani Darmawan. Film terbaik akan menerima Asian Future Best Film Award. Kehadiran film tersebut memberi perhatian khusus pada keterlibatan pembuat film Indonesia, tetapi arti program ini tidak semestinya diukur dari asal satu judul atau hasil penghargaan saja. Ragam karya dalam satu seleksi dapat memperlihatkan bagaimana sineas baru mengolah pengalaman pribadi dan sosial menjadi bahasa sinema. Bagi penonton, penghargaan adalah penanda; bagi pembuat film, kesempatan untuk ditonton dan dibicarakan bisa sama pentingnya.
Keterlibatan yang melampaui ruang juri
Meski baru kali ini menjadi juri, Yulia telah lama memiliki hubungan dengan Tokyo Film Festival. Film produksi KawanKawan Media, termasuk The Science of Fictions karya Yosep Anggi Noen, pernah ditayangkan di festival tersebut pada 2019. Tahun ini, ia juga mengikuti TIFFCOM, pasar bisnis konten audiovisual yang berlangsung bersamaan dengan festival, untuk mencari mitra bagi The Land of Jinn, film panjang kedua sutradara Kevin Rahardjo. Proyek produksi bersama Indonesia dan Kirgizstan itu masih dalam tahap pascaproduksi. Langkah ini memperlihatkan bahwa peran produser di festival tidak berhenti pada penilaian artistik: jejaring dan kemitraan dapat membantu proyek menemukan dukungan lanjutan. Debut Yulia sebagai juri karena itu terasa selaras dengan kerja panjangnya menghubungkan film dan peluang produksinya.






