Peta film Indonesia di TIFF
Film Indonesia TIFF adalah karya-karya dari sineas Indonesia yang berpartisipasi dalam program-program Tokyo International Film Festival, mulai dari kompetisi hingga kurasi regional. Pada edisi ke-39, enam film Indonesia hadir di festival yang berlangsung 26 Oktober–4 November 2026; sebaran kategorinya membuat kehadiran ini lebih menarik daripada sekadar parade judul. TIFF mengusung tema “Connecting — Cinema Connects Us to the World Beyond”, tentang kemampuan sinema menghubungkan orang lintas budaya, keyakinan, gender, dan latar sosial. Tema itu terasa selaras dengan pilihan film yang bergerak dari sejarah perjuangan hingga pengalaman keluarga dan keterasingan. Bagi penonton, susunan program ini menawarkan cara membaca sinema Indonesia melalui beragam suara dan generasi. Namun, satu hal paling menonjol ialah pertemuan Garin Nugroho dan Kamila Andini di kategori berbeda: bukan pengulangan gaya keluarga, melainkan dua jalur karya yang berdiri sendiri.

Kompetisi: sejarah dan suara baru
Di Main Competition, Merah Sebelum Fajar karya Garin Nugroho menjadi satu-satunya wakil Indonesia, bersaing dengan 14 film lain. Berlatar 1946, film ini mengikuti geolog muda Frans (Nicholas Saputra) dalam perjalanan dari Sumatra menuju Yogyakarta untuk mengantar dokumen penyelidikan. Bersama empat orang dari latar berbeda, ia menghadapi kecurigaan di antara sesama pejuang—pilihan konflik yang mengingatkan bahwa persatuan setelah kemerdekaan bukan keadaan yang otomatis tercipta. Film Garin Nugroho dijadwalkan tayang perdana 27 Oktober, lalu diputar kembali pada 30 Oktober dan 3 November. Jajaran pemainnya mencakup Nicholas Saputra, Laura Basuki, Bront Palarae, Tissa Biani, dan Nagra Pakusadewo. Sementara itu, Desember Jani karya Ariani Darmawan masuk Asian Future Competition, program untuk film panjang pertama atau kedua sutradara Asia. Kisah Jani yang berusia 13 tahun menelusuri ketegangan tiga generasi perempuan. Penempatan ini memberi ruang bagi debut panjang Ariani berdampingan dengan karya pembuat mapan.
CROSSCUT ASIA+ dan lintas generasi
Dua judul dalam CROSSCUT ASIA+ memperlebar peta: Empat Musim Pertiwi karya Kamila Andini dan Turang, film Bachtiar Siagian dari 1957. Program kolaborasi TIFF dan Japan Foundation ini memilih film melalui kurasi programmer Asia Tenggara dan Jepang. Film Kamila Andini melakukan pemutaran perdana di Jepang; ceritanya mengikuti Pertiwi, yang pulang ke kampung setelah menjalani hukuman panjang dan mencoba membangun hidup di tengah warga yang juga tersisih. Putri Marino, Arya Saloka, dan Christine Hakim membintangi film tersebut. Turang memberi dimensi sejarah yang berbeda: karya ini pernah meraih Film Terbaik dalam Pekan Apresiasi Film Nasional pada 1960, ajang yang menjadi cikal bakal Festival Film Indonesia. Di Tokyo, film itu diputar pada 26 dan 30 Oktober di TOHO Cinemas Chanter. Kehadiran karya lintas masa ini membuat CROSSCUT ASIA+ lebih dari etalase film baru; ia juga membuka percakapan tentang warisan sinema.
Nilai kehadiran yang lebih luas
Enam film Indonesia di TIFF tidak bergerak dalam satu nada, dan justru itulah kekuatannya. Main Competition memberi panggung internasional pada tafsir Garin atas masa awal kemerdekaan; Asian Future memperkenalkan debut panjang Ariani melalui dinamika keluarga; CROSSCUT ASIA+ mempertemukan film Kamila dengan karya klasik Turang. Tiga jalur ini menunjukkan bahwa partisipasi festival bukan hanya soal satu film yang mengejar penghargaan, tetapi juga tentang keluasan cerita dan kesinambungan sejarah perfilman. Hubungan ayah-anak antara Garin dan Kamila menarik sebagai sorotan, tetapi sebaiknya tidak menutupi perbedaan perspektif serta kategori yang mereka tempati. Bagi penonton yang mengikuti film Indonesia TIFF, susunan ini memberi alasan untuk melihat lebih dari satu judul. Kesimpulannya, kehadiran enam film tersebut paling berarti sebagai peta sinema yang beragam: berani menengok sejarah, memberi tempat pada suara baru, dan menjaga dialog lintas generasi.






