Panggung sastra yang seharusnya berkelanjutan
Program 1001 Plus Puisi adalah inisiatif sekolah yang membuka ruang bagi pelajar untuk menulis, membacakan, dan mengembangkan puisi sebagai bagian dari pengalaman belajar dan kehidupan budaya. SMPN 1 Kalianget, Sumenep, meluncurkan program ini pada Jumat, 30 Oktober 2026, sebagai dukungan bagi karya sastra pelajar di wilayah ujung timur Madura.
Langkah ini patut diapresiasi karena karya sastra siswa terlalu sering berhenti di buku tugas, tanpa kesempatan untuk didengar atau ditanggapi. Kepala sekolah Marsuto mengatakan sekolah ingin memberi panggung agar puisi generasi muda tampil dan diapresiasi. Pembacaan puisi dan penampilan seni dalam peluncuran yang bertepatan dengan Hari Jadi Ke-757 Kabupaten Sumenep memberi siswa pengalaman tampil di hadapan publik. Namun ukuran keberhasilan program bukan meriahnya peluncuran, melainkan apakah anak-anak mendapat ruang menulis, berlatih, dan membacakan karya secara rutin.

Puisi pelajar sebagai latihan bersuara
Puisi memberi pelajar cara untuk menyampaikan gagasan dengan suara mereka sendiri. Saat siswa menulis dan membacakan puisi, mereka bukan hanya belajar memilih kata, tetapi juga berlatih menyusun pikiran, mengenali perasaan, dan tampil percaya diri. Dalam peluncuran program, para pelajar membacakan puisi dengan penuh percaya diri. Kesempatan seperti ini membuat program literasi sekolah terasa dekat dengan kehidupan siswa, bukan sekadar kegiatan membaca yang terpisah dari pengalaman mereka.
Nilai program akan bertambah jika sekolah memberi ruang bagi beragam suara dan pengalaman, bukan hanya memilih karya yang terdengar sempurna. Bagi anak-anak, proses mencoba, menerima tanggapan, lalu memperbaiki puisi sama pentingnya dengan penampilan di panggung. Dengan begitu, dukungan terhadap karya sastra siswa menjadi praktik yang nyata: bakat dikenali, keberanian tumbuh, dan sastra lokal terus hidup melalui generasi berikutnya.

Kerukunan yang tumbuh lewat kata
Kekuatan lain program ini ialah menjadikan puisi medium untuk membicarakan persahabatan, toleransi, saling menghormati, dan kerukunan. Dalam acara tersebut, Bupati Sumenep Achmad Fauzi Wongsojudo membacakan puisinya, “Rukun dengan Teman”, dengan pesan tentang nilai-nilai itu dalam kehidupan sehari-hari. Pilihan tema yang dekat dengan keseharian pelajar membuat pesan sosial lebih mudah direnungkan daripada nasihat yang hanya disampaikan sebagai aturan.
Puisi tidak otomatis menghapus perbedaan atau menyelesaikan konflik. Namun, ia dapat mengajak siswa melihat pengalaman orang lain dan mencari bahasa untuk berbicara dengan hormat. Menurut Fauzi, puisi membantu anak menyampaikan gagasan, mengasah kepekaan, serta memahami persahabatan dan toleransi. Jika sekolah memberi ruang bagi percakapan setelah pembacaan, karya-karya itu dapat menjadi awal dialog dan memperkuat rasa kebersamaan di lingkungan belajar.
Dari peluncuran menuju pembinaan sastrawan muda
Harapan berikutnya ialah menjaga 1001 Plus Puisi tetap berjalan setelah acara peresmian. Marsuto berharap program menjadi agenda berkelanjutan yang melahirkan penyair muda dari Sumenep, dan sekolah menyatakan siap membina serta mengarahkan mereka menjadi sastrawan. Komitmen itu penting, sebab bakat berkembang lewat kebiasaan dan bimbingan, bukan semata-mata kesempatan tampil sekali.
Sekolah dapat menjaga semangat ini dengan menyediakan waktu berkarya, pendampingan guru, sesi pembacaan, dan apresiasi yang mendorong siswa terus mencoba. Bila konsisten, puisi pelajar dapat tumbuh dari tugas kelas menjadi karya yang dibagikan dan dirayakan. Program ini layak dipandang sebagai awal ekosistem literasi yang lebih luas: tempat sastra lokal, kreativitas, dan nilai kerukunan berkembang bersama. Panggung telah dibuka; tantangannya kini memastikan setiap pelajar punya kesempatan untuk mengisinya.






