Literasi yang memberi ruang untuk berkarya
Festival literasi pelajar adalah rangkaian kegiatan yang mengajak siswa mengolah gagasan melalui media kreatif, penampilan sastra, dan latihan menulis. Nilainya bukan semata-mata terletak pada siapa yang menang, melainkan pada kesempatan untuk mencoba, menerima masukan, dan menemukan cara bercerita yang khas. Dua kegiatan dengan pendekatan berbeda memperlihatkan keluasan ruang itu: FILOSOVI di Kotamobagu mengandalkan video, sedangkan OKBAFEST di Kudus memadukan puisi, monolog, dan lokakarya. Keduanya menunjukkan bahwa literasi tak harus berhenti pada halaman buku. Ketika pelajar diberi panggung untuk berkarya, membaca dan menulis dapat bertemu dengan gambar, suara, serta keberanian tampil di depan orang lain.
Gagasan tersebut terasa kuat karena lomba literasi pelajar dirancang agar dekat dengan minat dan kemampuan peserta. Namun, format yang menarik tetap perlu ditopang isi yang matang. Video yang memikat tanpa gagasan orisinal mudah kehilangan jejak personal; pembacaan puisi dan monolog pun membutuhkan penghayatan, bukan sekadar hafalan. Festival semacam ini paling bermanfaat ketika kompetisi berjalan bersama proses belajar.
FILOSOVI menguji gagasan di balik kamera
Festival Lomba Sastra, Video, dan Literasi (FILOSOVI) 2026 yang diselenggarakan MAN 1 Kotamobagu menghadirkan lomba video literasi untuk pelajar SMA, SMK, dan MA se-Kota Kotamobagu. Dalam tim beranggotakan dua siswa kelas X atau XI, peserta membuat video berdurasi 2–3 menit tentang literasi baca-tulis, digital, budaya, lingkungan, atau finansial. SMA Katolik Theodorus meraih juara pertama, disusul SMAN 2 Kotamobagu dan SMK Muhammadiyah. Pengumuman serta penyerahan hadiah berlangsung pada 23 Oktober 2026 di lapangan upacara MAN 1 Kotamobagu plus Keterampilan dan Riset.
Kekuatan lomba video literasi ini terletak pada tuntutan untuk menyatukan pesan edukatif dengan keterampilan audiovisual. Juri Iswahyudi Masloman dan Mahmud Mokoginta menilai kesesuaian tema, kedalaman pesan, kreativitas, orisinalitas, nilai edukasi, teknik produksi, dan kepatuhan pada ketentuan. Menurut Iswahyudi, kualitas karya peserta secara umum melampaui ekspektasi, tetapi beberapa video kehilangan mutu penyajian setelah pembukaan yang menjanjikan. Ada pula karya dengan penceritaan dan penyuntingan baik, namun masih mengandalkan banyak potongan video yang tidak orisinal. Latar yang warnanya terlalu mirip dengan penampil juga dapat melemahkan komposisi. Catatan ini tepat: teknik bisa menarik perhatian, tetapi gagasan dan materi ciptaan sendiri yang memberi karya identitas.

OKBAFEST menyatukan panggung dan proses menulis
Di Kudus, Program Studi Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia Universitas Muria Kudus menggelar Oktober Bahasa Festival (OKBAFEST) 2026 pada 28 Oktober di Aula Masjid Darul 'Ilmi UMK untuk memperingati Bulan Bahasa. Programnya menggabungkan workshop penulisan antologi puisi bagi mahasiswa baru semester satu dengan lomba baca puisi untuk pelajar SMP dan monolog bagi pelajar SMA se-Kabupaten Kudus. Peserta lomba lebih dahulu mengirimkan video penampilan untuk seleksi daring; tiga finalis dari setiap kategori kemudian tampil di babak final pada hari festival.
Workshop bertema “Pelatihan Menulis Puisi dan Penerbitan Antologi Puisi Mahasiswa PBSI” menghadirkan Afif Khoiruddin, S.Pd., Gr. sebagai narasumber. Perpaduan ini menjadi pilihan yang cerdas: penampilan memberi pelajar ruang untuk menafsirkan karya, sementara lokakarya memperkenalkan mahasiswa baru pada proses menulis dan menerbitkan puisi. Karena pesertanya berbeda, OKBAFEST tidak boleh dipersempit sebagai ajang lomba semata. Baca puisi pelajar dan monolog menyediakan panggung, sedangkan workshop penulisan puisi menekankan proses yang berlangsung di balik karya. Keduanya memperkaya perayaan bahasa dengan pengalaman praktik.
Ruang kreatif perlu diikuti umpan balik
FILOSOVI dan OKBAFEST memperlihatkan dua jalur yang saling melengkapi: berkarya dengan teknologi dan menghidupkan sastra lewat suara serta tubuh. Keduanya juga menyiratkan bahwa festival yang baik bukan hanya mengumumkan pemenang. Masukan juri tentang orisinalitas, kesinambungan penyajian, komposisi visual, dan ketepatan bahasa dapat membantu peserta membawa pulang pelajaran yang lebih berguna daripada trofi saja. Demikian pula, seleksi video sebelum final memberi peserta lomba OKBAFEST kesempatan menunjukkan penampilan melalui media yang akrab.
Pada akhirnya, ragam lomba dan lokakarya menjadi kekuatan ketika setiap format memberi ruang bagi tahap kreatif yang berbeda: menyusun gagasan, membuat karya, lalu menampilkannya kepada orang lain. Festival semacam ini layak dipertahankan bukan karena semua peserta akan menjadi juara, melainkan karena pelajar dapat belajar menyampaikan cerita dengan lebih terampil dan bertanggung jawab. Dari video hingga puisi, literasi tumbuh saat kreativitas disertai ketekunan dan penghargaan terhadap orisinalitas.






