Festival kuliner sebagai etalase usaha lokal
Tanggamus Foodies Festival adalah festival kuliner selama sepekan di Taman Kota Soekarno, Kotaagung, yang mempertemukan pelaku usaha lokal dengan warga melalui promosi dan penjualan produk. Gelaran 2026 ini dibuka Bupati Tanggamus Moh. Saleh Asnawi pada Sabtu malam, 31 Oktober, dengan 87 UMKM ikut ambil bagian. Kekuatan acara ini terletak pada kesempatan bagi pengunjung untuk menemukan beragam produk sekaligus bagi pedagang untuk menjangkau calon pelanggan secara langsung. Karena itu, Foodies Festival Tanggamus lebih bermakna bila dipandang bukan sekadar hiburan atau tempat berburu jajanan, melainkan etalase bagi usaha yang tumbuh di daerah. Tema “Rasa Lokal Daya Tarik Global” pun memberi arah yang pas: kuliner setempat menjadi daya tarik, sementara promosi membuka peluang untuk dikenal lebih luas.
Ragam peserta, peluang pasar
Dari 87 peserta, 65 UMKM berasal dari Kabupaten Tanggamus, khususnya Kotaagung, sementara 22 lainnya datang dari Pesawaran, Metro, dan Bandar Lampung. Komposisi ini memberi festival beragam sajian dan mempertemukan pelaku usaha lokal dengan peserta dari daerah lain. Namun, manfaat utama seharusnya tetap terasa bagi UMKM kuliner Tanggamus: festival dapat membantu produk mereka ditemukan pembeli baru, bukan hanya bersaing memperebutkan perhatian selama acara berlangsung. Camat Kotaagung sekaligus panitia, Adi Putra, menyebut kegiatan ini sebagai wadah promosi produk kuliner dan penggerak aktivitas ekonomi di kawasan taman. Agar peluang itu berlanjut, hubungan dengan pelanggan perlu bertahan setelah stan dibongkar—melalui informasi pemesanan atau kanal penjualan yang dapat diakses kembali.
Dampak ekonomi melampaui stan kuliner
Bupati Moh. Saleh Asnawi mendorong festival sebagai salah satu cara mendukung perekonomian lokal. Menurutnya, meningkatnya kunjungan berpeluang menambah pendapatan bukan hanya bagi pedagang UMKM, tetapi juga juru parkir dan pedagang kaki lima. Pandangan ini penting: kegiatan publik akan lebih berarti ketika perputaran pengunjung ikut menghidupkan mata pencaharian di sekitar lokasi. Pemkab berharap produk lokal semakin dikenal dan jangkauan pemasaran UMKM meluas. Namun harapan itu perlu diikuti ukuran hasil yang nyata. Ramainya taman selama tujuh hari belum otomatis membuktikan pasar pedagang bertambah; transaksi, pelanggan baru, dan penjualan setelah festival menjadi tanda yang lebih kuat bahwa promosi bekerja. Di situlah nilai jangka panjang festival kuliner Tanggamus seharusnya dinilai.
Tertib dan berlanjut setelah festival
Kesuksesan acara juga bergantung pada hal-hal yang mudah luput dari sorotan: kebersihan, keamanan, ketertiban, fasilitas umum, parkir, dan kelancaran lalu lintas. Bupati mengingatkan panitia serta peserta agar menjaga aspek-aspek tersebut selama festival berlangsung. Perhatian ini bukan pelengkap; kenyamanan pengunjung menentukan apakah taman dapat menjadi ruang kegiatan yang tertib dan layak dikunjungi. Pada akhirnya, 87 peserta dan tujuh hari acara menyediakan modal promosi yang menjanjikan, tetapi bukan jaminan keberhasilan. Penyelenggara perlu memastikan pengalaman yang baik bagi warga, sementara pelaku usaha perlu mendapat kesempatan membangun hubungan dengan pembeli. Jika dampak penjualan dan jangkauan pasar berlanjut setelah acara ditutup, Tanggamus Foodies Festival akan lebih dari sekadar keramaian: ia menjadi dukungan nyata bagi UMKM dan ekonomi setempat.






