Festival sebagai etalase rasa dan identitas
Festival kuliner adalah pertemuan publik yang menghadirkan makanan sebagai pengalaman, sekaligus memberi pelaku usaha ruang untuk mengenalkan produk dan menjangkau calon pelanggan. Nilainya paling besar ketika sajian yang dicicipi pengunjung terhubung dengan cerita dan identitas tempat asalnya. Gagasan itu tampak di Wonderfood Kepri Fest 2026, yang digerakkan Ketua Dekranasda Kepulauan Riau, Dewi Kumalasari, dengan melibatkan ratusan tenant UMKM di kawasan Rimba Jaya, Tanjungpinang. Festival berlangsung pada 21–25 Oktober dan ditujukan bagi wisatawan serta masyarakat setempat. Dorongan menjadikan olahan lokal sebagai daya tarik pariwisata menempatkan promosi kuliner lebih luas daripada sekadar penjualan di stan. Sajian khas Melayu dan hasil laut dapat membantu wisatawan mengenali karakter daerah lewat cita rasa. Namun, daya tarik semacam itu perlu diteruskan setelah acara usai agar kunjungan festival berpeluang menjadi minat terhadap produk dan destinasi.
Dari stan menuju jangkauan pasar
Kekuatan Wonderfood bukan hanya jumlah pesertanya, tetapi juga upaya menghubungkan kuliner daerah dengan promosi wisata dan kanal digital. Kolaborasi dengan kreator konten, food blogger, dan Dinas Pariwisata Kepri dirancang untuk memperluas perhatian terhadap masakan Melayu serta hasil laut, termasuk ke luar Kepulauan Riau. Bagi UMKM kuliner lokal, festival juga dapat menjadi tempat menguji inovasi dan membangun jejaring bisnis. Itu manfaat yang masuk akal, tetapi belum sama dengan bukti bahwa penjualan atau jangkauan pasar telah meningkat. Acara ini turut menawarkan pengalaman bagi pengunjung melalui sesi memasak langsung, atraksi budaya Reog dan Barongsai, serta penampilan Farel Prayoga. Perpaduan makanan dan hiburan berpotensi membuat kunjungan lebih berkesan. Agar dampak ekonominya bertahan, bazar rutin dan tindak lanjut promosi perlu menjadi bagian dari strategi, bukan sekadar agenda ramai selama lima hari.
Jakarta menekankan peluang usaha
Di Jakarta, tujuan Festival Jajanan Bango 2026 lebih langsung diarahkan pada dukungan bagi usaha mikro, kecil, dan menengah. Pemerintah Provinsi DKI Jakarta berharap festival kuliner dapat membantu meningkatkan usaha, pendapatan, dan kesejahteraan pelaku UMKM; harapan itu belum menjadi hasil yang terukur hanya karena acara telah berlangsung. Festival digelar pada 24–25 Oktober di Hutan Kota GBK dan menghadirkan lebih dari 50 stan dalam empat kelompok sajian. Pengunjung dapat menjumpai kreasi seperti tempe orek tiramisu, es cendol spesial Kecap Bango, butterscotch Mallika, dan roti garam dengan kue keju karamel kedelai. Ragam tersebut memberi pelaku usaha panggung untuk memperkenalkan produk kepada khalayak, sementara pengunjung mendapat kesempatan mencoba sajian kreatif. Peran festival akan lebih berarti bila perhatian sesaat berubah menjadi pembelian berulang dan hubungan usaha yang berlanjut.

Promosi perlu berlanjut setelah festival
Kedua acara memakai makanan untuk mempertemukan usaha kecil dengan pengunjung, tetapi titik tekannya berbeda. Wonderfood Kepri mengaitkan promosi kuliner dengan identitas Melayu, hasil laut, dan daya tarik wisata Tanjungpinang. Festival Jajanan Bango di Jakarta menonjolkan dukungan bagi pelaku UMKM dan harapan peningkatan usaha serta kesejahteraan. Keduanya menyediakan ruang promosi; tidak satu pun, berdasarkan informasi yang tersedia, membuktikan bahwa dampak ekonomi tersebut sudah tercapai. Harapan di Kepri bertumpu pada bazar kuliner rutin yang dapat mendukung pertumbuhan ekonomi daerah secara konsisten dan berkelanjutan. Di Jakarta, pemerintah daerah juga menekankan perlunya sinergi dengan pemangku kepentingan lain karena dukungan UMKM tidak dapat dibebankan kepada pemerintah saja. Ukuran keberhasilan sebaiknya bukan hanya keramaian acara, melainkan tindak lanjut yang membantu usaha mempertahankan pelanggan dan memperluas pasar. Festival menjadi jembatan yang menjanjikan antara kuliner daerah, wisata, dan ekonomi lokal—tetapi hasil akhirnya bergantung pada apa yang dibangun setelah stan dibongkar.






