Dua program, dua cara belajar
Pengalaman belajar mahasiswa UNAIR di Jepang mencakup kegiatan akademik dan keseharian yang dirancang untuk membawa pembelajaran keluar dari ruang kelas, baik ke lingkungan alam maupun kehidupan kampus. Dua jalur yang dijalani mahasiswa menunjukkan bahwa belajar di luar negeri tidak harus memiliki satu bentuk: KKN-BBK berfokus pada pengelolaan lingkungan, sedangkan program exchange menekankan studi bahasa dan budaya melalui pengalaman tinggal dan belajar di universitas.
Sepuluh mahasiswa UNAIR dalam Tim KKN-BBK 9 mengikuti pembelajaran lingkungan di pedalaman Jepang bersama civitas academica Shizuoka University selama sepuluh hari. Sementara itu, Rifqi Namiroh Ash Sholihah, mahasiswa Bahasa dan Sastra Jepang UNAIR angkatan 2024, menjalani program exchange selama satu tahun di University of Miyazaki. Perbedaan durasi dan fokus ini penting: satu program menawarkan pengalaman lapangan yang intensif, sementara lainnya memberi waktu lebih panjang untuk menguji kemampuan bahasa dan beradaptasi dengan kehidupan kampus.
KKN Jepang membawa pembelajaran ke hutan
Bagi peserta KKN Jepang, hutan bukan sekadar lokasi kegiatan, melainkan ruang belajar utama. Tema KKN-BBK 9 adalah pengelolaan lingkungan, sehingga hampir seluruh kegiatan sepuluh hari berlangsung di kawasan pedalaman Hamamatsu yang didominasi hutan. Mahasiswa mempelajari variasi tumbuhan, cara pemeliharaan, pola penanaman, hingga pemanfaatan hasil hutan untuk industri. Materi ini menghubungkan pengetahuan ekologi dengan praktik pengelolaan dan kepentingan ekonomi.
Pembelajaran lapangan juga dilengkapi sesi kelas dan diskusi yang dipandu pengajar Shizuoka University. Kombinasi tersebut membuat belajar lingkungan Jepang tidak berhenti pada pengamatan alam: mahasiswa dapat mengaitkan apa yang mereka lihat dengan penjelasan akademik. Dosen pendamping Nuri Hermawan menyoroti kerja sama akademisi, pemerintah, dan industri dalam pemeliharaan serta pemanfaatan hutan. Nilai program ini terletak pada pertemuan teori dan praktik, sekaligus pada kesempatan melihat bagaimana pengelolaan lingkungan melibatkan banyak pihak.

Exchange University Miyazaki mengasah bahasa dan kemandirian
Pengalaman Rifqi di University of Miyazaki memperlihatkan sisi lain dari belajar di luar negeri: bahasa paling efektif dipelajari ketika digunakan dalam percakapan sehari-hari. Ia mengikuti program Japanese Studies dengan skema University to University yang diselenggarakan secara resmi oleh MEXT. Kelas berpengantar bahasa Jepang banyak diikuti mahasiswa internasional, sementara lingkungan kampus menyediakan kegiatan budaya dan interaksi dengan mahasiswa setempat.
Rifqi mengaku bahasa Jepang yang dipelajarinya sebelumnya terasa kaku dan terlalu berpatokan pada buku teks; ia berlatih setiap hari agar percakapannya terdengar lebih alami. Tinggal di international house bersama penghuni Jepang dan negara lain juga mendorongnya mengatur kehidupan sendiri, yang menurutnya membuatnya lebih dewasa. Tantangannya pun konkret: kampus dekat hutan dan jauh dari pusat kota, sehingga perjalanan ke berbagai tempat memerlukan bus. Exchange University Miyazaki dengan demikian bukan hanya soal kelas, tetapi latihan bahasa dan kemandirian dalam rutinitas nyata.
Pilih pengalaman sesuai tujuan
Kedua program memberi manfaat yang berbeda dan tidak perlu diperlakukan sebagai pilihan yang saling menggantikan. KKN-BBK lebih tepat bagi mahasiswa yang ingin mengamati pengelolaan lingkungan secara langsung, memahami keterkaitan hutan dengan industri, serta belajar melalui kerja lapangan dan diskusi. Program exchange lebih cocok bagi mereka yang ingin mendalami bahasa dan budaya, mengikuti perkuliahan dalam lingkungan internasional, dan berlatih hidup mandiri dalam jangka panjang.
KKN-BBK 9 diharapkan memberi bekal yang dapat diterapkan setelah peserta pulang dan menjadi jembatan bagi mahasiswa yang ingin melanjutkan studi S2 di Jepang. Rifqi menyarankan mahasiswa yang berminat mencari informasi exchange melalui situs AGE UNAIR. Pesan yang lebih luas dari dua pengalaman mahasiswa UNAIR Jepang ini jelas: manfaat program luar negeri bergantung pada tujuan yang dibawa peserta. Satu jalur melatih pemahaman lingkungan melalui praktik; jalur lain menguji bahasa, adaptasi, dan kemandirian. Keduanya bernilai ketika pengalaman tersebut dibawa kembali ke proses belajar dan rencana berikutnya.






