Genangan meluas di Lhok Raya
Banjir Trumon Tengah adalah genangan yang merendam permukiman Gampong Lhok Raya, Kecamatan Trumon Tengah, Kabupaten Aceh Selatan, setelah hujan deras dan luapan sungai mengancam keselamatan serta aktivitas warga. Banjir terjadi pada Rabu (28/10/2026), setelah hujan berintensitas tinggi mengguyur kawasan sejak pagi. Air mulai memasuki permukiman sekitar pukul 13.45 WIB, sementara luapan sungai telah terpantau naik sejak pukul 10.45 WIB. Dampak banjir Aceh Selatan ini terlihat dari ketinggian air yang mencapai sekitar 50 sentimeter di permukiman dan 20–40 sentimeter di jalan umum. Angka tersebut bukan sekadar catatan genangan: rumah yang terendam banjir dan jalan yang sulit dilalui dapat membatasi kegiatan sehari-hari serta memperumit upaya warga menyelamatkan barang. Dengan debit yang dilaporkan masih naik perlahan, kondisi belum layak dianggap aman.

150 rumah terdampak, puluhan warga mengungsi
Pendataan sementara mencatat 150 rumah terdampak, sementara 46 warga mengungsi ke lokasi yang lebih aman di Kompi 3 Batalyon C Pelopor Satbrimob Polda Aceh. Pengungsian itu menunjukkan bahwa dampak banjir telah melampaui gangguan sementara: sebagian warga belum bisa kembali ke rumah dan membutuhkan tempat berlindung serta pemenuhan kebutuhan dasar. Karena itu, kondisi mereka harus menjadi ukuran utama keberhasilan penanganan, bukan hanya seberapa cepat genangan surut. Pemerintah Kabupaten Aceh Selatan menurunkan personel BPBD dan Dinas Sosial untuk membantu warga dan memastikan kebutuhan pengungsi terpenuhi. Dapur lapangan juga disiapkan untuk menyediakan makanan, terutama bagi warga yang belum dapat pulang. Langkah ini penting, tetapi bantuan harus terus disesuaikan dengan jumlah pengungsi dan perubahan keadaan di lokasi.
Debit air menuntut kewaspadaan berkelanjutan
Penyebab langsung banjir adalah hujan lebat dan luapan sungai. Laporan menyebut Sungai Lae Soraya, atau Sungai Gelombang, yang berhulu di wilayah Kota Subulussalam meluap hingga menggenangi permukiman. Sementara itu, petugas Pusdalops BPBD Aceh Selatan melaporkan debit air masih bergerak naik perlahan. Ada perbedaan perkembangan dalam laporan lapangan: laporan lain menyebut air mulai berangsur surut, tetapi petugas tetap diminta meningkatkan kewaspadaan, terutama di permukiman dan akses jalan yang masih berisiko tergenang. Perbedaan ini memperkuat alasan agar warga dan petugas tidak menyimpulkan keadaan aman hanya dari perubahan sesaat. Hujan kembali di wilayah hulu dapat mengubah kondisi sungai, sehingga pemantauan debit dan cuaca perlu berjalan terus, termasuk setelah air mulai turun.
Respons darurat harus mengikuti kebutuhan warga
Bupati Aceh Selatan H. Mirwan MS mengerahkan tim penanganan darurat dan mendirikan dapur lapangan pada Rabu (28/10/2026). BPBD, Dinas Sosial, TNI, Polri, dan instansi terkait berkoordinasi untuk memantau genangan, mendata kebutuhan warga, serta mengantisipasi kemungkinan dampak meluas; unsur TNI juga turun ke lokasi untuk memantau keadaan dan keselamatan masyarakat. Respons ini perlu diteruskan selama warga masih mengungsi dan debit belum stabil. Warga di kawasan rawan banjir diimbau mengikuti arahan petugas, mengamankan barang penting, dan segera menuju tempat aman bila permukaan air kembali naik. Kesimpulannya, pengerahan bantuan adalah awal yang penting, bukan tanda bahwa ancaman telah berakhir. Prioritas berikutnya ialah menjaga pengungsi tetap mendapat dukungan, memastikan informasi kondisi air tersampaikan, dan tidak mengendurkan kesiapsiagaan sebelum permukiman serta akses jalan benar-benar aman.






