Temukan minat Anda, bersama

Promo pilihan, ulasan jujur, dan cerita belanja dari mereka yang seminat dengan Anda — setiap hari di Kuybeli.

Temukan minat Anda, bersamaPromo pilihan, ulasan jujur, dan cerita belanja dari mereka yang seminat dengan Anda — setiap hari di Kuybeli.

Mengapa Ribuan Sarjana Menganggur Meski Ekonomi Tumbuh

Mengapa Ribuan Sarjana Menganggur Meski Ekonomi Tumbuh
Minat|Asia Tenggara

Pengangguran Sarjana: Gejala Krisis Struktural, Bukan Sekadar Nasib Buruk

Pengangguran sarjana Indonesia adalah kondisi ketika lulusan perguruan tinggi yang secara formal memenuhi syarat pendidikan tinggi tidak memperoleh pekerjaan yang layak dan relevan dengan kompetensi akademiknya, sehingga menumpuk sebagai angkatan kerja terdidik yang tidak terserap pasar kerja dan mencerminkan masalah struktural dalam hubungan antara dunia pendidikan, kebijakan ekonomi, serta kebutuhan industri. Fenomena ini tidak bisa lagi dianggap sebagai sekadar nasib buruk individu; angka pengangguran lulusan perguruan tinggi di satu kota saja, Tangerang, telah mencapai 12.675 orang. Ketika gelar sarjana kehilangan daya tawar di pasar kerja, kita sedang menyaksikan krisis yang lebih dalam: kualitas lulusan perguruan tinggi yang dipertanyakan, ketimpangan pasar kerja, dan kegagalan sistemik menghubungkan kompetensi lulusan kampus dengan realitas ekonomi. Pertanyaannya, siapa yang harus bertanggung jawab?

Tangerang: Potret Tajam Pengangguran Terdidik di Tengah Program Pelatihan

Data Badan Pusat Statistik menunjukkan pengangguran berpendidikan tinggi di Tangerang Raya mencapai 20.878 orang, dengan Kota Tangerang menyumbang 12.675 orang—tertinggi di kawasan itu. Di kota ini, tingkat pengangguran terbuka lulusan sarjana mencapai 7,05 persen dari 179.900 angkatan kerja berpendidikan tinggi. Angka tersebut bukan sekadar statistik; ia menandai bahwa pengangguran sarjana Indonesia telah menjadi krisis nyata di level kota. Pemerintah daerah merespons dengan beragam pelatihan: content creator, kewirausahaan, peningkatan kompetensi Gen Z, hingga OJT dan pelatihan otomotif serta servis AC untuk korban PHK. Namun, ketika hasil pelatihan tidak jelas keterkaitannya dengan penyerapan kerja, wajar jika publik mempertanyakan efektivitasnya. Apalagi, dari total anggaran Disnaker Rp28,60 miliar, hanya Rp3,92 miliar dialokasikan untuk program pelatihan kerja dan produktivitas tenaga kerja, sementara job fair mendapat Rp676,67 juta.

JK: Kampus Sibuk Mencetak Ijazah, Lupa Mencetak Kompetensi

Jusuf Kalla mengajukan kritik tajam: perguruan tinggi terlalu fokus meluluskan sarjana, bukan membangun kompetensi lulusan kampus yang dibutuhkan industri. "Perlu ada suatu cara untuk meningkatkan kualitas, tidak asal selesai lulus sarjana, tapi pada perguruan tinggi untuk meningkatkan kualitas, jadi tidak asal memproduksi sarjana begitu saja". Pernyataan ini menohok jantung masalah kualitas lulusan perguruan tinggi. Gelar sarjana kerap diberikan semata karena masa studi rampung dan administrasi wisuda beres, bukan karena kemampuan yang mumpuni. Ijazah boleh bertambah, tetapi kompetensi tidak otomatis ikut naik hanya karena seseorang melewati sidang skripsi. Dengan sekitar satu juta sarjana keluar dari universitas setiap tahun sementara lapangan kerja terbatas, kampus yang sekadar mencetak ijazah sedang berkontribusi pada pengangguran sarjana Indonesia yang terstruktur.

Ketimpangan Pasar Kerja dan Skill Mismatch: Ketika Sarjana Berebut Pekerjaan yang Tak Butuh Ijazah

Di satu sisi, pasokan lulusan terus mengalir dari perguruan tinggi; di sisi lain, lapangan kerja tumbuh pelan dan tidak berimbang. Jusuf Kalla mengingatkan, setiap tahun sekitar satu juta sarjana lulus, tetapi jumlah lapangan kerja yang tersedia masih terbatas. Ketika permintaan tenaga kerja tidak tumbuh sepadan, pasar kerja berubah menjadi arena rebutan yang tidak ramah bagi lulusan yang sudah menghabiskan bertahun-tahun di bangku kuliah. Dampaknya nyata: banyak sarjana bekerja di bawah potensi atau di luar bidang keahliannya, bahkan mengambil pekerjaan yang tidak mensyaratkan gelar strata satu, dari petugas keamanan hingga penjaga toko. Pemerintah daerah seperti di Tangerang mengakui adanya skill mismatch antara kompetensi lulusan dan kebutuhan industri, diperparah disrupsi teknologi dan perubahan pola kerja yang mempersempit peluang kerja konvensional. Di sini terlihat jelas ketimpangan pasar kerja bukan hanya soal kurangnya lowongan, tetapi ketidakcocokan keterampilan.

Siapa Harus Berbenah: Kampus, Pemerintah, atau Industri?

Jika pengangguran sarjana Indonesia adalah masalah struktural, maka solusinya tidak bisa diserahkan pada satu aktor. Kampus wajib mengubah paradigma dari sekadar produksi ijazah menjadi produksi kompetensi lulusan kampus yang relevan. Kurikulum harus disusun bersama industri, bukan hanya berbekal asumsi akademik, agar jargon link and match benar-benar hidup dan tidak berhenti sebagai slogan. Pemerintah pusat dan daerah perlu berani menggeser anggaran dari kegiatan penunjang birokrasi ke program pelatihan kerja yang terbukti menurunkan pengangguran, bukan sekadar memperbanyak acara job fair yang efeknya kabur. Industri pun tidak bisa hanya mengeluh soal kualitas lulusan perguruan tinggi; mereka perlu membuka ruang magang bermakna dan berkontribusi dalam merumuskan kurikulum. Seperti disampaikan JK, perbaikan kualitas pendidikan harus berjalan seiring dengan perbaikan tata kelola ekonomi agar lapangan kerja benar-benar terbuka. Tanpa keseriusan bersama, sarjana akan terus menumpuk sebagai angka dalam statistik, bukan pelaku pembangunan.

Kuybeli memperoleh komisi saat Anda berbelanja melalui tautan kami, tanpa biaya tambahan untuk Anda.

You May Also Like

Comments
Tulis sesuatu...
Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berbagi pendapat!