Transaksi dan peluang ekspor menjadi ukuran nyata
Indonesia Sharia Economic Festival (ISEF) adalah forum tahunan yang mempertemukan pelaku usaha, lembaga keuangan, dan pemangku kepentingan untuk mengembangkan ekonomi serta keuangan syariah melalui perdagangan, pembiayaan, dan kolaborasi. ISEF ke-13 ditutup pada 18 Oktober 2026 di Jakarta International Convention Center, dengan hasil yang menunjukkan bagaimana dukungan ekosistem dapat membuka peluang konkret bagi UMKM. UMKM binaan Bank Indonesia Kepulauan Bangka Belitung membukukan transaksi lebih dari Rp130 juta. Angka itu penting, tetapi keberhasilan yang lebih strategis ialah terbukanya jalur ke pasar luar negeri: Billiton Spice mengikuti penjajakan bisnis dengan calon pembeli dari Singapura dan Pakistan. Ini merupakan langkah awal perluasan akses ekspor, bukan bukti bahwa kontrak ekspor telah rampung. Partisipasi Babel mencakup produk makanan halal, fesyen modest, dan Halal Mart. Ragam itu memperlihatkan bahwa UMKM ekonomi syariah bisa dibina untuk memasuki lebih dari satu segmen, selama produk dan kesiapan pasarnya terus diperkuat.

Pembiayaan harus terhubung dengan kebutuhan usaha
Besarnya kegiatan bisnis dalam ISEF memberi alasan kuat untuk mengaitkan akses pasar dengan modal. Festival mencatat penjualan produk makanan halal dan fesyen sebesar Rp13,85 miliar, business matching pembiayaan dan perdagangan syariah senilai Rp3,16 triliun, serta komitmen kerja sama pasar uang dan valuta asing syariah senilai Rp6,05 triliun. Namun, nilai kesepakatan baru bermakna bagi pelaku usaha jika benar-benar ditindaklanjuti menjadi dukungan yang sesuai dengan tahap dan kebutuhan bisnis mereka. Bank Indonesia menetapkan perluasan pembiayaan untuk sektor unggulan industri halal, peningkatan inklusi bagi usaha mikro dan kecil, serta kolaborasi antarpemangku kepentingan sebagai prioritas. Rangkaian SAPA SYARIAH menghubungkan edukasi pembiayaan, penguatan jejaring usaha, dan temu bisnis untuk mengonsolidasikan komitmen kerja sama. Pendekatan bertahap ini lebih menjanjikan daripada sekadar mempertemukan UMKM dengan penyedia modal. Pembiayaan syariah UMKM akan efektif bila pelaku usaha memahami pilihan yang tersedia dan memiliki akses nyata ke pembeli.

Ekosistem halal perlu berkembang dari pameran ke pasar
ISEF berupaya memperkuat industri halal Indonesia sekaligus memperdalam pasar keuangan syariah dan memperluas inklusi melalui transformasi digital. Arah ini relevan: laporan State of the Global Islamic Economy 2025/2026 menempatkan Indonesia di peringkat keempat dunia dalam ekosistem ekonomi syariah, sementara rantai nilai halal dalam negeri tumbuh 5,5% secara tahunan pada triwulan II 2026, lebih cepat daripada ekonomi nasional. Capaian itu menunjukkan peluang, tetapi posisi global tidak akan bertahan tanpa peningkatan kualitas produk, sertifikasi, pemasaran, dan kapasitas produksi. Kehadiran UMKM binaan dari berbagai daerah serta pengalaman pendampingan di Sulawesi Selatan memperlihatkan bahwa pembinaan dapat menjangkau pelaku usaha di luar pusat kegiatan. Bagi keuangan syariah nasional, tantangannya adalah memastikan jejaring tersebut berlanjut setelah festival. Di Babel, BI menyatakan akan terus berkolaborasi dengan pemerintah daerah, pelaku usaha, pesantren, dan lembaga keuangan syariah. Program WWB juga direncanakan masuk ke sekolah sebagai sarana edukasi pengelolaan sampah dan wakaf sejak dini.






