Rumah adalah ruang pertama untuk literasi
Literasi keluarga adalah kebiasaan bersama yang mengenalkan anak pada buku, cerita, dan pemahaman informasi melalui kegiatan sehari-hari di rumah. Karena itu, membangun budaya membaca tidak cukup dengan mengadakan acara sesekali; anak perlu melihat buku hadir secara wajar dalam kehidupan keluarga. Pesan itu mengemuka dalam Festival Literasi Jeneponto, yang berlangsung pada 27–29 Oktober 2026 dan dibuka Bupati Paris Yasir di Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Kabupaten Jeneponto pada 27 Oktober. Festival tersebut mendorong keluarga, sekolah, pustakawan, dan masyarakat bekerja bersama agar literasi tidak berhenti di perpustakaan. Arah ini tepat: akses terhadap bahan bacaan penting, tetapi rutinitas dan teladan di rumah yang membuat anak berulang kali berjumpa dengan buku. Dengan demikian, kebiasaan membaca tumbuh sebagai bagian dari hari biasa, bukan tugas khusus yang hanya muncul saat festival.
Acara publik membuka pintu, keluarga menjaga kebiasaan
Festival di Jeneponto berlangsung selama tiga hari, menghadirkan stan pameran karya dan bahan literasi serta lomba mewarnai dan menggambar untuk anak-anak. Kegiatan seperti ini memberi keluarga kesempatan melihat buku dan aktivitas kreatif sebagai sesuatu yang menyenangkan, bukan semata kewajiban belajar. Namun daya jangka panjangnya bergantung pada apa yang dilakukan setelah pengunjung pulang. Pengukuhan Bunda Literasi Kecamatan di festival itu dimaksudkan memperluas ajakan membaca dan pendampingan belajar hingga tingkat kecamatan; penguatan layanan perpustakaan juga diharapkan memudahkan masyarakat memperoleh bahan bacaan. Itu langkah yang berguna, tetapi keberhasilan sebaiknya diukur bukan hanya dari ramai atau tidaknya acara. Ukurannya adalah apakah keluarga mulai menyediakan waktu membaca bersama, mengunjungi perpustakaan, dan memberi anak akses pada bacaan yang sesuai minatnya.
Minat baca anak tumbuh lewat perhatian sederhana
Di Tanjung Jabung Barat, Bunda Literasi Hj. Fadhilah Sadat membuka Bulan Kunjungan Perpustakaan sekaligus lomba mewarnai tingkat PAUD pada 23 Oktober 2026; kegiatan itu diikuti 50 anak PAUD se-Kecamatan Tungkal Ilir. Ia menekankan bahwa orang tua dan guru perlu mendidik dengan kelembutan, kasih sayang, serta keteladanan, termasuk untuk menumbuhkan minat baca anak. Pesannya penting karena ketertarikan pada buku sulit tumbuh jika membaca hanya diperkenalkan sebagai perintah. Fadhilah menyarankan langkah sederhana: orang tua mendongeng atau bercerita sebelum anak tidur. Rutinitas singkat yang dilakukan berulang memberi anak pengalaman positif dengan cerita, sekaligus ruang untuk bertanya dan berbincang. Orang tua tidak perlu menunggu anak lancar membaca; membacakan buku dan mengajak anak memilih cerita sudah menjadi awal membaca sejak dini.

Rutinitas kecil lebih berarti daripada acara sesaat
Lomba mewarnai dalam kegiatan di Tanjung Jabung Barat juga memberi anak ruang melatih motorik halus, kreativitas, imajinasi, dan rasa percaya diri, sekaligus mempertemukan orang tua, guru, dan anak. Nilai kegiatan semacam itu bukan pengganti membaca, melainkan pintu untuk membangun hubungan positif dengan proses belajar. Keluarga dapat menjaga kebiasaan membaca dengan menetapkan waktu yang realistis, membiarkan anak memilih buku, lalu berbincang santai tentang cerita yang dibaca. Tidak setiap sesi harus panjang atau berakhir dengan pertanyaan seperti ujian. Yang dibutuhkan adalah pengulangan dan perhatian. Pemerintah Jeneponto berharap gerakan literasi berlanjut di rumah, sekolah, dan masyarakat, sementara agenda di Tanjung Jabung Barat diharapkan meningkatkan kecintaan anak pada perpustakaan. Harapan itu akan lebih mungkin tercapai bila orang tua menjadikan buku bagian dari keseharian, bukan hanya perlengkapan acara.
Kesimpulan: mulai dari satu cerita setiap hari
Festival literasi dapat menarik perhatian dan memperluas akses, tetapi keluarga yang menentukan apakah kebiasaan membaca bertahan. Pengalaman dari Jeneponto dan Tanjung Jabung Barat mengarah pada kesimpulan yang sama: membaca sejak dini tumbuh melalui kerja bersama, teladan orang dewasa, dan rutinitas sederhana yang berulang. Orang tua bisa memulai dengan membacakan satu cerita, menyediakan buku yang dekat dengan minat anak, atau mengunjungi perpustakaan bersama. Sekolah, pustakawan, dan pemerintah tetap berperan menyediakan dukungan, tetapi mereka tidak dapat menggantikan kedekatan keluarga. Jika membaca hadir sebagai waktu yang hangat dan menyenangkan, minat baca anak punya peluang lebih besar untuk berkembang. Karena itu, ukuran keberhasilan gerakan literasi bukan hanya banyaknya kegiatan, melainkan seberapa sering buku dibuka di rumah.






