Pemberdayaan perempuan desa: dari dapur ke pasar regional
Pemberdayaan perempuan desa melalui usaha olahan pangan lokal adalah pendekatan pembangunan yang menempatkan perempuan sebagai pelaku utama ekonomi, dengan cara mengolah komoditas sederhana seperti ubi dan kelapa menjadi produk bernilai tambah yang berkelanjutan, membuka akses ke pasar yang lebih luas, dan sekaligus menguatkan solidaritas sosial serta ketahanan pangan keluarga.
Program Desa Berdaya di Medana dan dukungan bagi Kelompok Opak Sejahtera di Suka Raya menunjukkan satu hal penting: ketika perempuan diberi akses pengetahuan, infrastruktur, dan pasar, ekonomi perempuan pedesaan bukan lagi pelengkap, melainkan tulang punggung perubahan sosial. Di Medana, program yang dirancang bersama komunitas perempuan mendorong mereka mengelola jamur tiram, VCO, dan batik sebagai usaha serius, bukan sekadar kegiatan sambilan. Sementara di Suka Raya, olahan ubi seperti opak diposisikan sebagai produk unggulan, bukan lagi camilan rumahan tanpa nilai ekonomi jelas. Ini bukan cerita bantuan charity; ini pergeseran kekuasaan ekonomi di desa.
Medana: bukti ekonomi perempuan pedesaan bisa menembus pasar ekspor
Desa Medana adalah contoh terang bagaimana pemberdayaan perempuan desa menjawab kemiskinan struktural. Dari 1.801 kepala keluarga, 671 di antaranya masuk kategori miskin atau tidak mampu, sementara 1.655 penduduk belum atau tidak bekerja, termasuk 838 perempuan. Alih-alih menunggu bantuan konsumtif, program Desa Berdaya mendorong perempuan menjadi produsen: jamur tiram, VCO, dan batik Sasak diolah sebagai usaha terstruktur dengan pembagian kerja dan pembukuan.
Hasilnya konkret: rumah jamur mampu menghasilkan hingga 900 kilogram per bulan dengan omzet sekitar Rp20 juta–Rp23 juta, sementara VCO mencapai penjualan 68 botol per bulan dengan pendapatan sekitar Rp1,9 juta. Yang lebih penting, VCO organik itu menembus pasar Singapura, menjadikannya produk organik bernilai ekspor, bukan hanya komoditas lokal. "Hasil pengukuran SROI menunjukkan nilai 2,56, artinya setiap Rp1 investasi sosial melahirkan manfaat sekitar Rp2,56," kata General Manager unit wilayah yang mendukung program tersebut. Ini angka yang mengukuhkan bahwa investasi di ekonomi perempuan pedesaan bukan sekadar baik hati, tapi logis secara ekonomi.
Suka Raya: ubi lokal naik kelas lewat pengetahuan bisnis
Jika Medana menunjukkan potensi produk organik bernilai ekspor, Desa Suka Raya memperlihatkan bahwa komoditas serendah ubi pun bisa menjadi motor ekonomi perempuan pedesaan ketika ditopang ilmu dan sarana usaha. Dukungan bagi 35 perempuan anggota Kelompok Opak Sejahtera tidak berhenti pada pemberian peralatan; mereka mendapatkan materi perhitungan harga pokok produksi, akuntansi dasar, pemasaran digital, dan pengembangan varian opak. Artinya, usaha olahan pangan lokal diperlakukan sebagai bisnis, bukan kegiatan keterampilan kosong.
Pendekatan ini menarik karena menempatkan listrik bukan sekadar layanan, tetapi pemicu produktivitas. Perempuan didorong memahami biaya produksi, menentukan harga jual, memperbaiki kemasan, dan memasarkan ke pasar yang lebih luas. Dengan kualitas yang terus diperkuat, opak dari Suka Raya berpeluang menjadi produk unggulan, sekaligus menopang kemandirian ekonomi keluarga dan ketahanan pangan. Ini mengoreksi pandangan lama bahwa perempuan desa hanya cocok sebagai tenaga produksi manual; mereka dituntut menjadi manajer usaha, negosiator harga, dan pelaku pemasaran digital.

Dari omzet ke solidaritas: ketika usaha perempuan menghidupi desa
Yang sering diabaikan dari pemberdayaan perempuan desa adalah efek sosial berantai. Di Medana, 58 anggota kelompok tidak sekadar menikmati kenaikan pendapatan; mereka menerapkan skema pembagian hasil, di mana 70 persen laba diputar kembali untuk menjaga keberlanjutan produksi dan 30 persen dialokasikan untuk kegiatan sosial. Sebagian hasil penjualan jamur digunakan untuk menggelar pasar gratis setiap pekan, menyasar 50 hingga 70 penerima manfaat, dengan prioritas orang tua tunggal, anak yatim piatu, dan penyandang disabilitas.
Pada musim kemarau, kelompok ini menyisihkan hasil usaha untuk membeli dan menyalurkan air bersih ke wilayah yang mengalami kekeringan. Mereka juga mendorong budaya literasi dengan distribusi bahan bacaan ke sekolah dan perpustakaan komunitas. Ini menunjukkan bahwa ketika ekonomi perempuan pedesaan menguat, desa memperoleh lebih dari sekadar tambahan omzet: muncul ekosistem solidaritas, kepedulian lingkungan, dan investasi pengetahuan. Pemberdayaan tidak berhenti di dapur produksi, tetapi menetes ke pasar gratis, tandon air, dan rak buku.
Arah ke depan: menguatkan rantai nilai dan standar kualitas
Keberhasilan Medana dan Suka Raya seharusnya tidak dibaca sebagai proyek sesaat, melainkan landasan membangun ekonomi perempuan pedesaan yang berkelanjutan. Kuncinya ada pada kemitraan yang memperkuat rantai pasokan dan standar kualitas. Di Medana, unit wilayah penyedia listrik bekerja bersama komunitas perempuan untuk merancang Desa Berdaya bukan sebagai paket bantuan sesekali, tetapi sebagai struktur kemandirian ekonomi jangka panjang.
Memasuki tahun kedua, pengembangan Sentra UMKM Medana direncanakan untuk meningkatkan kapasitas produksi jamur tiram dan batik Sasak, mengembangkan Tenun Bayan, melakukan diversifikasi dan sertifikasi produk, serta memperluas promosi dan pemasaran. Di Suka Raya, program Srikandi Women Support Women memperkuat jejaring antarkelompok perempuan. Kesimpulannya jelas: jika kebijakan publik serius mengadopsi model ini—menggabungkan usaha olahan pangan lokal, akses pasar, dan solidaritas sosial—maka dari ubi dan jamur bisa tumbuh ekonomi desa yang lebih tangguh daripada skema bantuan konsumtif mana pun.






