Program Tenun Berkelanjutan ASEAN Buktikan Pemberdayaan Perempuan Bisa Menggerakkan Ekonomi

Program Tenun Berkelanjutan ASEAN Buktikan Pemberdayaan Perempuan Bisa Menggerakkan Ekonomi
Minat|Industri Fashion

Satu Dekade Women Eco-Weavers: Tenun Tradisional Menjadi Agenda Ekonomi

Program Maybank Women Eco-Weavers adalah sebuah inisiatif pemberdayaan perempuan penenun yang menghubungkan kerajinan tenun tradisional dengan ekosistem tekstil berkelanjutan, meliputi budidaya serat alami, pelatihan teknis, inovasi produk, dan akses pasar lintas negara, sehingga tenun berkelanjutan ASEAN menjadi bagian dari ekonomi kreatif perempuan dan strategi keberlanjutan jangka panjang. Momentum satu dekade MWEW bukan sekadar perayaan angka, tetapi bukti bahwa program pemberdayaan tekstil dapat mengubah posisi perempuan dari pelestari budaya menjadi pelaku ekonomi yang diperhitungkan. Sejak diluncurkan di Lombok pada 2016, MWEW tumbuh menjadi ekosistem regional yang melibatkan penenun, petani serat, mitra program, dan komunitas di lima negara ASEAN. Menempatkan kerajinan tenun tradisional dalam bingkai keberlanjutan menunjukkan bahwa warisan budaya layak dianggap sebagai sektor strategis, bukan hobi pinggiran.

Angka-angka yang Mengubah Hidup: 2.617 Penenun dan Ekosistem dari Hulu ke Hilir

Dampak paling nyata dari pemberdayaan perempuan penenun ini ada pada skalanya: hingga 30 Juni 2026, MWEW telah memberdayakan 2.617 perempuan penenun di lima negara ASEAN dan mendukung 3.024 petani di empat negara. Angka tersebut bukan statistik cantik, melainkan jutaan jam kerja yang kini bernilai ekonomi. Di hulu, lebih dari 813.500 pohon murbei, 55.300 tanaman kapas, dan 18.700 pohon abaka dibudidayakan untuk mendukung tenun berkelanjutan ASEAN. Di hilir, 13 pusat pelatihan tenun, satu galeri, dan satu laboratorium pewarna alami dibangun untuk memperkuat program pemberdayaan tekstil dan mendorong standar mutu yang konsisten. "Perjalanan ini bukan dibangun oleh satu pihak saja, tetapi melalui kolaborasi para perempuan penenun, petani, mitra program, masyarakat dan berbagai pihak," ujar Datuk Shahril Azuar Jimin.

Dari Warisan ke Pendapatan: Ekonomi Kreatif Perempuan sebagai Fondasi Keberlanjutan

Selama ini, kerajinan tenun tradisional sering digambarkan sebagai warisan yang indah namun kurang menguntungkan. MWEW mengoreksi asumsi tersebut dengan menghubungkan praktik menenun dengan prinsip ekonomi berkelanjutan dan pemberdayaan gender. Ekosistem ini dirancang untuk memastikan perempuan penenun tidak hanya menjaga motif dan teknik, tetapi juga menguasai rantai nilai: dari budidaya serat alami dan serikultur, pewarnaan alami, proses produksi, hingga inovasi desain dan perluasan akses pasar. Program ini ditujukan untuk membangun mata pencaharian yang berkelanjutan, memperkuat kemandirian ekonomi, serta inklusi keuangan perempuan. Pendekatan semacam ini menjadikan ekonomi kreatif perempuan sebagai tulang punggung kesejahteraan komunitas, bukan aksesori yang mudah hilang ketika terjadi tekanan ekonomi atau perubahan tren.

Sustainability Day dan Marathon: Menyatukan Narasi Budaya, Iklim, dan Komunitas

Perayaan satu dekade MWEW dalam Maybank Marathon Sustainability Day 2026 menunjukkan bahwa keberlanjutan tidak boleh berjalan dalam silo. Di satu sisi, seremoni apresiasi, gelar wicara, lokakarya menenun, dan sesi Inspiring Talks bertema "Impact Society Positively through Partnership" menempatkan pemberdayaan perempuan penenun di panggung utama. Di sisi lain, agenda yang sama mengikat komitmen iklim melalui perjalanan menuju ajang maraton netral karbon pada 2030. Dengan pendekatan ini, tenun berkelanjutan ASEAN berbagi ruang dengan isu emisi, desa berkelanjutan seperti "Jejak Hijau Desa Sanding", serta program bagi generasi muda, penyandang disabilitas, dan anak yatim. Pesan yang muncul tegas: keberlanjutan bukan label hijau, melainkan jaringan program yang saling menguatkan, dari lintasan lari hingga lembar kain.

Mengapa Satu Dekade Ini Penting dan Apa Langkah Selanjutnya

Setelah sepuluh tahun, pertanyaan kuncinya bukan lagi apakah pemberdayaan perempuan penenun berdampak, melainkan bagaimana mempertahankan dan memperluas dampak tersebut. MWEW telah membuktikan bahwa pelestarian budaya bisa berjalan seiring dengan penguatan ekonomi lokal dan kepedulian lingkungan. Penenun tidak lagi hanya diposisikan sebagai penjaga motif, tetapi sebagai pelaku utama ekonomi kreatif perempuan yang menopang mata pencaharian berkelanjutan. Ke depan, tantangannya adalah memastikan akses pasar yang terus meluas, transfer pengetahuan lintas generasi, dan pengukuran dampak sosial yang lebih terbuka. Aspirasi maraton netral karbon pada 2030 menambahkan lapisan ambisi lain: ekonomi tekstil tradisional harus mampu bertumbuh tanpa memperparah krisis iklim. Jika sinergi antar program keberlanjutan terus dijaga, sepuluh tahun pertama MWEW bisa menjadi titik awal, bukan puncak pencapaian.

Kuybeli memperoleh komisi saat Anda berbelanja melalui tautan kami, tanpa biaya tambahan untuk Anda.

You May Also Like

Comments
Tulis sesuatu...
Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berbagi pendapat!