Satu poin yang mengungkap pekerjaan rumah
Hasil imbang Persija vs PSMS adalah gambaran tentang tim yang unggul lebih dulu, tetapi kesulitan menjaga kendali saat tenaga dan pengalaman pemain pelapis diuji dalam pertandingan kompetitif. Pada laga pembuka Grup A I.League Cup 2026/2027 di Stadion Utama Sumatera Utara, Selasa (3/11), Persija bermain 1-1 dengan PSMS. Figo Dennis membawa tim tamu unggul pada menit ke-43, sebelum Phillerson menyamakan kedudukan pada menit ke-79. Hasil Persija PSMS bukan sekadar kehilangan dua poin dari target kemenangan; pertandingan ini memperlihatkan jarak antara memiliki pemain cadangan dan memiliki pemain cadangan yang siap menghadapi tempo laga. Persija datang dengan susunan yang memberi ruang bagi pemain minim menit bermain, pilihan yang masuk akal dalam turnamen, tetapi risikonya terlihat saat PSMS meningkatkan tekanan pada babak kedua.

Kebugaran pertandingan tak bisa dibangun di pinggir lapangan
Choi In-cheul menempatkan kebugaran pemain Persija sebagai salah satu kekurangan yang ikut menjelaskan mengapa tim kesulitan mempertahankan permainan setelah jeda. Menurutnya, pemain yang jarang turun belum memiliki kebugaran pertandingan dan pengalaman yang cukup; akibatnya, Persija lebih sulit menghadapi babak kedua. Ini penjelasan yang masuk akal, tetapi sekaligus menegaskan masalah yang tak selesai hanya dengan menunjuk ke jadwal tengah pekan. Kebugaran untuk berlatih tidak otomatis sama dengan kesiapan menghadapi intensitas pertandingan. Persija juga kehilangan kendali karena kesalahan sendiri, menurut Choi, sehingga kondisi fisik bukan satu-satunya alasan hasil imbang. Namun, ketika tim tak mampu menutup pertandingan setelah unggul, kesiapan para pemain yang diturunkan layak menjadi perhatian utama, bukan pembenaran yang menutup evaluasi.
Pemain pelapis butuh menit, bukan sekadar kesempatan sesekali
Minimnya menit bermain pemain pelapis Persija di Liga 1 menjadi bagian penting dari persoalan. Choi menyebut banyak pemain yang tampil melawan PSMS jarang mendapat kesempatan di liga, sehingga kondisi fisik untuk pertandingan belum sempurna. Persija menurunkan sejumlah nama yang jarang bermain, termasuk Aqil Savik dan Eksel Runtukahu, sementara empat pemain muda menjadi starter: Dia Syayid, Figo Dennis, Agi Firmansyah, dan Victor Dethan. Memberi mereka panggung adalah langkah yang tepat, tetapi satu laga tak cukup untuk membangun ritme dan pengalaman. Jika pelapis hanya dimainkan saat rotasi besar, mereka akan terus masuk ke pertandingan tanpa kesiapan yang dibentuk bertahap. Karena itu, hasil ini seharusnya mendorong Persija memikirkan cara memberi mereka menit yang lebih konsisten, bukan sekadar berharap penampilan membaik dengan sendirinya.
Apresiasi pemain muda perlu diikuti rencana yang jelas
Choi tidak sepenuhnya kecewa. Ia mengapresiasi perjuangan pemain muda yang tampil di Medan dan memaklumi bahwa pemain yang minim kesempatan belum berada pada bentuk terbaiknya. Sikap itu proporsional: para pemain muda menghadapi tekanan suporter tuan rumah dan tetap membantu Persija mencetak gol pembuka. Namun, pujian tidak boleh menggantikan tuntutan peningkatan. Persija masih dijadwalkan menjamu Sumsel United, dan kesempatan bermain berikutnya dapat menjadi ruang untuk memperbaiki koordinasi serta ketahanan permainan. Hasil imbang ini bukan alasan untuk mencoret para pelapis, tetapi juga bukan hasil yang patut dianggap cukup. Kesimpulannya, Persija kehilangan poin karena gagal menjaga keunggulan, sementara minimnya jam terbang dan kebugaran pertandingan memperbesar kesulitan. Jalan keluarnya ialah memberi pemain cadangan pengalaman lebih teratur dan menuntut mereka siap mengubah kesempatan menjadi kontribusi nyata.






