Satu poin yang terasa kurang
Hasil Persija PSMS adalah hasil imbang 1-1 pada laga pembuka I.League Cup, ketika keunggulan Persija atas tuan rumah berubah menjadi satu poin setelah gol balasan pada babak kedua. Persija Jakarta gagal mengawali Grup A dengan kemenangan setelah ditahan PSMS Medan di Stadion Utama Sumatera Utara, Deli Serdang, Selasa (3/11/2026). Bagi tim yang datang dengan target tiga poin, hasil ini jelas kurang memuaskan. Namun, skor akhir juga tidak seharusnya menutupi masalah permainan yang membuat kemenangan lepas. Figo Dennis membawa Persija unggul pada menit ke-43, tetapi Phillerson menyamakan kedudukan pada menit ke-79. Persija imbang PSMS bukan semata soal gagal menjaga skor; laga ini menjadi pengingat bahwa keunggulan sebelum jeda perlu ditopang kendali permainan dan kesiapan fisik hingga akhir.

Kebugaran dan kesalahan mengubah alur
Asisten pelatih Choi In-cheol menyoroti kebugaran dan pengalaman sebagai faktor yang memengaruhi laga, sekaligus mengakui banyaknya kesalahan Persija setelah turun minum. Sorotan itu penting: setelah unggul, Persija semestinya lebih cermat mengelola tempo, bukan memberi lawan ruang untuk mengambil alih inisiatif. Choi menyebut kesalahan pemain mengubah alur pertandingan dan membuat babak kedua lebih sulit bagi timnya. Dengan demikian, evaluasi kebugaran pemain Persija perlu berjalan beriringan dengan pembenahan keputusan dan eksekusi di lapangan. Kelelahan bisa menjadi bagian dari penjelasan, tetapi tidak menghapus tanggung jawab atas kesalahan yang merusak kendali. Dalam pertandingan dengan keunggulan tipis, disiplin dan ketenangan setelah jeda sama pentingnya dengan tenaga.
Ada sisi positif, tetapi standar tetap tiga poin
Choi tidak menyembunyikan bahwa Persija mengincar kemenangan, tetapi ia tetap mengapresiasi perjuangan tim dan menilai kedua kesebelasan telah berusaha menyajikan pertandingan yang baik. Ia juga menyoroti kesempatan yang dimanfaatkan para pemain muda. Empat pemain berusia 20 hingga 22 tahun—Dia Syayid, Figo Dennis, Agi Firmansyah, dan Victor Dethan—turun sejak awal, sementara Nathan Fariel, Arlyansyah Abdulmanan, dan Dony Tri Pamungkas mendapat kesempatan setelah jeda. Respons positif staf pelatih masuk akal sebagai pengakuan atas usaha dan kontribusi pemain muda, terlebih Persija bermain di hadapan pendukung tuan rumah. Namun, kepuasan terhadap perjuangan tidak boleh mengaburkan hasil: Persija datang untuk tiga poin dan hanya membawa pulang satu. Apresiasi sebaiknya menjadi modal evaluasi, bukan alasan untuk mengecilkan hilangnya keunggulan.
Kesimpulan: evaluasi harus lebih tajam
Hasil imbang ini memberi Persija bahan evaluasi yang jelas. Kebugaran dan pengalaman perlu diperhatikan, tetapi pengakuan Choi tentang kesalahan pada babak kedua menunjukkan bahwa konsentrasi serta penguasaan alur permainan juga harus dibenahi. Gol Figo Dennis sempat menempatkan Persija di jalur kemenangan; gol balasan Phillerson memperlihatkan bahwa keunggulan itu tidak cukup terlindungi. Poin dari Medan tetap bernilai, dan kesempatan bagi pemain muda merupakan sisi positif dari laga pembuka I.League Cup. Namun, ukuran kemajuan berikutnya bukan sekadar semangat atau penampilan menjanjikan, melainkan kemampuan Persija menjaga kendali sampai peluit akhir. Itulah pelajaran utama dari Persija imbang PSMS: evaluasi yang jujur harus mengakui usaha tim sekaligus menuntut perbaikan atas kesalahan yang membuat kemenangan terlepas.






