Jalan layak adalah akses menuju kehidupan sehari-hari
Perbaikan jalan daerah adalah pembenahan jalur publik agar warga dapat bepergian dengan lebih aman dan lancar, sekaligus menjaga hubungan antarkawasan dan mendukung kegiatan ekonomi sehari-hari. Rampungnya Jalan Cibeber Sukahaji di Kabupaten Bandung dan jalan penghubung KTM Tobadak di Mamuju Tengah memperlihatkan dua kebutuhan yang berbeda, tetapi sama-sama mendesak: memulihkan konektivitas setelah kerusakan berat dan mengakhiri gangguan debu serta becek. Di Bandung, ruas sepanjang 2,4 kilometer yang sebelumnya rusak parah dan terdampak longsor telah selesai diperbaiki dan diresmikan. Di Tobadak, sekitar 200 meter jalan penghubung kompleks Kota Terpadu Mandiri dan Jalan H Aras Tammauni telah dibeton, menurut pantauan pada 25 Oktober 2026. Ukurannya berbeda, namun hasil yang perlu dinilai sama: apakah perjalanan warga menjadi lebih mudah dan akses penting tetap terhubung.

Bandung: satu ruas selesai, pekerjaan masih panjang
Jalan Cibeber Sukahaji penting bukan semata karena panjangnya, melainkan karena menghubungkan Kabupaten Bandung dengan Kabupaten Bandung Barat. Perbaikan 2,4 kilometer itu didanai Rp 15,2 miliar dari program Instruksi Presiden Jalan Daerah, contoh bahwa kolaborasi pusat dan daerah dapat menutup keterbatasan anggaran lokal. Namun satu proyek tuntas belum berarti kebutuhan jalan kabupaten terpenuhi. Bupati Bandung Dadang Supriatna menyebut sekitar 1.100 kilometer dari total kurang lebih 1.500 kilometer jalan kabupaten telah tertangani; sekitar 400 kilometer masih memerlukan penanganan. Ia menargetkan seluruh ruas ditangani hingga 2028, dengan realisasi yang tetap bergantung pada anggaran dan dukungan pembiayaan. Jalan Londok disebut sebagai salah satu ruas yang diharapkan mendapat perhatian berikutnya. Target itu patut diuji melalui kesinambungan pendanaan dan prioritas yang jelas, bukan hanya peresmian satu ruas.
Tobadak: perubahan kecil yang langsung terasa
Di Tobadak, manfaat beton terlihat pada gangguan yang akrab bagi pengguna jalan: debu beterbangan saat kemarau, lalu permukaan licin dan becek ketika hujan. Jalan penghubung kompleks KTM menuju Jalan H Aras Tammauni, di Dusun Benteng, Desa Tobadak, kini mulus setelah dibeton. Pengerjaan sekitar 200 meter itu dilakukan Pemerintah Kabupaten Mamuju Tengah melalui Dinas Pekerjaan Umum dan Penataan Ruang dengan anggaran APBD Rp570.057.000; papan proyek mencantumkan target penyelesaian 17 Desember 2026. Seorang pengendara, Fahmi, mengatakan mobilitas warga lebih lancar sejak perbaikan. Skala proyeknya jauh lebih kecil daripada Cibeber-Sukahaji, tetapi manfaat sehari-harinya mudah dikenali: perjalanan tidak lagi menghadapi debu dan becek di ruas tersebut. Pengalaman ini juga menggarisbawahi harapan warga agar jalan rusak lainnya terus mendapat perhatian.
Keberhasilan harus diukur dari akses yang bertahan
Perbandingan kedua proyek menunjukkan bahwa perbaikan jalan tidak bisa dinilai hanya dari panjang ruas atau besarnya pekerjaan. Cibeber-Sukahaji menangani koneksi lintas kabupaten dan menjadi bagian dari pekerjaan besar untuk mengejar 400 kilometer jalan yang belum tertangani. Jalan beton Tobadak menjawab masalah lokal yang dirasakan langsung dalam pergantian musim. Keduanya memperlancar mobilitas, dan jalan yang memadai juga berpotensi menggerakkan kegiatan ekonomi serta kesejahteraan warga sekitar. Langkah berikutnya adalah menjaga mutu dan memastikan pemeliharaan agar manfaat tidak berhenti setelah proyek selesai. Pemerintah Kabupaten Bandung perlu menjaga laju menuju target 2028, sementara harapan warga Tobadak agar ruas rusak lain diperhatikan perlu masuk dalam penentuan prioritas. Kesimpulannya, proyek jalan berhasil bukan ketika beton atau aspal selesai dipasang, melainkan ketika akses warga tetap aman, nyaman, dan berfungsi dalam jangka panjang.






