Temukan minat Anda, bersama

Promo pilihan, ulasan jujur, dan cerita belanja dari mereka yang seminat dengan Anda — setiap hari di Kuybeli.

Temukan minat Anda, bersamaPromo pilihan, ulasan jujur, dan cerita belanja dari mereka yang seminat dengan Anda — setiap hari di Kuybeli.

Jaringan Irigasi Lombok Timur Butuh Rp21 Miliar untuk Memulihkan Pertanian

Jaringan Irigasi Lombok Timur Butuh Rp21 Miliar untuk Memulihkan Pertanian
Minat|Asia Tenggara

Irigasi Lombok Timur: Penopang Pangan yang Sedang Sakit

Irigasi Lombok Timur adalah sistem jaringan saluran air yang mengalirkan sumber air ke sawah dan lahan pertanian masyarakat, berfungsi menjaga produktivitas petani, menopang ketahanan pangan daerah, dan melindungi mata pencaharian warga desa yang bergantung pada sektor pertanian sebagai sumber hidup utama. Ketika jaringan ini rusak, yang terguncang bukan hanya aliran air, tapi seluruh ekosistem sosial ekonomi di tingkat desa. Itulah sebabnya Forum Komunikasi Kepala Desa (FKKD) Lombok Timur menempatkan perbaikan jaringan irigasi sebagai kebutuhan yang disorot, bukan sekadar pelengkap pembangunan jalan. Aspirasi itu disampaikan ketuanya, M. Khairul Ihsan, saat Hari Jadi Lombok Timur ke-131, sekaligus tekanan moral agar pemerintah berhenti menganggap irigasi sebagai proyek teknis dan mulai melihatnya sebagai fondasi pertanian berkelanjutan dan ketahanan pangan lokal.

Jaringan Irigasi Lombok Timur Butuh Rp21 Miliar untuk Memulihkan Pertanian

Rp21 Miliar Anggaran Pemulihan Gempa: Cukup atau Sekadar Tambal Sulam?

Ketika Khairul Ihsan meminta kepastian langkah pemerintah menangani kerusakan irigasi, ia sebenarnya sedang menagih keberpihakan terhadap petani yang tiap musim bergantung pada aliran air. Bupati Haerul Warisin menjawab dengan strategi mengejar anggaran pemulihan gempa dari pusat, karena keterbatasan fiskal daerah membuat Pemkab tidak bisa hanya mengandalkan APBD. Dalam pernyataannya, Haerul menyebut, “InsyaAllah, untuk kelompok P3A dalam arti irigasi, itu lebih dari Rp21 miliar yang bisa kita hadirkan di Lombok Timur ini,” sebagai bentuk komitmen menghadirkan anggaran langsung kepada kelompok tani. Skema ini menarik: dana tidak masuk kas daerah, tetapi disalurkan ke kelompok tani sebagai pelaksana pembangunan dan perbaikan irigasi. Secara teori, ini bisa membuat pemulihan infrastruktur air lebih tepat sasaran. Namun pertanyaannya, apakah Rp21 miliar cukup untuk memastikan tidak ada lagi irigasi rusak yang merugikan petani dari sisi air, seperti ditekankan bupati sendiri.

Pelajaran dari Sajang: Ketika Irigasi Pulih, Ekonomi Desa Bangkit

Contoh paling nyata bagaimana pemulihan infrastruktur air mengubah nasib petani datang dari Desa Sajang, Kecamatan Sembalun. Program pemulihan infrastruktur pascagempa yang dijalankan UNDP memperbaiki dua titik saluran irigasi dengan total panjang 450 meter, yang menjadi jalur utama distribusi air bagi masyarakat yang mayoritas petani. Akibat gempa 2018, aliran air sempat terputus, membuat lahan pertanian seluas 50 hektare kehilangan pasokan air dan mata pencaharian warga lumpuh. Setelah perbaikan, distribusi air kembali lancar, lahan 50 hektare dioptimalkan lagi, dan produktivitas pertanian pulih bertahap. Abdul Wahid dari Kelompok Tani Sajang menegaskan, setelah program itu dijalankan, aliran air lancar dan pertanian kembali membaik. Dialognya dengan Putri Mahkota Swedia di Balai Kita hanya menegaskan satu hal: pemulihan irigasi bukan proyek infrastruktur semata, melainkan intervensi langsung ke jantung ekonomi desa dan ketahanan pangan lokal.

Pertanian Berkelanjutan: Dari Saluran Irigasi ke Ketahanan Pangan Desa

Kisah Sajang menunjukkan bahwa pertanian berkelanjutan dimulai dari keputusan sederhana: mengalirkan air secara pasti dan menjaga saluran bersama-sama. Warga Sajang berkomitmen merawat saluran irigasi secara swadaya agar tetap berfungsi dan mampu memenuhi kebutuhan pengairan. Komitmen sosial seperti ini seharusnya menjadi bagian dari strategi besar pemulihan infrastruktur air di Lombok Timur. Pemerintah daerah menyatakan tidak ingin irigasi rusak karena akan langsung merugikan petani, sambil merencanakan penganggaran APBD secara bertahap dan terus berkomunikasi dengan pemerintah pusat untuk tambahan dukungan. Di tingkat kebijakan, ini sudah berada di jalur yang tepat. Namun keberlanjutan membutuhkan konsistensi: memastikan setiap rupiah anggaran pemulihan gempa benar-benar mengalir sampai ke sawah, bukan berhenti di berkas proyek. Irigasi yang diperbaiki terbukti menjaga produktivitas petani dan memperkuat posisi Lombok Timur sebagai penopang pangan daerah.

Kesimpulan: Irigasi sebagai Ukur Seberapa Serius Kita Menjaga Petani

Jika Lombok Timur ingin benar-benar menjadi penyumbang pangan terbesar untuk menopang NTB seperti diimpikan para kepala desa, irigasi tidak boleh lagi diperlakukan sebagai urusan teknis pinggiran. Rp21 miliar dari pusat bisa menjadi titik awal pemulihan, tetapi keberhasilan nyata baru terlihat ketika setiap desa merasakan aliran air yang stabil dan petani tidak lagi berhitung kehilangan musim tanam akibat saluran rusak. Pengalaman Sajang menunjukkan bahwa pemulihan irigasi mampu memulihkan ekonomi desa, memperkuat ketahanan pangan, dan memberi harapan baru bagi mata pencaharian warga. Langkah berikutnya jelas: bangun jaringan irigasi dengan melibatkan petani, jaga bersama sebagai bagian dari pertanian berkelanjutan, dan jadikan kondisi saluran irigasi sebagai indikator seberapa serius kebijakan publik melindungi mereka yang memberi makan kita setiap hari.

Kuybeli memperoleh komisi saat Anda berbelanja melalui tautan kami, tanpa biaya tambahan untuk Anda.

You May Also Like

Comments
Tulis sesuatu...
Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berbagi pendapat!