Temukan minat Anda, bersama

Promo pilihan, ulasan jujur, dan cerita belanja dari mereka yang seminat dengan Anda — setiap hari di Kuybeli.

Temukan minat Anda, bersamaPromo pilihan, ulasan jujur, dan cerita belanja dari mereka yang seminat dengan Anda — setiap hari di Kuybeli.

Dua Guru Besar, Dua Jalan Riset: AI Adaptif dan Kriya Tradisional

Dua Guru Besar, Dua Jalan Riset: AI Adaptif dan Kriya Tradisional
Minat|Analisis Data AI

Pengukuhan yang mempertemukan teknologi dan tradisi

Riset kampus yang berdampak menghubungkan pengetahuan dengan kebutuhan manusia, baik dengan membuat teknologi lebih tanggap terhadap pilihan pengguna maupun dengan menjaga keterampilan tradisional tetap berlanjut. Gagasan itu tercermin dalam pengukuhan dua guru besar Telkom University pada Sidang Terbuka Senat di Auditorium Gedung Damar, Bandung, 29 Oktober 2026. Prof. Dr. Fajar Ciptandi dikukuhkan dalam bidang Tradition-Based Product di Fakultas Industri Kreatif, sementara Prof. Dr. Z. K. Abdurahman Baizal menjadi guru besar bidang Recommender System di Fakultas Informatika. Kontras keilmuan mereka bukan sekadar soal satu kampus menaungi dua disiplin. Keduanya menantang ukuran kemajuan yang terlalu sempit: teknologi tidak seharusnya mendikte pilihan, dan pelestarian tidak semestinya membekukan tradisi. Dengan 21 guru besar setelah pengukuhan ini, Tel-U punya alasan untuk menunjukkan bahwa keluasan akademik baru berarti ketika menjawab persoalan nyata.

Dua Guru Besar, Dua Jalan Riset: AI Adaptif dan Kriya Tradisional

Recommender system adaptif memberi ruang untuk memilih

Rekomendasi digital kerap mempersempit pandangan: pengguna terus disodori pilihan serupa, sementara persoalan seperti cold start dan filter bubble dapat mengurangi relevansi serta keragaman hasil. Baizal menawarkan arah berbeda melalui Interactive Recommender System, sebuah recommender system adaptif yang menjadikan personalisasi dialog dua arah dan memberi pengguna kendali lebih besar. Dampaknya terasa dalam contoh sehari-hari: saat merancang rute wisata, seseorang dapat mengutamakan anggaran, menambah tujuan, atau menyaring tempat populer sesuai preferensi hariannya. Kerangka percakapan yang dikembangkan juga memungkinkan rekomendasi direvisi seketika lewat percakapan atau tombol interaktif. Setelah satu dekade riset, Baizal menghasilkan tiga algoritma—Comotrip, DBF, dan HXBC—yang terbit di jurnal internasional bereputasi Q1. Namun ukuran keberhasilannya bukan jumlah algoritma semata. Nilai riset ini terletak pada AI berpusat manusia: sistem belajar memahami keragaman pilihan, bukan mengarahkan orang ke satu jalur. Ke depan, risetnya diarahkan pada Neuro-Symbolic AI untuk mendukung pariwisata cerdas.

Dua Guru Besar, Dua Jalan Riset: AI Adaptif dan Kriya Tradisional

Batik gedog membutuhkan ekosistem, bukan sekadar motif

Pada kriya tradisional batik, menjaga motif saja tidak cukup jika orang yang membuatnya dan bahan yang menopang produksinya kian sulit ditemukan. Penelitian Fajar, yang berbasis masyarakat sejak 2018, berfokus pada keberlanjutan batik gedog di Karang, Kabupaten Tuban. Rantai tradisinya mencakup penanaman kapas, pemintalan benang, penenunan, hingga pembatikan; kelangkaan kapas dan indigo serta melemahnya regenerasi perajin mengancam pengetahuan di sepanjang proses tersebut. Fajar mengingatkan bahwa pelestarian terjepit antara pendekatan konservatif yang membatasi perubahan dan komodifikasi pasar yang berisiko mengubah nilai budaya menjadi nilai ekonomi belaka. Jawabannya bukan inovasi dari atas, melainkan kerja bersama: perajin ikut menentukan arah pengembangan, sementara peneliti menjadi penghubung tradisi dengan kebutuhan masa kini. Pendekatan ini lebih menjanjikan karena tradisi hanya dapat bertahan bila masyarakat yang menjaganya punya suara dan alasan untuk meneruskannya.

Dua Guru Besar, Dua Jalan Riset: AI Adaptif dan Kriya Tradisional

Ukuran dampak ada pada manusia dan keberlanjutan

Dua bidang ini bertolak dari masalah yang berbeda, tetapi bertemu pada satu prinsip: pihak yang terdampak harus ikut menentukan hasil. Dalam sistem rekomendasi, pengguna perlu dapat mengoreksi pilihan yang disarankan; dalam pengembangan kriya, perajin bukan objek penelitian, melainkan mitra dalam inovasi. Kontras itu memperlihatkan cakupan riset kampus dari AI yang berpusat pada pengguna hingga pelestarian tradisi, dan menempatkan dampak sosial sebagai ukuran yang lebih berarti daripada kebaruan teknologi atau produk semata. Rekam jejak Fajar mencakup 87 artikel, lebih dari 13 hak cipta, dua paten, dan enam buku di bidang inovasi kriya serta produk berbasis tradisi. Capaian tersebut penting, tetapi tantangan sesungguhnya ada pada kelanjutan: apakah rekomendasi digital makin mudah diarahkan oleh penggunanya, dan apakah ekosistem batik gedog tetap memiliki bahan serta penerus? Pengukuhan ini layak dipandang sebagai awal tanggung jawab, bukan garis akhir penghargaan akademik.

Kuybeli memperoleh komisi saat Anda berbelanja melalui tautan kami, tanpa biaya tambahan untuk Anda.

You May Also Like

Comments
Tulis sesuatu...
Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berbagi pendapat!