Inovasi yang menempatkan manusia sebagai pusat
AI dan kriya adalah dua ranah inovasi yang dapat berkembang berdampingan ketika teknologi dan pembaruan produk menghormati pengetahuan, pilihan, serta kebutuhan manusia yang terlibat di dalamnya. Prinsip itu tercermin dalam pengukuhan Prof. Dr. Fajar Ciptandi sebagai Guru Besar bidang Tradition Based Product di Fakultas Industri Kreatif dan Prof. Dr. Z.K. Abdurahman Baizal sebagai Guru Besar bidang Recommender System di Fakultas Informatika Telkom University. Sidang Terbuka Senat berlangsung di Bandung pada Kamis, 29 Oktober 2026. Kedua pengukuhan ini menawarkan sudut pandang yang saling melengkapi: tradisi tidak harus dibekukan agar lestari, sementara kecerdasan buatan tidak semestinya mengambil alih kendali manusia. Nilai risetnya terletak bukan semata pada kebaruan, melainkan pada siapa yang ikut menentukan arah perubahan dan siapa yang memperoleh manfaat darinya.
Kriya tradisional membutuhkan ekosistem, bukan sekadar desain baru
Fajar menyoroti pilihan sulit dalam pelestarian kriya tradisional: mempertahankan praktik secara kaku dapat membatasi perubahan, sedangkan dorongan pasar berisiko menyusutkan makna budaya menjadi nilai jual. Solusinya, menurut gagasan inovasi endogen, bukanlah pembaruan yang dirancang dari luar lalu diserahkan kepada perajin. Masyarakat dan perajin perlu menjadi pelaku utama sekaligus mitra dalam proses penciptaan. Penelitian batik gedog yang dilakukan sejak 2018 di Kerek, Tuban, memperlihatkan alasan pendekatan ekosistem diperlukan: bahan seperti kapas dan indigo kian berkurang, sementara regenerasi perajin melemah. Karena itu, memperbarui bentuk atau kemasan saja tidak cukup. Pengembangan juga perlu memperhatikan lingkungan, pengetahuan setempat, dan keberlanjutan praktik. Ketika perajin ikut menentukan keputusan, inovasi lebih mungkin menjawab persoalan nyata tanpa memutus hubungan produk dengan asal-usul budayanya.
Dampak pendekatan tersebut dapat terlihat pada peluang pengembangan produk dan pasar. Ragam hasil batik gedog berkembang dari kain ke produk interior, sementara pemasaran yang sebelumnya berpusat di Tuban dan sekitarnya mulai menjangkau Jakarta; produk dari merek besar yang terlibat dalam pengembangan bahkan telah masuk pasar ekspor Singapura. Perluasan ini memberi peluang baru bagi perajin, tetapi bukan ukuran tunggal keberhasilan. Jika ekspansi tidak disertai perhatian pada bahan baku, regenerasi, dan posisi perajin, pertumbuhan pasar dapat mengulang masalah komodifikasi yang hendak dihindari. Ukuran yang lebih bermakna ialah apakah ekosistem penghasil kriya ikut menguat.
Recommender system yang memberi ruang untuk memilih
Riset Baizal membawa persoalan manusia ke ranah digital. Recommender system konvensional dapat kesulitan saat data pengguna masih sedikit—masalah cold start—dan berisiko membatasi ragam informasi melalui filter bubble. Interactive Recommender System (IRS) merespons keterbatasan itu dengan menjadikan rekomendasi sebagai proses dua arah: pengguna menyampaikan kebutuhan, memberi masukan, lalu mempertahankan kendali atas keputusan akhir. Dalam sistem percakapan yang dikembangkan Baizal, rekomendasi dapat direvisi seketika melalui percakapan atau tombol interaktif. Ini lebih dari peningkatan kenyamanan. Sistem yang membuka ruang koreksi mengakui bahwa preferensi manusia berubah dan bahwa saran algoritma bukan keputusan yang harus diterima begitu saja. Untuk perencanaan wisata multi-hari, misalnya, pengguna dapat menyesuaikan pilihan rute dengan prioritasnya sendiri.
Riset sistem rekomendasi Baizal berlangsung selama satu dekade, dari 2016 hingga 2026, dengan perhatian pada umpan balik langsung untuk menyempurnakan hasil rekomendasi. Ia juga mengembangkan sistem rekomendasi percakapan berbasis ontologi semantik dan Large Language Model, serta rekomendasi rute interaktif untuk perencanaan wisata. Arah berikutnya adalah pendekatan Neuro-Symbolic AI bagi pengembangan kecerdasan buatan yang lebih andal untuk mendukung pariwisata cerdas. Namun, kecanggihan teknis saja belum menjamin AI humanis. Nilainya bergantung pada apakah pengguna benar-benar memahami pilihan, dapat mengoreksi hasil, dan tetap berwenang mengambil keputusan.
Ujian berikutnya adalah manfaat yang terukur
Kedua orasi bertolak dari bidang berbeda, tetapi bertemu pada gagasan yang sama: manusia harus ikut membentuk inovasi, bukan sekadar menyesuaikan diri dengannya. Dalam kriya, itu berarti perajin dan komunitas menentukan arah perubahan yang sesuai dengan tradisi serta kebutuhan lokal. Dalam AI, artinya pengguna dapat berdialog dengan sistem dan menentukan pilihan berdasarkan kebutuhannya. Kesamaan ini membuat pertemuan antara kriya tradisional dan teknologi relevan: perangkat digital dapat membantu mengenalkan produk atau memahami preferensi, tetapi penerapannya harus tunduk pada tujuan dan nilai komunitas, bukan menggantikannya. Langkah selanjutnya ialah menguji riset kedua bidang tersebut agar dapat diterapkan dan memberi manfaat nyata bagi masyarakat maupun industri. Pengukuhan akademik menjadi awal tanggung jawab itu, bukan bukti bahwa persoalan telah selesai.
Pada akhirnya, inovasi tidak layak disebut maju hanya karena produknya baru atau algoritmanya canggih. Ia perlu menjaga keberlanjutan tradisi, memperkuat peran perajin, dan memberi pengguna kendali yang nyata. Pendekatan humanis bukan hiasan bagi riset; itulah ukuran untuk menilai apakah teknologi dan pembaruan benar-benar melayani manusia. Jika prinsip tersebut dijaga, AI dan kriya dapat saling mendukung tanpa mengorbankan nilai budaya ataupun kebebasan memilih.






