Mencegah kekerasan di sekolah dimulai dari rumah dan ruang kelas
Mencegah kekerasan di sekolah adalah upaya terencana untuk melindungi anak dari kekerasan fisik, kekerasan seksual, perundungan, dan praktik merugikan seperti perkawinan usia anak, melalui kerja sama erat antara keluarga, sekolah, dan pemerintah yang berfokus pada keselamatan anak dalam pendidikan serta pembentukan lingkungan belajar yang aman dan suportif. Wakil Gubernur NTB Indah Dhamayanti Putri menegaskan bahwa peran keluarga dan sekolah tidak bisa dipisahkan ketika membahas kekerasan fisik, kekerasan seksual anak, dan perkawinan usia anak. Pesannya jelas: berhenti saling menyalahkan, mulai duduk bersama mencari solusi. Sikap ini penting karena kekerasan di lingkungan pendidikan bukan sekadar pelanggaran aturan, melainkan ancaman langsung terhadap masa depan anak. Ketika rumah abai dan sekolah tidak peka, anak dibiarkan berhadapan dengan risiko tanpa pelindung. Karena itu, peran keluarga sekolah harus dipahami sebagai tanggung jawab bersama, bukan beban sepihak.
Arahan pemimpin daerah: dari sosialisasi ke perubahan nyata
Indah Dhamayanti Putri menyampaikan peringatannya dalam kegiatan sosialisasi kekerasan fisik dan seksual serta pendewasaan usia perkawinan di SMKN 3 Sumbawa pada Kamis 22 Oktober 2026. Kegiatan ini menyasar pelajar yang sedang berada pada masa peralihan dari remaja menuju dewasa, fase ketika rasa ingin tahu tinggi tetapi kemampuan mengelola risiko belum matang. Di sisi lain, Wali Kota Kediri Vinanda Prameswati mengingatkan pentingnya mencegah kekerasan sekolah saat menghadiri peringatan HUT ke-81 PGRI dan Hari Guru Nasional di SMPN 2 Kota Kediri pada Jumat 23 Oktober 2026. Ia menekankan bahwa satuan pendidikan harus menjadi tempat yang aman bagi anak untuk belajar, berkembang, dan meraih masa depan tanpa dibayangi rasa takut. Dua suara ini menunjukkan pola yang sama: pemimpin daerah mulai menempatkan keselamatan anak dalam pendidikan sebagai agenda politik dan moral, bukan sekadar tema seremonial.

Tanggung jawab bersama: keluarga, guru, dan sistem pendidikan
Pesan yang berulang dari kedua pemimpin daerah adalah bahwa peran keluarga sekolah harus saling melengkapi, bukan saling menuduh. Di Sumbawa, Indah Dhamayanti Putri mengingatkan bahwa persoalan kekerasan tidak boleh hanya dianggap sebagai kesalahan orang tua; kurangnya pengawasan di dunia pendidikan juga berkontribusi. Di Kediri, Vinanda menyoroti bahwa kekerasan di sekolah, baik antarpeserta didik maupun yang melibatkan tenaga pendidik, dapat meninggalkan trauma berkepanjangan dan memengaruhi masa depan anak. Guru, terutama guru bimbingan dan konseling, diminta memberi perhatian kepada seluruh siswa, bukan hanya yang menonjol secara akademik. Ini penting karena anak yang tampak “biasa-biasa saja” sering kali menjadi korban diam yang tidak terlihat. Ketika keluarga dan pendidik bekerja sama mendampingi anak menghadapi tantangan selama masa pertumbuhan, rantai kekerasan seksual anak dan kekerasan fisik mulai terputus dari akar.
Strategi pencegahan: dari sosialisasi berjenjang hingga lingkungan aman
Upaya mencegah kekerasan sekolah tidak cukup dengan satu kali seminar. Indah Dhamayanti Putri menilai sosialisasi harus dilakukan secara berkelanjutan karena setiap pelajar merespons materi secara berbeda dan membutuhkan pendekatan yang berulang. Ia meminta Ketua Gabungan Organisasi Wanita Kabupaten Sumbawa melanjutkan sosialisasi secara berjenjang hingga ke tingkat SMP, agar intervensi datang lebih dini sebelum anak terpapar risiko lebih besar. Wakil Bupati Sumbawa Mohamad Ansori juga mendorong agar kegiatan serupa tidak berhenti di satu sekolah, tetapi meluas ke SMA dan SMK lain. Di Kediri, Vinanda menekankan bahwa guru harus menanamkan nilai kejujuran, tanggung jawab, kedisiplinan, dan saling menghargai sebagai benteng budaya terhadap kekerasan. "Anak-anak adalah aset bangsa yang harus kita jaga bersama. Mari kita ciptakan lingkungan pendidikan yang aman dan nyaman, jauh dari kekerasan," tegasnya. Tanpa perubahan budaya di kelas dan di rumah, sosialisasi hanya akan menjadi slogan.
Dari evaluasi ke komitmen jangka panjang melindungi anak
Langkah penting yang sering dilupakan adalah evaluasi. Indah Dhamayanti Putri mendorong pemetaan hasil sosialisasi secara acak di 10 kabupaten/kota untuk melihat apakah program yang dijalankan benar-benar menurunkan angka persoalan kekerasan dan perkawinan usia anak atau hanya berjalan di tempat. Melalui kegiatan ini, pemerintah daerah bersama keluarga, sekolah, dan masyarakat berupaya memperkuat perlindungan terhadap anak. Di Kediri, komitmen pemerintah untuk mendengarkan masukan guru menjadi modal penting agar kebijakan keselamatan anak dalam pendidikan tidak berhenti di pidato. Intinya, mencegah kekerasan fisik, kekerasan seksual anak, dan perkawinan usia anak membutuhkan komitmen jangka panjang: sosialisasi berjenjang, lingkungan pendidikan yang aman, keluarga yang terlibat, dan pemerintah yang mau mengukur keberhasilan, bukan sekadar menggelar acara. Tanpa itu, kita membiarkan sekolah menjadi ruang yang berpotensi melukai anak, bukan melindungi mereka.






