Apa Itu Candle Cable System dan Mengapa Penting
Candle Cable System adalah proyek kabel laut submarine sepanjang sekitar 8.000 kilometer yang dibangun XLSmart untuk menghubungkan beberapa negara di Asia, termasuk Singapura, Malaysia, Filipina, Taiwan, hingga Jepang, dengan titik pendaratan utama di Batam, guna memperkuat infrastruktur digital Indonesia dan konektivitas internasional berkapasitas tinggi. Proyek ini bukan sekadar tambahan kabel di dasar laut; ini adalah pernyataan ambisi bahwa konektivitas Asia Tenggara ke pusat-pusat data dan layanan digital regional harus naik kelas. XLSmart menyebut Candle sebagai investasi strategis jangka panjang, karena pertumbuhan ekonomi digital menuntut kapasitas data dan akses global yang jauh lebih besar. Jika selama ini banyak bisnis tergantung pada rute kabel lama yang padat dan rentan gangguan, Candle menawarkan jalur ‘tol internet’ baru yang lebih siap menampung lonjakan trafik cloud, AI, dan layanan digital lain. Sikap agresif XLSmart ini patut dibaca sebagai upaya mengunci posisi sebagai pemain utama infrastruktur digital, bukan sekadar operator telekomunikasi biasa.
Detail Proyek: Dari Golden Buoy Batam ke Hub Asia
Secara teknis, Candle Cable System adalah sistem komunikasi kabel laut (SKKL) berkapasitas besar yang mulai dibangun sejak Desember 2024 dan kini memasuki fase penting dengan pendaratan Golden Buoy di Tanjung Bemban, Batam. Pemilihan Batam jelas bukan kebetulan: kawasan ini sudah tumbuh sebagai hub hyperscaler dan perusahaan telekomunikasi, sehingga tambahan satu landing point baru berpotensi mengubahnya menjadi simpul utama data center regional. Jalur 8.000 km ini menghubungkan Batam dengan Singapura, Malaysia, Filipina, Taiwan, dan Jepang, sekaligus menambah pilihan konektivitas internasional bagi pasar Asia Tenggara. Kolaborasi dengan Meta, Globe Telecom, IPS Inc., Telekom Malaysia, SoftBank Japan, serta NEC sebagai mitra teknologi menunjukkan bahwa Candle bukan proyek lokal, melainkan bagian dari arsitektur jaringan global yang lebih besar. Dalam konteks konektivitas Asia Tenggara, langkah ini mengurangi ketergantungan pada rute lama dan memperbanyak jalur alternatif jika terjadi gangguan.
Dampak ke Dunia Usaha dan Pengguna: Dari Cloud ke AI
Manfaat nyata Candle akan terasa pertama kali di segmen pelanggan enterprise. XLSmart menegaskan bahwa jaringan ini dirancang untuk menyediakan layanan berkapasitas tinggi, reliable, dan scalable, termasuk untuk kebutuhan cloud, AI, serta berbagai layanan digital lain yang membutuhkan bandwidth besar dan latency rendah. Bagi perusahaan yang makin bergantung pada data lintas negara, jalur baru ini berarti koneksi lebih stabil, pilihan rute lebih banyak, dan resiliensi jaringan yang lebih baik. Tidak berlebihan jika dikatakan, “Bagi pelanggan enterprise, Candle memberikan pilihan konektivitas internasional yang lebih luas, berkapasitas tinggi, reliable, dan scalable,” ujar Direktur & Chief Enterprise Business Officer XLSmart, Andrijanto Muljono. Keterhubungan data center di Batam dengan negara-negara sepanjang rute Candle akan memicu aktivitas bisnis digital baru, dari layanan SaaS regional, permainan online, hingga solusi analitik berbasis AI. Pada akhirnya, pengguna umum akan menikmati internet lebih konsisten, meski dampaknya terasa bertahap lewat peningkatan kualitas layanan digital yang mereka pakai setiap hari.
Menuju 2028: Infrastruktur Digital dan Ambisi Hub Regional
Candle dikembangkan melalui unit XLSmart for Business dan ditargetkan mulai beroperasi pada 2028, menjadikannya bagian penting dari agenda transformasi digital nasional hingga beberapa tahun ke depan. Dalam prosesnya, XLSmart terus berkoordinasi dengan pemerintah dan pemangku kepentingan untuk memastikan perizinan dan regulasi berjalan sesuai ketentuan. Dukungan regulator menunjukkan kesadaran bahwa infrastruktur digital Indonesia tidak bisa lagi bergantung pada jaringan yang usang jika ingin bersaing di ekonomi digital Asia. Yang menarik, narasi resmi perusahaan menyebut Candle bukan sekadar jalur konektivitas baru, melainkan gerbang yang membuka akses lebih luas ke ekosistem digital regional dan memperkuat posisi Indonesia dalam perkembangan ekonomi digital Asia. Ini menyiratkan ambisi menjadi hub digital regional — bukan penonton. Jika proyek selesai tepat waktu dan dimanfaatkan serius oleh dunia usaha, Candle dapat menjadi fondasi yang membuat konektivitas Asia Tenggara ke Jepang dan sekitarnya jauh lebih terintegrasi.
Kesimpulan: Kabel Laut Submarine Sebagai Strategi, Bukan Sekadar Teknologi
Candle Cable System menunjukkan satu hal penting: infrastruktur digital Indonesia tidak bisa lagi dipandang sebagai urusan teknis operator, melainkan strategi ekonomi jangka panjang. Dengan kabel laut submarine 8.000 km yang menghubungkan Asia Tenggara hingga Jepang, XLSmart menempatkan Batam dan jaringan nasional di jalur utama arus data regional. Apakah proyek ini otomatis menjadikan negeri ini hub digital? Tidak, karena kabel hanyalah salah satu komponen. Diperlukan kebijakan data center, talenta digital, dan insentif bagi pelaku ekonomi digital agar kapasitas jaringan betul-betul terpakai. Namun tanpa kabel seperti Candle, ambisi itu mustahil. Jika target operasional 2028 tercapai dan ekosistem di sekitarnya tumbuh, Candle berpotensi dikenang bukan sekadar sebagai proyek SKKL, tetapi sebagai langkah penting yang menggeser peta konektivitas Asia dan membuka babak baru ekonomi digital di kawasan.






