Tol Getaci Perpanjangan: Dari Koridor Bandung–Tasik ke Poros Bandung–Yogyakarta
Tol Getaci perpanjangan adalah rencana pengembangan jalan tol yang semula menghubungkan Bandung–Tasikmalaya–Cilacap, lalu diperluas hingga Yogyakarta untuk membentuk koridor transportasi selatan yang menyatukan simpul industri Priangan Timur dengan pusat ekonomi di Jawa Tengah dan Daerah Istimewa Yogyakarta, sekaligus memangkas waktu tempuh serta biaya logistik yang selama ini membebani pelaku usaha di jalur non-tol. Pembangunan Tol Getaci sendiri sedang berada pada tahap peninjauan seluruh dokumen sebelum masuk proses pelelangan, sementara pemerintah daerah di trase tol sudah bergerak lebih dulu menyiapkan rencana tata ruang kawasan industri baru. Ketika jaringan Trans Jawa Utara telah terbentang 1.167 kilometer dari Merak hingga Ketapang, ambisi menghadirkan konektivitas jalan tol di jalur selatan bukan lagi pelengkap, melainkan koreksi atas ketimpangan infrastruktur yang terlalu lama dibiarkan.

Kawasan Industri Garut dan Tasikmalaya: Menunggu Tol sebagai Tulang Punggung Logistik
Tanpa konektivitas jalan tol, kawasan industri Garut dan Tasikmalaya berisiko mandek sebagai rencana di atas kertas. Pemkab Garut sudah menetapkan Kecamatan Cibatu dan Leles sebagai zona industri dalam Perda tata ruang, dengan Kawasan Industri Cibatu (KIC) yang digagas sebagai pusat alas kaki dan manufaktur terintegrasi. Di Leles dan Selaawi disiapkan sentra olahan kulit, sementara Leles dan Malangbong diproyeksikan mendukung manufaktur dan tekstil. Bupati Garut bersama PT Kawasan Industri Cibatu dan instansi teknis melakukan pertemuan intensif untuk mempercepat perizinan serta infrastruktur dasar, tapi tanpa akses cepat ke pasar Jawa Tengah, daya tarik investasinya akan terbatas. Perluasan Tol Getaci yang menghadirkan exit Garut Utara di Banyuresmi membuat kawasan ini tidak lagi terisolasi; zona industri akan langsung tersambung ke arteri selatan menuju Cilacap dan seterusnya ke Yogyakarta.
Konektivitas Jalan Tol dan Dampak Nyata bagi Mobilitas, Investasi, dan Tenaga Kerja
Tol Getaci bukan sekadar proyek beton terpanjang, melainkan instrumen untuk mengubah cara orang dan barang bergerak di selatan Jawa. Koridor Gedebage–Cilacap sepanjang 206,65 kilometer direncanakan menyambung Bandung, Garut, Tasikmalaya, Ciamis, Banjar, Pangandaran hingga Cilacap, lalu diperpanjang lagi dengan ruas Cilacap–Yogyakarta sepanjang 121,75 kilometer. "Jika tersambung penuh, total jarak Bandung–Yogyakarta 328,40 kilometer diperkirakan dapat ditempuh sekitar 4 jam, turun drastis dari 9–10 jam via jalur non-tol," kata Menteri Pekerjaan Umum Dody Hanggodo. Bagi pekerja pabrik, pelaku UMKM, dan sektor jasa di Priangan Timur, waktu perjalanan yang terpangkas artinya akses kerja, distribusi produk, dan jaringan pemasok menjadi lebih luas. KIC sendiri menargetkan hingga 20 ribu pekerja di industri alas kaki, sebuah angka yang hanya masuk akal bila arus logistik bahan baku dan barang jadi dapat mengandalkan konektivitas jalan tol.
Mengapa Sekarang: Menutup Ketimpangan Utara–Selatan dan Mengikat Ekonomi Regional
Dorongan memperpanjang Tol Getaci muncul tepat ketika ketimpangan antara Trans Jawa Utara dan koridor selatan kian sulit dibenarkan. Di utara, jaringan tol 1.167 kilometer sudah lama menghubungkan pelabuhan utama dan pusat industri. Di selatan, tidak satu pun jalur tol yang selesai, padahal masterplan telah lama menyebut perlunya Trans Jawa Selatan dengan Getaci sebagai pengungkit utama. Kini, pemerintah pusat turun tangan lebih serius: Plt Dirjen Pembiayaan Infrastruktur Ni Komang Rasminiati menjelaskan bahwa Kementerian Keuangan akan memberikan Project Development Facility (PDF) untuk menyiapkan dan melelang proyek ini dari hulu ke hilir. Sementara itu, hampir Rp 2,9 triliun sudah digelontorkan untuk pembebasan lahan di selatan Jawa Barat, menandakan komitmen fiskal yang tidak bisa dianggap basa-basi. Momentum ini harus dibaca sebagai keputusan politik: menjadikan selatan bukan lagi halaman belakang, tetapi bagian utuh dari sabuk industri pulau.
Menuju Yogyakarta: Peluang Distribusi ke Timur dan Tantangan yang Tak Boleh Diabaikan
Perpanjangan Tol Getaci hingga Yogyakarta membuka babak baru: jalur industri Garut–Tasik tidak hanya terhubung ke Cilacap, tetapi juga ke simpul pariwisata dan pendidikan yang memiliki mobilitas tinggi. Ini berarti distribusi produk alas kaki, tekstil, dan olahan kulit dari kawasan industri Garut dapat mengalir lebih efisien ke pasar timur Jawa melalui Yogyakarta dan jaringan tol lain yang direncanakan dalam jangka panjang. Exit Tasikmalaya, Kota Tasikmalaya, dan Ciamis akan menjadi pintu ekspor antardaerah bagi industri kreatif dan sentra IKM yang sudah diproyeksikan pemerintah kota. Namun, semua peluang ini masih bergantung pada hasil kajian kelayakan yang tengah disusun BPJT dan lembaga terkait, yang belum selesai. Tanpa pengawasan ketat atas tata ruang dan kesiapan SDM lokal, perpanjangan ini berisiko sekadar menjadi jalur cepat yang menyalurkan arus modal keluar, bukan mengakar sebagai penggerak pertumbuhan di kawasan yang dilaluinya.






