Jalan Asahan: Dari Koridor Niaga ke Kawasan Heritage Tanjungbalai
Revitalisasi Jalan Asahan adalah inisiatif Pemerintah Kota Tanjungbalai untuk mengubah koridor niaga tua yang sarat bangunan berarsitektur Belanda menjadi kawasan heritage berwarna yang tertata rapi, bersih, tertib, sekaligus menjadi etalase ekonomi lokal kota berbasis sejarah dan produk perikanan.
Keputusan menjadikan Jalan Asahan di Kelurahan Indra Sakti sebagai kawasan heritage tanjungbalai bukan sekadar proyek cat warna-warni di dinding bangunan. Ini adalah pernyataan politik ruang: kota menolak melupakan sejarahnya, dan pada saat yang sama ingin memanfaatkannya sebagai mesin baru pertumbuhan ekonomi lokal kota. Di balik gagasan pengecatan seluruh bangunan dengan warna-warni, penataan kebersihan, dan penertiban aktivitas bongkar muat, tersimpan ambisi menjadikan kawasan ini pintu masuk pertama yang memikat bagi pendatang dan wisatawan. Jika biasanya kawasan pelabuhan identik dengan semrawut, Tanjungbalai memilih jalur berbeda: menjadikannya kartu nama kota.

Kolaborasi Pemerintah–Pengusaha: Dari Ruang Rapat ke Ruang Jalan
Kunci revitalisasi jalan asahan bukan pada seberapa tebal cat tembok, melainkan seberapa kuat kolaborasi pemerintah pengusaha dibangun. Wali Kota Mahyaruddin Salim tidak memulai proyek ini dengan instruksi sepihak, tetapi dengan mengundang para pengusaha ikan yang berusaha di sepanjang Jalan Asahan untuk berdiskusi langsung di Aula Sutrisno Hadi pada Kamis sore, 22 Oktober 2026. Langkah ini penting: tanpa dukungan pelaku usaha, aturan pembatasan truk roda 10, larangan parkir berlapis, hingga larangan memakai badan jalan untuk berjualan hanya akan menjadi teks di atas kertas.
Respons pengusaha yang memberi aplaus dan menyatakan siap mendukung, sembari meminta perbaikan drainase, menunjukkan bahwa kolaborasi ini bukan basa-basi seremonial. Di sini terlihat pola baru: pemerintah menawarkan visi dan infrastruktur, pengusaha menyumbang komitmen kepatuhan, penataan usaha, dan identitas bersama melalui label “Produk Tanjungbalai” pada kemasan. Jika pola ini konsisten, Jalan Asahan bisa menjadi contoh bagaimana kebijakan ruang kota lahir dari negosiasi, bukan sekadar perintah.
Estetika, Ketertiban, dan Identitas Produk: Tiga Pilar Ekonomi Lokal
Rencana menjadikan Jalan Asahan sebagai kawasan heritage tanjungbalai yang “lebih berwarna, indah, tertata rapi, bersih dan tertib” bukan hanya soal keindahan visual. Estetika di sini diposisikan sebagai strategi ekonomi: kawasan yang rapi dan berwarna akan memberi kesan positif bagi pendatang yang mengunjungi kota karena mereka melihat perubahan nyata—jalan mulus, bangunan berwarna, dan lingkungan yang bersih. Dalam bahasa ekonomi kota, ini adalah investasi pada citra, yang efeknya bisa memicu kunjungan wisata, memperpanjang lama tinggal, dan pada akhirnya meningkatkan perputaran uang di warung, hotel, hingga jasa transportasi.
Di sisi lain, penertiban aktivitas bongkar muat hingga maksimal pukul 22.00, pelarangan truk besar, dan kewajiban mengurus izin serta membayar retribusi kebersihan adalah upaya menginternalisasi biaya ketidaktertiban ke pelaku usaha. Ini langkah berani namun perlu. Ditambah dorongan kuat agar produk ikan memakai label “Produk Tanjungbalai”, pemerintah sedang membangun identitas ekonomi lokal kota yang jelas: kota penghasil ikan dengan kawasan heritage yang tertata. Jika berhasil, Jalan Asahan tidak hanya cantik di foto, tetapi juga kuat sebagai merek dagang kolektif.
Roadmap Fisik dan Mimpi Menghidupkan Kembali Aktivitas Budaya
Berbeda dengan banyak proyek penataan yang kabur ujungnya, revitalisasi jalan asahan sudah dibekali roadmap yang cukup konkret. Wali kota menyebut penyelesaian drainase sebagai prioritas, pemasangan Lampu Penerangan Jalan Umum (LPJU) tenaga surya sebanyak 14 titik di kawasan Jalan Asahan, serta 9 titik tambahan di tiga ruas jalan menuju Waterfront. Pengecatan gedung dan bangunan akan diatur secara teknis, sehingga warna-warni yang muncul bukan sekadar spontan, melainkan kurasi visual yang mendukung narasi heritage.
Lebih jauh, ada mimpi mengembalikan Jalan Asahan sebagai pusat aktivitas budaya seperti Barongsai dan kegiatan lain yang dulu hidup sekitar dua dekade lalu. Di sini, ekonomi lokal kota dipahami tidak hanya lewat jual beli ikan, tetapi juga lewat ekonomi acara: festival, pertunjukan, dan keramaian yang menarik wisatawan. Jika roadmap fisik berpadu dengan kalender budaya yang konsisten, kawasan heritage tanjungbalai ini berpotensi menjadi simpul baru pariwisata kota, bukan sekadar koridor yang dilalui truk dan kontainer.
Dari Branding Ikan ke Kota EMAS: Taruhan Jangka Panjang Tanjungbalai
Dimensi paling menarik dari revitalisasi jalan asahan adalah kaitannya dengan strategi branding ekonomi. Wali kota terang-terangan menyatakan keinginan agar produk ikan Tanjungbalai dikenal luas hingga Medan, Jakarta, daerah lain, bahkan ke luar negeri, dan tidak lagi “bersembunyi” di balik nama ikan teri Medan yang sebagian asalnya justru dari kota ini. Ajakan “jangan tinggalkan nama Tanjungbalai” pada kemasan adalah langkah kecil namun strategis untuk mengikat nilai tambah produk pada identitas kota.
Jika visi Tanjungbalai EMAS—Elok, Maju, Agamais, dan Sejahtera—ingin terasa nyata, maka Jalan Asahan adalah laboratorium pertamanya. Di satu ruas jalan ini, kota sedang menguji apakah estetika ruang, ketertiban, dan kebanggaan pada produk lokal bisa benar-benar menggerakkan ekonomi lokal kota. Taruhannya jelas: bila kolaborasi pemerintah pengusaha berlanjut konsisten, Jalan Asahan dapat menjadi contoh bagaimana kawasan heritage tanjungbalai bukan hanya dirawat sebagai memori, tetapi dihidupkan sebagai mesin ekonomi masa depan.






