Pemantauan dapur dari satu sistem
CCTV dapur MBG adalah kamera pengawas di Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) yang rekamannya dapat diakses untuk memantau pengolahan dan penyajian makanan berdasarkan standar kebersihan dan keamanan pangan. Badan Gizi Nasional (BGN) menargetkan 5.000–10.000 SPPG memiliki CCTV terhubung pusat hingga akhir 2026. Kepala BGN Sudaryono menyampaikan target itu dalam acara Transformasi MBG 2.0 di Jakarta pada 29 Oktober 2026. Arah ini tepat: dapur yang melayani banyak penerima manfaat tak cukup diawasi hanya lewat laporan setelah masalah terjadi. Namun kamera bukan pengganti standar kerja atau pemeriksaan langsung. Nilainya bergantung pada apakah rekaman dipantau, pelanggaran ditindaklanjuti, dan perbaikan benar-benar dilakukan.
Cakupannya masih harus tumbuh jauh. CCTV telah terpasang di 70 SPPG, dengan rencana peningkatan hingga 300 sebelum perluasan bertahap. Karena itu, target ribuan lokasi bukan hasil yang sudah tercapai, melainkan pekerjaan besar yang perlu dijalankan dengan tahapan dan ukuran kemajuan yang terbuka.

AI dapat menandai pelanggaran, bukan menjamin keamanan
Pengawasan dapur MBG diarahkan untuk memastikan proses memasak dan penyajian sesuai standar serta menangkap pelanggaran kebersihan, seperti bahan makanan yang diletakkan di lantai atau petugas yang mengolah makanan tanpa sarung tangan. BGN menyebut CCTV berbasis AI akan membantu mengenali praktik yang tidak sesuai dan mencegah pelanggaran SOP. Teknologi ini berguna sebagai alarm, tetapi tidak bisa memastikan sendiri bahwa bahan aman, suhu penyimpanan tepat, atau semua risiko kontaminasi terkendali. Kamera juga hanya merekam area yang terlihat. Maka sistem pusat harus dilengkapi prosedur respons yang jelas: siapa menilai peringatan, seberapa cepat dapur diperiksa, dan apa tindak lanjut jika pelanggaran berulang. Tanpa itu, kecerdasan buatan berisiko menjadi fitur yang terdengar meyakinkan, tetapi tak mengubah perilaku di dapur.
BGN berharap pengawasan yang lebih kuat dapat menekan keracunan makanan. Rasio insiden keamanan pangan per satu juta porsi (IPMS) dilaporkan turun dari 5,3 pada Januari–Desember 2025 menjadi 3,9 pada Januari–Juli 2026, lalu 3,6 pada Agustus–Oktober 2026. Angka tersebut memberi konteks, tetapi belum membuktikan bahwa CCTV menjadi penyebab penurunan. Ukuran keberhasilan berikutnya mestinya mencakup respons atas temuan, kepatuhan SOP, dan tren insiden yang dapat diperiksa publik.
Pengawasan publik tetap penting
Pemantauan pusat akan lebih kuat jika berjalan bersama pengawasan warga. BGN membuka kesempatan bagi orang tua siswa, petugas posyandu, guru, dan kepala sekolah untuk memeriksa dapur serta menyampaikan masukan mengenai operasional dan menu. Masyarakat juga dapat menggunakan saluran pengaduan dan platform Radar MBG untuk melihat menu harian, penerima manfaat, penanggung jawab dapur, serta kandungan gizi makanan. Akses ini memberi keluarga informasi yang berguna, bukan sekadar kabar bahwa kamera telah dipasang. Namun keterbukaan hanya berarti jika laporan ditanggapi dan hasil perbaikannya dapat diketahui. BGN menyatakan akan menindaklanjuti masukan; komitmen itu perlu diterjemahkan menjadi proses yang konsisten, bukan berhenti pada imbauan untuk mengirim kritik.
Langkah berikutnya mencakup perluasan CCTV dari 70 menuju 300 SPPG, lalu bertahap mengejar target akhir 2026. BGN juga berkoordinasi dengan Kementerian Dalam Negeri agar kepala daerah dan perangkatnya ikut memeriksa standar serta kapasitas dapur. Kombinasi kamera, pemeriksaan langsung, dan masukan publik lebih masuk akal daripada mengandalkan satu alat. Pada akhirnya, ukuran keberhasilan bukan jumlah CCTV terpasang, melainkan dapur yang benar-benar bersih, penyajian yang aman, dan risiko keracunan yang terus turun.






