Perluasan untuk menguji kesiapan, bukan sekadar mengejar angka
MBG prasmanan adalah metode penyajian Makan Bergizi Gratis yang menempatkan makanan di kelas agar siswa dapat mengambilnya sendiri, sementara sekolah dan dapur mengikuti standar persiapan serta keamanan pangan. Saat ini, uji coba berlangsung di 66 Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) yang tersebar di 10 provinsi. Badan Gizi Nasional (BGN) berencana menambahkan sekitar 230 dapur dalam perluasan tahap berikutnya. Langkah ini patut dinilai sebagai ujian operasional, bukan semata perluasan layanan: bertambahnya lokasi hanya berarti jika kualitas makanan, suhu penyajian, dan kesiapan petugas tetap terjaga. Skema baru ditujukan untuk mengurangi masalah distribusi, termasuk makanan yang tiba dingin dan jeda pengiriman yang terlalu panjang, sekaligus menekan risiko gangguan keamanan pangan. Karena kondisi geografis dan kemampuan sekolah berbeda, keberhasilan tidak bisa diukur dari jumlah dapur semata.
Dari 66 ke 230 dapur: evaluasi harus menjadi dasar
Perluasan ke sekitar 230 dapur tambahan merupakan langkah penting setelah tahap awal yang melibatkan 66 dapur dinilai berjalan baik oleh Kepala BGN Sudaryono. Ia menyebut sejauh ini belum ditemukan kasus keracunan dalam uji coba tersebut. Namun, ketiadaan insiden pada tahap awal bukan alasan untuk menganggap semua lokasi siap. Penilaian perlu mencakup kemampuan dapur menjaga makanan tetap hangat, kelancaran pengantaran, kecukupan tenaga, serta kesiapan sekolah mengelola penyajian dan kebersihan. BGN sebelumnya menegaskan bahwa dapur dan sekolah perlu dilatih sebelum metode diterapkan, sementara hasil evaluasi lapangan akan menjadi dasar perluasan bertahap. Pendekatan ini lebih masuk akal daripada menerapkan satu pola seragam tanpa memeriksa kendala setempat. Tambahan lokasi seharusnya menghasilkan bukti yang lebih kuat tentang apa yang berhasil dan apa yang perlu dibenahi.
Target 5.000–10.000 SPPG menuntut standar yang konsisten
BGN menargetkan 5.000 hingga 10.000 SPPG menerapkan metode prasmanan pada akhir 2026. Skala tersebut menunjukkan ambisi besar, tetapi juga memperbesar konsekuensi jika pelatihan dan pengawasan tertinggal. Dalam praktiknya, makanan dibawa ke kelas sesuai jumlah siswa agar dapat disantap hangat, tanpa perlu dipanaskan kembali di sekolah. Dampak yang paling terasa bagi siswa adalah makanan tersedia di lingkungan kelas dalam kondisi lebih siap disantap; mereka juga dapat mengambil makanan secara mandiri sesuai kebutuhan selama mengikuti ketentuan gizi. Model ini dapat memperbaiki pengalaman makan, tetapi hanya jika suhu, kebersihan, dan pembagian tanggung jawab dijaga konsisten. Dengan demikian, target akhir 2026 sebaiknya dibaca sebagai sasaran yang bergantung pada mutu pelaksanaan, bukan tenggat yang harus dicapai dengan mengorbankan kesiapan.
Keberhasilan ditentukan mutu pelaksanaan
Perluasan uji coba SPPG memberi BGN kesempatan menguji metode ini dalam lebih banyak kondisi sebelum penerapan diperbesar. Sekolah yang belum siap tetap dapat menggunakan mekanisme pelayanan yang berlaku, sementara sekolah dan pengelola dapur yang mengikuti prasmanan perlu menjalani pelatihan serta memenuhi standar peralatan. Fleksibilitas tersebut penting: memaksakan perubahan serentak berisiko memindahkan masalah distribusi menjadi masalah pengelolaan di sekolah. Bagi keluarga, ukuran keberhasilan bukan angka dapur yang diumumkan, melainkan makanan yang aman, hangat, dan tersedia secara teratur. Karena itu, BGN perlu memastikan evaluasi tahap 230 dapur benar-benar memandu keputusan berikutnya. Target 5.000 hingga 10.000 SPPG pada akhir 2026 layak dikejar hanya bila pertumbuhan berjalan seiring dengan pengawasan dan kesiapan lapangan. Perluasan yang terukur akan lebih bernilai daripada ekspansi cepat yang sulit dijaga mutunya.






