Pengawasan dapur menjadi urusan publik
CCTV dapur MBG adalah bagian dari sistem pengawasan yang menghubungkan pemantauan aktivitas dapur SPPG dengan upaya BGN menjaga tata kelola dan kualitas makanan dalam program Makan Bergizi Gratis. Pada Kamis, 29 Oktober 2026, Kepala BGN Sudaryono menyampaikan rencana memperluas kamera pengawas berbasis AI sekaligus membuka pemeriksaan dapur kepada masyarakat. Langkah ini tepat karena mutu makanan tidak cukup dijaga lewat aturan di atas kertas: proses penanganan bahan dan kebersihan kerja juga perlu diperiksa. Namun, kamera akan lebih berarti bila temuan ditindaklanjuti dan standar dipahami oleh setiap pengelola dapur. BGN menyatakan orang tua siswa, petugas posyandu, guru, dan kepala sekolah dapat memeriksa dapur serta memberi masukan mengenai operasional dan menu. Pengawasan publik semestinya menjadi saluran koreksi, bukan sekadar ajakan menyaksikan.

AI membantu menemukan pelanggaran kebersihan
CCTV AI BGN dirancang untuk membantu mengenali praktik pengolahan makanan yang tidak sesuai standar. Contoh yang disebutkan BGN mencakup bahan pangan yang diletakkan di lantai dan pekerja yang tidak memakai sarung tangan saat mengolah makanan. Fungsi ini membuat pengawasan dapur SPPG berpotensi lebih teratur daripada mengandalkan pemeriksaan sesekali. Tetapi kamera tidak otomatis membuktikan seluruh proses aman: AI hanya membantu mendeteksi perilaku yang tertangkap dan dikenali sistem. Karena itu, pengawasan manusia, pemeriksaan lapangan, dan tindak lanjut atas laporan tetap diperlukan. BGN juga menyediakan Radar MBG untuk menampilkan menu harian, penerima manfaat, penanggung jawab dapur, serta kandungan gizi makanan. Kombinasi informasi tersebut memberi keluarga dan masyarakat bahan untuk mengajukan pertanyaan yang lebih konkret, bukan sekadar menilai dapur dari rekaman.
Target besar menuntut tindak lanjut yang jelas
Skala rencana menunjukkan bahwa sistem masih dalam tahap perluasan: CCTV telah terpasang di 70 SPPG dan akan ditambah hingga mencakup 300, sementara target koneksi ke kantor pusat adalah 5.000–10.000 SPPG sampai akhir 2026. BGN menyebut rekaman akan dapat diakses pemilik dapur dan dikoneksikan ke pusat untuk dibantu teknologi AI. Target tersebut ambisius, tetapi keberhasilannya seharusnya dinilai bukan hanya dari jumlah kamera yang terpasang. Yang lebih penting ialah apakah peringatan ditangani, dapur diperbaiki, dan masyarakat mendapat saluran pengaduan yang benar-benar ditindaklanjuti. BGN juga berkoordinasi dengan Kementerian Dalam Negeri agar kepala daerah memeriksa standar dapur dan kapasitas operasional SPPG. Pemeriksaan langsung ini perlu melengkapi kamera, bukan tersisih olehnya.
Kamera harus menjadi alat koreksi
Perluasan kamera pengawas MBG masuk akal sebagai bagian dari pembenahan tata kelola, selama teknologi tidak diperlakukan sebagai pengganti tanggung jawab. Orang tua dan tenaga pendidikan dapat melihat informasi program melalui Radar MBG, sementara saluran pengaduan memberi ruang untuk melaporkan masalah dan menyampaikan masukan. Nilai pengawasan akan terlihat dari respons: laporan diperiksa, pelanggaran diperbaiki, dan standar diterapkan secara konsisten di setiap dapur. Koneksi terpusat dapat membantu BGN melihat persoalan lintas lokasi, tetapi tidak dengan sendirinya menjamin makanan memenuhi ketentuan. BGN perlu memastikan pemantauan AI berjalan bersama pemeriksaan manusia dan keterbukaan informasi. Kesimpulannya, rencana CCTV ini layak didukung sebagai alat untuk menemukan masalah lebih awal, tetapi ukurannya bukan banyaknya kamera—melainkan perubahan nyata pada kebersihan dan pengelolaan dapur.






