Kepedulian yang terasa langsung
Santunan anak yatim adalah bantuan dan perhatian yang diberikan untuk meringankan kebutuhan sehari-hari sekaligus menguatkan semangat anak-anak yang tinggal di panti asuhan. Dalam peringatan Hari Listrik Nasional ke-81, kegiatan PLN di Salatiga dan Luwuk menunjukkan bahwa layanan kepada masyarakat dapat hadir di luar urusan kelistrikan. Di Salatiga, PIKK bersama Yayasan Baitul Maal (YBM) PLN UP3 menyalurkan santunan kepada anak-anak di tiga panti asuhan pada 2 November 2026. Bantuan panti asuhan itu mencakup paket sembako, bingkisan, dan uang tunai untuk menunjang kebutuhan harian. Sementara itu, PLN UP3 Luwuk mengunjungi Panti Asuhan Al Falah pada 27 Oktober 2026 dan berbagi dengan 30 anak yatim. Nilai kegiatan ini terletak pada manfaat yang diterima anak-anak, bukan pada seremoni peringatannya.
Tiga panti di Salatiga menerima bantuan
Di Salatiga, YBM PLN UP3 bekerja bersama Persatuan Istri Karyawan dan Karyawati (PIKK) untuk menjangkau Panti Asuhan Masithoh, Panti Asuhan Darul Hadlanah NU, dan Panti Asuhan Sudirman di kawasan Tingkir. Paket sembako, bingkisan, dan uang tunai memberi dukungan praktis bagi kebutuhan sehari-hari, sementara kunjungan dan perhatian juga dapat menghadirkan rasa diperhatikan. Kegiatan ini digelar untuk memperingati Hari Listrik Nasional ke-81 sekaligus menyambut Hari Pahlawan. Manager PLN UP3 Salatiga, YB. Wawan Dwi P., menyebut bantuan tersebut dimaksudkan untuk membantu kebutuhan harian dan membawa kebahagiaan bagi anak-anak. Apresiasi pengurus Panti Asuhan Sudirman menegaskan bahwa bantuan itu berarti bagi mereka. Aksi sosial PLN akan lebih bermakna bila kepedulian seperti ini berulang dan menjangkau kebutuhan yang disampaikan langsung oleh panti.
Dukungan moral bagi 30 anak di Luwuk
Di Luwuk, PLN UP3 menyalurkan santunan kepada 30 anak yatim di Panti Asuhan Al Falah pada 27 Oktober 2026. Anak-anak, pengelola panti, serta perwakilan pimpinan dan karyawan PLN mengikuti kegiatan dalam suasana akrab. Selain berbagi kebahagiaan, santunan tersebut dimaksudkan sebagai dukungan moral agar anak-anak tetap bersemangat dan optimistis. General Manager PLN UID Suluttenggo, Wahyu Prasetyo, menekankan bahwa peringatan Hari Listrik Nasional seharusnya diwujudkan melalui manfaat nyata bagi masyarakat, termasuk anak-anak di panti. Ketua pengurus Al Falah, Ust. Haryanto, menyampaikan bahwa perhatian dan santunan itu menjadi penyemangat bagi anak-anak asuhnya. Respons tersebut mengingatkan bahwa bantuan panti asuhan tidak hanya dinilai dari barang yang diserahkan; kehadiran dan perhatian juga penting bagi penerimanya.
Makna peringatan diukur dari manfaat
Dua kegiatan ini memberi bentuk konkret pada pesan Hari Listrik Nasional: perayaan perusahaan lebih berarti ketika manfaatnya dapat dirasakan masyarakat. Salatiga menggabungkan bantuan kebutuhan harian dengan kolaborasi PIKK dan YBM, sedangkan Luwuk menjangkau 30 anak yatim dan memberi dukungan moral. Keduanya menunjukkan bahwa santunan anak yatim dapat menjadi bagian dari tanggung jawab sosial, bukan sekadar agenda musiman. Namun, nilai jangka panjangnya bergantung pada kesinambungan: kebutuhan panti perlu terus didengar dan hubungan dengan masyarakat dijaga setelah peringatan usai. PLN menyatakan akan melanjutkan tanggung jawab sosial berdampingan dengan pelayanan kelistrikan, sementara kolaborasi di Salatiga diharapkan memperkuat gotong royong dan kepedulian. Kesimpulannya, aksi sosial PLN paling kuat ketika perayaan diterjemahkan menjadi bantuan yang relevan, perhatian yang tulus, dan komitmen berkelanjutan.






