Hari Anak Nasional 2026: Lebih dari Seremoni, Agenda Pembentukan Karakter
Hari Anak Nasional 2026 adalah peringatan tahunan yang digunakan pemerintah daerah dan masyarakat sebagai momentum kolektif untuk memperkuat pendidikan karakter anak, menegaskan peran orang tua dan sekolah dalam pengasuhan, serta menyelaraskan program lokal menuju terciptanya generasi emas berkarakter yang siap menyongsong masa depan yang berubah cepat. Peringatan HAN ke-42 tingkat Sumatera Selatan digelar di Griya Agung Palembang pada Senin, 3 Agustus 2026, dengan Gubernur Herman Deru menekankan bahwa orang tua memegang peran paling penting dalam membentuk karakter anak dan bahwa pendidikan karakter harus dimulai dari keluarga, bukan hanya teori di kelas. Di Banjarmasin, puncak HAN ke-42 dilaksanakan di aula Kayuh Baimbai pada Kamis, 6 Agustus, ketika Wali Kota Muhammad Yamin HR mengajak seluruh elemen masyarakat bersinergi membangun generasi sehat, cerdas, dan berkarakter.
Keluarga sebagai Sekolah Pertama: Pesan Tegas dari Palembang
Fokus utama pesan pemerintah daerah pada Hari Anak Nasional 2026 jelas: pendidikan karakter anak harus dimulai dari keluarga. Gubernur Sumatera Selatan Herman Deru menegaskan bahwa orang tua memegang peran paling penting dalam membentuk karakter anak dan bahwa teori saja tidak cukup; teladan dalam kehidupan sehari-hari menjadi kunci. Ia mengingatkan, Indonesia Emas 2045 tinggal 19 tahun lagi, sehingga anak hari ini harus dipersiapkan bukan hanya secara akademik, tetapi juga dengan moral, akhlak, dan mental yang kuat. Sikapnya kritis terhadap kecenderungan mengukur keberhasilan anak hanya lewat materi. Ia menyerukan agar orang tua mendidik anak menjadi orang baik, bebas dari iri hati, serta memberi keleluasaan mereka bergaul dan berimprovisasi tanpa kehilangan pengawasan yang wajar. Dalam pandangan ini, keluarga bukan pelengkap sekolah, melainkan fondasi karakter yang tak bisa digantikan kebijakan apa pun.
Banjarmasin Emas: Sinergi Keluarga, Sekolah, dan Kota
Jika Sumatera Selatan menyoroti teladan keluarga, Banjarmasin mengartikulasikan gagasan generasi emas berkarakter sebagai proyek bersama satu kota. Wali Kota Muhammad Yamin HR menyatakan bahwa pemerintah tidak bisa bekerja sendirian dan keberhasilan mencetak generasi emas membutuhkan peran aktif keluarga, pendidik, dan masyarakat. Ia mengaitkan langsung perhatian pada tumbuh kembang anak dengan cita-cita Indonesia Emas 2045 dan menargetkan terwujudnya “Banjarmasin Emas”. Di tingkat praksis, pemerintah kota membagikan tas sekolah sebagai bentuk dukungan nyata terhadap pendidikan, mencanangkan Masjid Ramah Anak, memberi penghargaan kepada Kelurahan Ramah Perempuan dan Peduli Anak, serta menyerahkan Kartu Identitas Anak (KIA) sebagai pemenuhan hak sipil anak. Ini menunjukkan bahwa konsep generasi emas berkarakter bukan slogan; ia diterjemahkan menjadi fasilitas, perlindungan, dan pengakuan hak anak di ruang publik.

Momentum HAN 2026: Menguatkan Peran Orang Tua dan Sekolah
Kedua kota sama-sama memaknai Hari Anak Nasional 2026 sebagai titik tolak untuk menguatkan peran orang tua dan sekolah dalam pengasuhan anak. Herman Deru mengajak orang tua menjadikan HAN sebagai momentum memperkuat pendidikan karakter anak di lingkungan keluarga, sekaligus mengingatkan bahwa seluruh elemen – dari kakek-nenek hingga lingkungan sekitar – bertanggung jawab mempersiapkan masa depan anak. Di Banjarmasin, Bunda PAUD Neli Listriani menempatkan HAN sebagai penguat komitmen bersama untuk menyayangi, melindungi, dan membangun masa depan anak lewat pengasuhan berkualitas. Ia mendorong tiga gerakan: Wajib Belajar 13 Tahun yang dimulai dengan satu tahun PAUD, pembentukan karakter melalui 7 Kebiasaan Anak Indonesia Hebat, dan pendampingan anak saat menggunakan gawai. Dengan kata lain, sekolah tidak lagi sekadar tempat transmisi ilmu, melainkan mitra keluarga dalam membentuk karakter dan kebiasaan baik.
Dari Edukasi ke Aksi: Mengawal Hak dan Karakter Anak
Peringatan HAN 2026 di Sumatera Selatan memperlihatkan bahwa bicara karakter tanpa perlindungan dan pemenuhan hak anak adalah omong kosong. Kepala Dinas PPPA Sumsel M Zaki Aslam menjelaskan bahwa rangkaian HAN diisi sosialisasi pencegahan perundungan dan kekerasan terhadap anak di sekolah, kampanye pemenuhan hak anak, dan kegiatan pengembangan karakter, kreativitas, bakat, serta minat melalui pendidikan, budaya, olahraga, dan seni. Di Banjarmasin, penyerahan KIA, pembangunan Masjid Ramah Anak, dan penghargaan untuk kelurahan yang ramah perempuan dan peduli anak menunjukkan orientasi yang sama: memastikan anak dapat belajar, bermain, tumbuh, dan hidup penuh kasih sayang. Sikap pemerintah daerah patut diapresiasi, tetapi sekaligus mengandung pesan keras kepada masyarakat: tanpa keteladanan keluarga dan peran aktif orang tua, seluruh program akan berhenti pada seremoni dan proyek fisik, bukan menjadi budaya baru pengasuhan anak yang manusiawi.






