Pemangkasan besar, bukan sekadar perubahan kecil
PHK karyawan Canva adalah pemutusan hubungan kerja yang diumumkan perusahaan desain berbasis awan ini sebagai bagian dari perombakan organisasi yang menjangkau 1.271 orang, sekitar 22 persen tenaga kerja globalnya. CEO Melanie Perkins menyampaikan rencana tersebut dalam memo pada 4 November 2026. Skala ini membuat keputusan Canva lebih dari sekadar penyesuaian rutin: hampir seperempat tenaga kerjanya terdampak, meski perusahaan belum merinci negara dan divisi yang paling terkena. Laporan menyebut dampaknya mencakup karyawan yang kehilangan pekerjaan, berpindah peran, atau direlokasi; karena itu, angka 1.271 tidak boleh otomatis dibaca sebagai jumlah orang yang semuanya diberhentikan. Bagi para pekerja, ketidakjelasan tentang lokasi dan tim yang terdampak menambah beban di tengah perubahan. Bagi perusahaan, langkah sebesar ini mengisyaratkan keyakinan bahwa struktur lama tak lagi cocok untuk rencana ke depan.
Perkins menyebut keputusan ini sebagai salah satu momen tersulit dalam sejarah Canva dan mengatakan perubahan kecil tidak akan cukup. Itu pengakuan penting: manajemen tidak sedang menggambarkan perombakan sebagai penghematan sementara, melainkan sebagai perubahan mendasar pada cara kerja. Namun, narasi tentang kesiapan masa depan tidak menghapus biaya manusia dari keputusan tersebut. Penilaian yang adil harus melihat keduanya—alasan organisasi dan dukungan nyata bagi orang-orang yang harus meninggalkan atau mengubah peran mereka.
Tim lebih kecil untuk menghadapi pasar yang berubah
Restrukturisasi Canva menggabungkan tim produk, pertumbuhan, dan platform, menyederhanakan jenjang manajemen, serta mengurangi tanggung jawab yang tumpang tindih. Perkins mengatakan perusahaan ingin kembali pada tim kecil yang memiliki kewenangan mengambil keputusan, bertanggung jawab atas hasil, dan berfokus pada kebutuhan komunitas. Arah ini masuk akal: lapisan koordinasi dan batas spesialisasi yang terlalu kaku bisa memperlambat pengembangan produk. Tetapi, tim kecil bukan jawaban otomatis. Keberhasilannya bergantung pada kejelasan mandat, sumber daya, dan keputusan yang benar-benar dapat diambil oleh anggota tim—bukan sekadar beban lebih banyak dengan anggota lebih sedikit.
Canva juga menjadikan Sydney sebagai basis utama bagi lebih banyak tim produk, sementara mulai Januari sebagian besar pekerja dengan pola hibrida diwajibkan bekerja dari kantor dua hingga tiga hari sepekan. Perubahan lokasi dan aturan kerja ini menunjukkan bahwa perombakan menyentuh bukan hanya bagan organisasi, tetapi juga cara perusahaan mengatur kolaborasi. Bagi karyawan yang diminta pindah atau menyesuaikan posisi, dampaknya bisa sama besar dengan perubahan struktur itu sendiri. Maka, ukuran keberhasilan seharusnya bukan hanya keputusan yang lebih cepat, tetapi juga apakah perubahan tersebut menghasilkan produk yang lebih baik tanpa mengikis kepercayaan pekerja.
AI mempercepat pergeseran, tetapi bukan penjelasan tunggal
Perubahan industri software memberi konteks yang kuat, tetapi hubungan antara AI dan PHK perlu dijelaskan dengan cermat. Perkins menyebut AI mengubah apa yang dapat dibuat orang, cara mereka membuatnya, dan harapan mereka terhadap produk. Alat AI juga memungkinkan pengguna menyelesaikan lebih banyak pekerjaan tanpa bergantung pada perangkat lunak khusus, sementara perusahaan software mulai memakainya untuk menjalankan operasi dengan tim lebih ramping. Itu tekanan nyata bagi model produk dan struktur kerja lama. Namun, materi yang tersedia tidak membuktikan bahwa AI secara langsung menggantikan setiap pekerjaan yang terdampak atau menjadi satu-satunya penyebab pemangkasan.
Konteks lain juga penting: pertumbuhan Canva dilaporkan melambat untuk pertama kalinya dalam satu dekade, sementara investor semakin khawatir teknologi baru dapat mengambil pasar dari produk konvensional. Jadi, langkah perusahaan lebih tepat dibaca sebagai respons terhadap gabungan perubahan pasar, kebutuhan menyederhanakan organisasi, dan peluang AI—bukan sebagai bukti bahwa teknologi sudah mengambil alih pekerjaan tertentu. Dampak langsungnya terasa pada karyawan dan operasi global Canva, bukan pada pekerja lokal secara langsung. Meski begitu, agensi digital, vendor konten, dan penyedia jasa kreatif patut mencermati tuntutan baru terhadap kecepatan dan keluasan kerja.
Dukungan transisi membantu, tetapi tidak membatalkan kehilangan
Paket kompensasi karyawan Canva memberi gambaran bahwa perusahaan berusaha menopang transisi, bukan hanya mengakhiri hubungan kerja. Karyawan terdampak dijanjikan sedikitnya enam bulan gaji penuh, manfaat asuransi kesehatan dan layanan Canva Care hingga 12 bulan, serta akses LinkedIn Premium selama setahun, pendampingan karier, dan latihan wawancara. Mereka juga diizinkan membawa pulang laptop kerja. Paket itu menonjol karena memadukan dukungan pendapatan, kesehatan, perangkat, dan pencarian kerja; namun fasilitas tersebut tidak menghilangkan ketidakpastian atau dampak pribadi dari kehilangan pekerjaan.
Canva turut menyediakan hibah bagi mantan karyawan yang ingin membangun usaha atau proyek komunitas, tanpa meminta bagian kepemilikan atas usaha yang didanai. Dukungan semacam ini dapat membuka jalur selain mencari pekerjaan baru, sementara tim perekrutan internal membantu meninjau CV dan membagikan profil mantan karyawan ke jaringan perusahaan. Kesimpulannya, pemangkasan Canva memperlihatkan dua hal sekaligus: perusahaan software besar pun harus menata ulang cara membuat produk ketika pasar dan AI bergerak cepat, tetapi restrukturisasi hanya layak disebut persiapan masa depan jika tanggung jawab kepada pekerja yang terdampak dijalankan sebaik janji dukungannya.







