Pemangkasan Entitas Telkom: Bukan Sekadar Berkurang, Tapi Berfokus
Telkom pangkas entitas usaha dengan mengurangi 34 dari 67 entitas yang dikelola untuk menciptakan organisasi yang lebih ramping, efisien, dan kompetitif, sebagai bagian dari transformasi BUMN digital dan penyederhanaan struktur organisasi yang diharapkan mempercepat pengambilan keputusan, meningkatkan efisiensi operasional telekomunikasi, serta memperkuat fokus bisnis inti perusahaan. Langkah berani Telkom memangkas 34 entitas dari total 67 entitas usaha yang terdiri atas 58 anak perusahaan dan sembilan investasi minoritas menandai pergeseran penting: dari konglomerasi telekomunikasi yang tersebar ke pemain digital yang fokus dan gesit. Ini bukan pemangkasan kosmetik. Telkom jelas mengambil posisi bahwa kompleksitas organisasi adalah penghambat, bukan aset, dalam perlombaan digital. Ketika tekanan transformasi BUMN digital menguat, pilihan utama bukan lagi memperbanyak unit, melainkan menata portofolio agar sumber daya dan perhatian manajemen tersalur ke area yang betul-betul strategis.

Tekanan Transformasi Digital: Mengapa Streamlining Jadi Mendesak
Pemangkasan 34 entitas usaha Telkom lahir dari tekanan sistemik untuk menjadikan BUMN sebagai motor ekonomi digital yang lebih gesit dan adaptif. BP BUMN dan Danantara mendorong Telkom bertransformasi menjadi perusahaan digital nasional yang berdaya saing global, dan streamlining portofolio adalah konsekuensi logis dari ambisi tersebut. Dalam dunia telekomunikasi yang bergerak cepat, birokrasi panjang dan terlalu banyak entitas satelit membuat pengambilan keputusan lambat dan investasi digital tersebar. Dony Oskaria menegaskan, “Transformasi bukan soal mengubah struktur semata. Yang paling penting, perusahaan bisa bergerak lebih cepat, lebih efisien, dan menciptakan nilai yang lebih besar.” Pernyataan ini menyiratkan kritik halus terhadap pola lama BUMN yang gemuk di struktur namun lambat di eksekusi. Telkom, mau tidak mau, harus memutus rantai kompleksitas jika ingin masuk liga pemain digital global.
Strategic Holding dan Efisiensi Operasional: Janji Organisasi yang Lebih Ramping
Telkom tidak hanya memangkas entitas; perusahaan juga mempercepat pembentukan Strategic Holding Organization dengan target rampung pada 2027. Di atas kertas, kombinasi strategic holding dan penyederhanaan struktur organisasi dirancang untuk menciptakan efisiensi operasional telekomunikasi yang nyata: pengambilan keputusan lebih cepat, koordinasi lebih singkat, dan alokasi modal lebih terkendali. Langkah streamlining ini diklaim akan membentuk struktur yang lebih sederhana, efisien, dan kompetitif, sekaligus memperkuat fokus bisnis dan sinergi di ekosistem Telkom. Namun di sisi lain, ini adalah ujian integritas manajemen: apakah pengurangan entitas diikuti dengan penataan proses, atau sekadar penggabungan di atas kertas. Tanpa disiplin eksekusi, strategic holding berisiko menjadi label baru bagi pola lama. Kuncinya, Telkom harus menjadikan setiap pengurangan entitas sebagai kesempatan merapikan mandat, target, dan keterhubungan antar unit bisnis.
Portofolio dan Talenta: Menyaring Mana yang Penting di Era FiberCo dan Data Center
Penyederhanaan portofolio Telkom jelas diarahkan untuk menguatkan bisnis inti dan efektivitas manajemen, bukan sekadar mengurangi jumlah kotak di bagan organisasi. Program prioritas yang dipercepat — mulai dari konsolidasi FiberCo BUMN, pengembangan data center, TowerCo, InfraCo, hingga penataan lisensi Telkom Group — menunjukkan fokus pada infrastruktur digital yang akan menjadi tulang punggung ekonomi data. Menariknya, transformasi ini tidak hanya bicara struktur dan aset, tetapi juga leadership pipeline dan penguatan talenta. Dengan organisasi yang lebih ramping dan fokus, Telkom berharap mampu mendorong inovasi dan memperkuat kontribusinya dalam transformasi digital nasional. Di sinilah taruhan besarnya: penyederhanaan portofolio akan gagal apabila tidak diikuti oleh pemimpin yang berani mengambil keputusan lintas-unit dan talenta digital yang sanggup memanfaatkan sinergi FiberCo, data center, dan InfraCo untuk menciptakan produk dan layanan baru, bukan hanya menjaga operasi lama.
Risiko dan Peluang: Apakah Telkom Benar-Benar Menjadi Lebih Gesit?
Secara strategis, Telkom pangkas entitas usaha untuk mengejar efisiensi operasional telekomunikasi dan keunggulan kompetitif jangka panjang. Dengan organisasi yang lebih ramping dan fokus, perusahaan diharapkan dapat mempercepat pengambilan keputusan, meningkatkan efisiensi, serta mendorong inovasi di ekosistem digital. Jika berhasil, ini bisa menjadi contoh kuat bagaimana transformasi BUMN digital dilakukan tanpa terjebak jargon. Namun risiko tetap ada. Penyederhanaan struktur organisasi mudah berubah menjadi sentralisasi berlebihan bila tata kelola tidak dijaga. Pemangkasan entitas juga bisa memunculkan kekosongan peran atau benturan budaya jika komunikasi dan penataan mandat tidak jelas. Kesimpulannya, langkah Telkom adalah taruhan yang layak: mengorbankan kenyamanan struktur gemuk demi kecepatan dan ketepatan di era digital. Keberhasilan akan terlihat bukan dari seberapa banyak entitas yang hilang, melainkan dari seberapa tajam fokus bisnis inti dan seberapa signifikan nilai baru yang tercipta bagi ekosistem digital nasional.






