Temukan minat Anda, bersama

Promo pilihan, ulasan jujur, dan cerita belanja dari mereka yang seminat dengan Anda — setiap hari di Kuybeli.

Temukan minat Anda, bersamaPromo pilihan, ulasan jujur, dan cerita belanja dari mereka yang seminat dengan Anda — setiap hari di Kuybeli.

Diabetes Menjangkau Usia Produktif, Gaya Hidup Jadi Sorotan

Diabetes Menjangkau Usia Produktif, Gaya Hidup Jadi Sorotan
Minat|Gaya Hidup Sehat

Ancaman yang tak lagi menunggu usia tua

Diabetes adalah penyakit kronis ketika kadar gula darah terlalu tinggi, yang dapat merusak tubuh bila tidak dikenali dan dikendalikan; risikonya kini perlu diperhatikan sejak usia produktif, bukan hanya usia lanjut.

Data Federasi Diabetes Internasional (IDF) 2025 mencatat sekitar 20,4 juta orang Indonesia berusia 20–79 tahun hidup dengan diabetes. Angka itu menempatkan Indonesia di peringkat kelima dunia, setelah China, India, Amerika Serikat, dan Pakistan. Besarnya jumlah pengidap diabetes bukan sekadar statistik kesehatan: penyakit ini semakin banyak ditemukan pada usia produktif, saat seseorang tengah membangun karier dan menopang keluarga.

Karena diabetes dapat berkembang tanpa gejala yang mudah dikenali, menganggapnya sebagai penyakit orang tua adalah kekeliruan yang berisiko. Menunda perhatian sampai tubuh memberi tanda berarti memberi ruang bagi masalah kesehatan untuk berkembang lebih jauh.

Diabetes Menjangkau Usia Produktif, Gaya Hidup Jadi Sorotan

Kebiasaan harian yang menumpuk risikonya

Lonjakan kasus diabetes tidak bisa dijelaskan oleh satu kebiasaan saja. Perubahan gaya hidup yang berlangsung terus-menerus dalam jangka panjang ikut mendorong peningkatan penyakit metabolik. Namun, minuman manis menjadi sorotan karena mudah dikonsumsi berulang kali dan kerap hadir sebagai bagian dari rutinitas, bukan sesekali.

Direktur Penyakit Tidak Menular Kementerian Kesehatan Siti Nadia Tarmizi menyoroti popularitas minuman berpemanis dalam kemasan serta kebiasaan Gen Z menghabiskan waktu di gerai kopi dan minuman. Konsumsi tinggi gula yang berlebihan dapat menjadi salah satu faktor risiko diabetes tipe 2, terutama bila berlangsung terus-menerus bersama pola hidup kurang sehat. Ini bukan alasan untuk menyalahkan satu kelompok atau satu jenis minuman, melainkan pengingat bahwa kebiasaan kecil yang berulang dapat membentuk risiko jangka panjang.

Pencegahan lebih masuk akal bila berfokus pada pola keseluruhan: mengatur asupan, bergerak lebih aktif, dan menjaga berat badan ideal secara konsisten. Mengubah rutinitas lebih awal memberi peluang untuk mengurangi risiko sebelum diabetes atau komplikasinya mengganggu kehidupan sehari-hari.

Banyak kasus belum diketahui

Besarnya jumlah kasus akan lebih mengkhawatirkan jika banyak orang belum tahu bahwa mereka mengidap diabetes. IDF memperkirakan 73,2 persen kasus diabetes di Indonesia belum terdiagnosis. Artinya, rasa sehat bukan bukti bahwa kadar gula darah berada dalam kondisi aman.

Program Cek Kesehatan Gratis memberi jalur untuk skrining awal. Dari sekitar 27 juta orang yang telah menjalani pemeriksaan gula darah sewaktu, 295 ribu terdeteksi memiliki indikasi diabetes; hanya sekitar 21 persen yang dilaporkan bersedia mengonsumsi obat secara rutin. Angka ini menunjukkan bahwa pemeriksaan saja tidak cukup: hasil skrining perlu ditindaklanjuti, dan pasien membutuhkan dukungan untuk menerima diagnosis serta menjalani perawatan.

Kementerian Kesehatan mendorong pemeriksaan berkala melalui program tersebut agar faktor risiko dapat diketahui lebih awal dan pencegahan atau intervensi bisa dilakukan. Bagi masyarakat, langkah praktisnya jelas: manfaatkan skrining, konsultasikan hasil yang mengkhawatirkan dengan tenaga kesehatan, dan jangan menunggu gejala berat.

Diabetes Menjangkau Usia Produktif, Gaya Hidup Jadi Sorotan

Deteksi dini harus diikuti perubahan nyata

Diabetes yang tidak terkontrol dapat memicu kerusakan permanen pada berbagai organ vital. Dampak itu membuat pencegahan dan tindak lanjut bukan urusan angka semata, tetapi bagian dari menjaga kemampuan seseorang untuk bekerja, beraktivitas, dan merawat diri.

Fokus kebijakan pada skrining perlu berjalan seiring dengan kebiasaan yang lebih sehat dan kepatuhan terhadap penanganan. Mengurangi minuman tinggi gula, memperbaiki pola makan, meningkatkan aktivitas fisik, dan menjaga berat badan adalah langkah yang dapat dilakukan secara konsisten; bagi mereka yang telah terdiagnosis, arahan tenaga kesehatan dan pengobatan tidak semestinya diabaikan.

Kesimpulannya, diabetes usia produktif bukan ancaman jauh yang hanya relevan bagi kelompok lanjut usia. Jumlah kasus yang besar, tingginya proporsi yang belum terdiagnosis, serta pola hidup yang terus berubah menuntut tindakan sekarang: kenali risiko, periksa kesehatan, lalu tindak lanjuti hasilnya. Menunggu sampai tubuh memberi peringatan bisa berarti terlambat.

Kuybeli memperoleh komisi saat Anda berbelanja melalui tautan kami, tanpa biaya tambahan untuk Anda.

You May Also Like

Comments
Tulis sesuatu...
Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berbagi pendapat!