Temukan minat Anda, bersama

Promo pilihan, ulasan jujur, dan cerita belanja dari mereka yang seminat dengan Anda — setiap hari di Kuybeli.

Temukan minat Anda, bersamaPromo pilihan, ulasan jujur, dan cerita belanja dari mereka yang seminat dengan Anda — setiap hari di Kuybeli.

Diabetes Usia Produktif: Risiko Gaya Hidup yang Perlu Diwaspadai

Diabetes Usia Produktif: Risiko Gaya Hidup yang Perlu Diwaspadai
Minat|Gaya Hidup Sehat

Diabetes bukan lagi hanya masalah usia lanjut

Diabetes adalah penyakit kronis ketika tubuh tidak mampu mengatur kadar gula darah dengan baik, sehingga pemeriksaan dan pengelolaan berkelanjutan diperlukan untuk mencegah komplikasi. Penyakit yang lama diasosiasikan dengan usia lanjut kini semakin banyak ditemukan pada usia produktif, dan menganggapnya sebagai persoalan orang tua saja berarti melewatkan risiko yang sudah hadir di tengah kehidupan sehari-hari. Data IDF Diabetes Atlas 2025 mencatat 20,4 juta orang berusia 20–79 tahun hidup dengan diabetes di Indonesia; negara ini berada di peringkat kelima dunia untuk jumlah penyandang pada kelompok usia tersebut. Sementara itu, Survei Kesehatan Indonesia 2023 menemukan prevalensi 11,7 persen berdasarkan pemeriksaan gula darah pada penduduk berusia 15 tahun ke atas. Angka-angka ini bukan sekadar statistik kesehatan. Bagi orang yang bekerja, mengurus keluarga, atau sedang membangun kebiasaan hidup, diabetes usia produktif menegaskan bahwa pencegahan tak semestinya menunggu masa tua.

Diabetes Usia Produktif: Risiko Gaya Hidup yang Perlu Diwaspadai

Kebiasaan harian ikut membentuk risiko

Sorotan terhadap konsumsi minuman manis bukan berarti satu gelas minuman otomatis menyebabkan diabetes. Masalahnya adalah asupan gula tinggi yang berulang, terlebih jika berjalan bersama pola hidup kurang sehat. Kementerian Kesehatan menyoroti popularitas minuman berpemanis dalam kemasan dan kebiasaan nongkrong lama di gerai kopi atau minuman di kalangan Generasi Z. Konsumsi minuman tinggi gula secara berlebihan dapat menjadi salah satu faktor risiko diabetes tipe 2, terutama bila terus berlangsung dan disertai kebiasaan hidup yang kurang sehat. Perubahan kecil yang menumpuk bertahun-tahun lebih penting diperhatikan daripada mencari satu penyebab tunggal. Karena itu, mengurangi minuman manis, menata asupan makanan, lebih aktif bergerak, dan menjaga berat badan ideal merupakan langkah praktis yang layak dibangun konsisten. Risiko diabetes tidak ditentukan oleh satu kebiasaan saja, tetapi pola hidup sehari-hari patut dievaluasi sebelum masalah kesehatan berkembang.

Banyak kasus tersembunyi di balik rasa sehat

Hambatan besar berikutnya adalah penyakit ini bisa berkembang tanpa gejala diabetes yang mudah dikenali pada tahap awal. Diperkirakan 73,2 persen kasus diabetes di Indonesia belum terdiagnosis. Sebagian orang merasa sehat dan menolak menerima hasil skrining, sehingga pemeriksaan lanjutan maupun penanganan dapat tertunda. Padahal, keterlambatan memberi ruang bagi penyakit untuk berkembang dan memicu komplikasi; diabetes yang tidak terkontrol dapat merusak organ vital secara permanen. Dalam diskusi media di Jakarta pada 3 November 2026, Direktur Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Tidak Menular Kementerian Kesehatan, Siti Nadia Tarmizi, menekankan deteksi dini sebagai strategi penting mengendalikan diabetes. Pesannya patut diterima tanpa menunggu tubuh memberi tanda: merasa bugar bukan bukti bahwa kadar gula darah normal.

Skrining dan perubahan pola hidup harus berjalan bersama

Pemeriksaan berkala adalah langkah masuk akal, bukan alasan untuk panik. Pemerintah mendorong masyarakat memanfaatkan Program Cek Kesehatan Gratis untuk skrining penyakit tidak menular, termasuk diabetes. Pemeriksaan gula darah dapat membantu mengenali faktor risiko lebih awal, tetapi hasil yang mengindikasikan diabetes perlu ditindaklanjuti dengan tenaga kesehatan, bukan diabaikan karena belum ada keluhan. Pencegahan juga perlu diterjemahkan ke kebiasaan yang bisa dipertahankan: atur porsi dan jenis makanan, jadwal makan, serta cara memasak. Prinsip 5J—jumlah, jenis, jadwal, jurus masak, dan jujur dalam mengatur konsumsi—dapat menjadi panduan bagi penyandang diabetes. Kesimpulannya, meningkatnya diabetes usia produktif menuntut dua respons sekaligus: lebih sadar terhadap kebiasaan harian dan lebih bersedia memeriksakan diri. Deteksi dini dan perubahan konsisten memberi peluang lebih baik untuk mencegah kondisi memburuk serta menjaga kualitas hidup.

Kuybeli memperoleh komisi saat Anda berbelanja melalui tautan kami, tanpa biaya tambahan untuk Anda.

You May Also Like

Comments
Tulis sesuatu...
Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berbagi pendapat!