Temukan minat Anda, bersama

Promo pilihan, ulasan jujur, dan cerita belanja dari mereka yang seminat dengan Anda — setiap hari di Kuybeli.

Temukan minat Anda, bersamaPromo pilihan, ulasan jujur, dan cerita belanja dari mereka yang seminat dengan Anda — setiap hari di Kuybeli.

Masjid sebagai Pusat Ekonomi dan Pemberdayaan Warga

Masjid sebagai Pusat Ekonomi dan Pemberdayaan Warga
Minat|Asia Tenggara

Dari ruang ibadah menuju manfaat sehari-hari

Ekonomi berbasis masjid adalah upaya mengelola sumber daya, jaringan, dan kegiatan keagamaan untuk memperkuat kesejahteraan serta kemandirian warga. Gagasan ini mengubah masjid dari tempat berkumpul untuk beribadah menjadi simpul yang juga dapat merespons kebutuhan sosial dan ekonomi sehari-hari. Di Bandar Lampung dan Tangerang, dua inisiatif menunjukkan bahwa pergeseran tersebut mulai diterjemahkan melalui kegiatan nyata, meski dengan pendekatan berbeda.

Surau BMC di Way Kandis, Tanjung Senang, merayakan milad kelimanya pada Sabtu, 31 Oktober 2026, melalui salat Subuh berjamaah, penyaluran bantuan, dan Pasar Bahagia. Rangkaian bertajuk Satu Mihrab GERBANG SURGA dimulai pukul 04.00 WIB di Jalan Tirtaria, Gang Melati VI. Kegiatan itu memperlihatkan bahwa pemberdayaan ekonomi warga tak harus dimulai dengan proyek besar: pertemuan jamaah, bantuan yang menyentuh kebutuhan, dan ruang transaksi bersama dapat menjadi pijakan. Nilainya terletak pada kedekatan masjid dengan kehidupan warga, bukan semata pada besarnya program.

Masjid sebagai Pusat Ekonomi dan Pemberdayaan Warga

Surau BMC menghubungkan ibadah dan dukungan praktis

Rangkaian Surau BMC memadukan salat berjamaah, tadarus Al-Qur’an dan tausiah dengan bentuk dukungan yang manfaatnya langsung terasa. Pengelola menyalurkan token listrik senilai Rp300.000 untuk 10 masjid serta memberikan peralatan pertukangan kepada warga. Seusai sarapan bersama, jamaah mengunjungi stan Pasar Bahagia dan menukarkan kupon yang disediakan panitia. Ini bukan bukti bahwa satu acara dapat menyelesaikan persoalan ekonomi, tetapi contoh bagaimana masjid bisa menjadi titik temu bantuan, kebersamaan, dan aktivitas warga.

Kepala KUA Tanjung Senang, Muhammad Makhsun, mengapresiasi perpaduan ibadah dan pemberdayaan tersebut. Ia menilai pengelolaan zakat, infak, sedekah, dan wakaf dapat membantu masjid menangani persoalan umat, serta berharap Surau BMC berkolaborasi dengan Kementerian Agama melalui KUA Tanjung Senang untuk mengembangkan program ekonomi umat berbasis masjid. Harapan ini penting: kegiatan komunitas dapat memberi respons cepat, sementara dukungan lembaga berpotensi membantu merancang kesinambungan. Langkah berikutnya adalah menjaga agar bantuan sesaat terhubung dengan upaya pemberdayaan yang dapat dikembangkan bersama.

TBMM membawa kolaborasi ke tingkat kota

Di Tangerang, Pemerintah Kota bersama Badan Amil Zakat Nasional meluncurkan Tangerang Bersama Membangun Masjid (TBMM) dalam Rapat Kerja BAZNAS di Aula Hotel Grand El Hajj, Asrama Haji Provinsi Banten, Kecamatan Cipondoh, pada Rabu, 4 November 2026. Wali Kota Sachrudin menempatkan masjid bukan hanya sebagai pusat ibadah, melainkan juga sebagai ruang pemberdayaan ekonomi dan penguatan kehidupan sosial. Arah itu sejalan dengan gagasan Surau BMC, tetapi TBMM secara jelas dibingkai sebagai kolaborasi lintas sektor. Pemkot diharapkan membawa program dan data, BAZNAS mengelola penghimpunan serta penyaluran zakat, dunia usaha menyumbang sumber daya, dan masyarakat menggerakkan gotong royong.

Perbedaan skala tidak menghapus kesamaan pelajaran: masjid akan lebih berguna di luar kegiatan ibadah ketika lembaga dan komunitas saling melengkapi. TBMM berpotensi memberi kerangka koordinasi yang lebih luas, sedangkan kegiatan Surau BMC memperlihatkan wujud praktis yang dekat dengan jamaah. Namun, nama program atau banyaknya bantuan bukan ukuran yang cukup. Sachrudin menekankan bahwa pengelolaan zakat perlu memiliki tujuan jelas, indikator keberhasilan terukur, dan manfaat langsung; keberhasilan seharusnya tampak pada meningkatnya kemandirian warga, bukan hanya dana yang terkumpul atau bantuan yang dibagikan.

Kolaborasi harus berujung pada kemandirian

Bandar Lampung dan Tangerang menawarkan dua titik masuk bagi masjid untuk menjalankan peran sosial-ekonomi: prakarsa komunitas yang tumbuh dari kegiatan jamaah, dan program kota yang menghubungkan pemerintah, BAZNAS, dunia usaha, serta warga. Keduanya hanya akan bertahan bila kolaborasi tidak berhenti pada seremoni atau penyaluran bantuan. Data kebutuhan, pengelolaan dana yang bertanggung jawab, keterlibatan jamaah, dan evaluasi manfaat perlu berjalan beriringan. Harapan Pemkot Tangerang melalui program TBMM ialah agar masjid turut mendorong kemandirian ekonomi dan kesejahteraan masyarakat.

Kesimpulannya, masjid layak menjadi pusat pemberdayaan ketika aktivitas keagamaan dihubungkan dengan kebutuhan nyata dan kerja sama yang berkelanjutan. Surau BMC memberi contoh bagaimana kegiatan lokal membuka ruang bagi kolaborasi dengan KUA Tanjung Senang, sementara TBMM menawarkan kerangka lintas sektor untuk memperluas peran masjid. Tantangan berikutnya adalah memastikan setiap kemitraan menghasilkan perubahan yang dapat dirasakan warga. Ukuran keberhasilan terbaik bukan seberapa ramai program diluncurkan, melainkan apakah masyarakat menjadi lebih berdaya dan mampu melanjutkan manfaatnya.

Kuybeli memperoleh komisi saat Anda berbelanja melalui tautan kami, tanpa biaya tambahan untuk Anda.

You May Also Like

Comments
Tulis sesuatu...
Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berbagi pendapat!