Temukan minat Anda, bersama

Promo pilihan, ulasan jujur, dan cerita belanja dari mereka yang seminat dengan Anda — setiap hari di Kuybeli.

Temukan minat Anda, bersamaPromo pilihan, ulasan jujur, dan cerita belanja dari mereka yang seminat dengan Anda — setiap hari di Kuybeli.

Masjid Berevolusi Menjadi Pusat Pemberdayaan Ekonomi Umat

Masjid Berevolusi Menjadi Pusat Pemberdayaan Ekonomi Umat
Minat|Asia Tenggara

Masjid Pemberdayaan Ekonomi: Dari Ruang Ibadah ke Pusat Komunitas

Masjid pemberdayaan ekonomi adalah konsep pengelolaan masjid yang tidak berhenti pada fungsi ibadah ritual, melainkan menjadikan masjid sebagai pusat pemberdayaan komunitas yang mengembangkan fungsi sosial masjid, menguatkan ekonomi umat Islam, mengelola lingkungan, serta memberi layanan ramah bagi kelompok rentan di sekitar rumah ibadah.

Arah baru ini bukan wacana, melainkan kebijakan resmi. Direktur Jenderal Bimbingan Masyarakat Islam Kementerian Agama, Abu Rokhmad, menegaskan bahwa pemberdayaan rumah ibadah menjadi salah satu program prioritas di institusinya. Masjid diharapkan tumbuh menjadi pusat pemberdayaan yang menyentuh langsung kehidupan jamaah, bukan sekadar bangunan sakral yang sepi aktivitas ekonomi dan sosial. Ini adalah pergeseran paradigma: dari masjid sebagai tujuan datang beribadah, menjadi masjid sebagai titik awal perubahan keseharian jamaah.

Program Masjid Berdaya Berdampak bersama Baznas menjadi contoh konkrit. Sepanjang 2025–2026, sekitar 300 masjid memperoleh dukungan modal antara Rp150 juta hingga Rp250 juta untuk mengembangkan aktivitas ekonomi di lingkungan jamaah. Ini bukan dana santunan, melainkan investasi sosial yang menuntut kreativitas takmir dan imam mengelola usaha produktif yang menyatu dengan kehidupan harian warga. Jika dikelola serius, angka ini bisa mengubah masjid dari simbol spiritual menjadi mesin ekonomi umat.

Fungsi Sosial Masjid: Inklusif, Ramah Lingkungan, dan Melampaui Mimbar

Penguatan fungsi sosial masjid bukan pelengkap, melainkan inti dari transformasi ini. Kementerian Agama mendorong lahirnya masjid ramah anak, lansia, dan penyandang disabilitas, sebuah pengakuan bahwa akses terhadap pesan keagamaan masih timpang bagi kelompok rentan. Imam dan takmir diarahkan memasukkan prinsip inklusivitas dalam pengelolaan rumah ibadah, mulai dari fasilitas fisik hingga cara penyampaian informasi.

Di ranah lingkungan, konsep Eco-Masjid memperluas misi spiritual ke ekoteologi. Program ini mencakup penanaman pohon di sekitar masjid, wakaf yang terkait dengan hutan, serta gerakan menjaga kebersihan rumah ibadah sebagai bagian dari ibadah kolektif. Gerakan masjid bersih yang tampak sepele sebenarnya menggeser budaya: jamaah diajak melihat kebersihan, penghijauan, dan pengelolaan sampah sebagai bagian dari iman, bukan sekadar urusan petugas kebersihan.

Kemenag juga membangun ekosistem kelembagaan melalui Badan Kesejahteraan Masjid (BKM) agar imam memiliki saluran formal dan peran strategis dalam menjembatani program pemerintah dengan masyarakat. Melalui berbagai pendekatan ini, masjid didorong menjadi institusi yang memberi manfaat luas, tidak hanya di bidang keagamaan, tetapi juga sosial, ekonomi, lingkungan, dan pelayanan bagi kelompok rentan. Pesannya jelas: fungsi sosial masjid bukan tambahan, tetapi ukuran seberapa hidup sebuah masjid di tengah komunitasnya.

Masjid Sebagai Pusat Sirkular Ekonomi: Pelajaran dari Makassar

Di tingkat kota, Wali Kota Makassar, Munafri Arifuddin, mengambil langkah berani dengan mendorong masjid bertransformasi menjadi pusat pemberdayaan ekonomi dan sosial masyarakat. Pernyataan itu ia sampaikan dalam Tabligh Akbar dan Diskusi Bulanan yang menghadirkan para imam kelurahan, imam masjid, dan Kepala KUA se-kota. Munafri menegaskan, “Melalui masjid, ekonomi bisa bertumbuh. Melalui masjid, segala macam pemberdayaan bisa kita lakukan.”

Salah satu fokus utamanya adalah pengelolaan sampah dari lingkungan masjid. Ia mengajak pengurus membangun budaya memilah dan mengelola sampah sebagai pintu masuk membentuk pusat sirkular ekonomi di sekitar masjid. Artinya, sampah bukan lagi beban, tetapi sumber nilai baru: bahan daur ulang, kompos, atau bahkan bahan baku usaha kecil. Di sini, fungsi sosial masjid menyatu dengan kepedulian lingkungan dan ekonomi umat Islam.

Tak berhenti di situ, Munafri memperkenalkan peluang budidaya jamur sebagai kegiatan ekonomi yang bisa dikembangkan warga berbasis masjid. Ia berharap materi budidaya jamur segera masuk agenda pelatihan bagi pengurus masjid dan warga pada pertemuan berikutnya. Jika konsisten, pola ini mengubah masjid menjadi ruang pelatihan kewirausahaan, bukan hanya ruang ceramah. Pertemuan imam yang sebelumnya berpotensi jadi forum rutinitas kini dituntut menghasilkan program konkret yang berimbas pada kesejahteraan jamaah.

Masjid Berevolusi Menjadi Pusat Pemberdayaan Ekonomi Umat

Ekonomi Umat Islam dan Masa Depan Masjid sebagai Pusat Pemberdayaan Komunitas

Transformasi masjid menjadi pusat pemberdayaan komunitas membawa konsekuensi besar bagi ekonomi umat Islam. Dukungan modal bagi sekitar 300 masjid yang diarahkan untuk mengembangkan aktivitas ekonomi jamaah menunjukkan bahwa negara melihat masjid sebagai simpul strategis untuk mengatasi persoalan ekonomi warga. Di Makassar, pemerintah kota secara eksplisit meminta para imam dan pengurus masjid memastikan seluruh dukungan pemerintah memberikan manfaat nyata bagi peningkatan kesejahteraan jamaah dan masyarakat sekitar.

Namun keberhasilan tidak otomatis. Tanpa pelatihan manajemen masjid yang serius, perencanaan usaha, dan sistem akuntabilitas, modal sosial dan finansial yang besar bisa menguap jadi serangkaian kegiatan seremonial. Masjid pemberdayaan ekonomi menuntut cara berpikir baru: imam sebagai penggerak sosial, takmir sebagai manajer komunitas, dan jamaah sebagai mitra aktif. Jika pola ini mengakar, masjid akan kembali pada ruh awalnya: bukan hanya rumah ibadah, tetapi pusat peradaban yang mengikat spiritualitas dengan kesejahteraan nyata.

Kesimpulannya, masa depan masjid ditentukan oleh keberanian kita menggeser fokus dari bangga pada bangunan megah ke bangga pada dampak sosial dan ekonomi yang dirasakan jamaah. Kebijakan Kemenag, inisiatif program Masjid Berdaya Berdampak, dan eksperimen sirkular ekonomi di Makassar adalah langkah awal yang menjanjikan. Tantangannya kini berada di tangan para pengelola masjid: apakah mereka siap menjadikan masjid sebagai pusat pemberdayaan ekonomi yang hidup, inklusif, dan relevan dengan kebutuhan zaman.

Kuybeli memperoleh komisi saat Anda berbelanja melalui tautan kami, tanpa biaya tambahan untuk Anda.

You May Also Like

Comments
Tulis sesuatu...
Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berbagi pendapat!