Temukan minat Anda, bersama

Promo pilihan, ulasan jujur, dan cerita belanja dari mereka yang seminat dengan Anda — setiap hari di Kuybeli.

Temukan minat Anda, bersamaPromo pilihan, ulasan jujur, dan cerita belanja dari mereka yang seminat dengan Anda — setiap hari di Kuybeli.

Ribuan Anak Terancam Putus Sekolah: Peran Keluarga dan Pemerintah

Ribuan Anak Terancam Putus Sekolah: Peran Keluarga dan Pemerintah
Minat|Pendidikan Orang Tua dan Anak

Krisis Anak Putus Sekolah: Bukan Sekadar Angka, Tapi Pilihan Kolektif

Krisis anak putus sekolah adalah situasi ketika banyak anak berhenti atau tidak pernah mengakses pendidikan formal, terutama karena hambatan ekonomi, sosial, dan kualitas layanan, sehingga masa depan mereka terancam dan memerlukan intervensi aktif dari keluarga, komunitas, dan pemerintah untuk memastikan hak belajar tetap terpenuhi. Di Buol, Sulawesi Tengah, pemerintah kabupaten memperkuat upaya mengatasi anak tidak sekolah melalui pemberian bantuan perlengkapan pendidikan kepada mereka yang belum mengakses pendidikan layak. Langkah ini tidak muncul di ruang hampa; ia lahir dari kesadaran bahwa angka anak putus sekolah mencerminkan kegagalan kolektif kita melindungi hak dasar anak. Persoalan di Depok dan Jogja menunjukkan pola serupa: biaya, tunggakan, dan ketidakpercayaan pada sekolah negeri membuat keluarga miskin berada di posisi serba salah.

Buol: Pendataan Serius dan Bantuan Pendidikan Anak, Tapi Akar Masalah Tetap Menantang

Buol layak diapresiasi karena memilih memulai dari data, bukan asumsi. Sekitar 3.000 anak telah terverifikasi sebagai belum mengenyam atau meninggalkan pendidikan, melalui pendataan lintas instansi hingga tingkat desa. Pendataan melibatkan dinas kependudukan, pemberdayaan masyarakat dan desa, serta operator desa, agar pemerintah mengetahui kondisi dan kebutuhan anak secara lebih tepat. Tetapi angka tersebut mengungkap problem mendasar: keterbatasan ekonomi, perundungan, jarak ke sekolah, hingga pernikahan dini menjadi faktor utama anak tidak sekolah. Bantuan pendidikan anak berupa alat tulis, seragam, tas, dan sepatu diharapkan meringankan beban keluarga dan mendorong anak kembali ke kelas. "Bantuan tersebut mencakup alat tulis, seragam, tas, hingga sepatu" bukan sekadar paket barang; ia adalah simbol bahwa negara mengakui adanya biaya tersembunyi dari pendidikan yang selama ini ditanggung diam-diam oleh keluarga miskin.

Tunggakan Biaya Sekolah dan Ijazah Ditahan: Ketika Pendidikan Menjadi Utang

Kasus warga Depok yang harus mencari bantuan hingga ke Lamongan untuk menyelesaikan tunggakan biaya sekolah adalah potret telanjang bagaimana akses pendidikan bisa tergadai oleh angka di kwitansi. Anak yang bersekolah di SMK memiliki tunggakan lebih dari Rp7 juta, sementara anak di SMP menanggung sekitar Rp2,5 juta. Lebih buruk lagi, ijazah mereka disebut masih ditahan pihak sekolah. Ketika dokumen pendidikan berubah menjadi jaminan utang, pesan yang sampai ke keluarga miskin jelas: pendidikan adalah risiko finansial. Gubernur berkoordinasi dengan wali kota dan kepala dinas pendidikan provinsi untuk menyelesaikan masalah warga tersebut. Respons cepat itu penting, tetapi kita tidak bisa bergantung pada jalur aduan individual. Selama model pembiayaan sekolah swasta bertumpu pada keluarga, tunggakan akan terus menjadi gerbang menuju anak putus sekolah, terutama bagi mereka yang tidak tersentuh bantuan pendidikan anak formal.

Jogja: Orang Tua Miskin Memilih Swasta, Sekolah Negeri Kehilangan Kepercayaan

Fenomena di Kota Jogja menyingkap dimensi lain krisis pendidikan: persoalan kualitas dan kepercayaan. Sekolah dasar negeri kalah bersaing dengan swasta, bahkan di mata keluarga kurang mampu. Anggota dewan menemukan orang tua dari desil sosial 1–3 rela membayar selama enam tahun agar anak bersekolah di SD swasta, lalu baru beralih ke SMP negeri melalui jalur afirmasi. Mereka mengaku lebih memilih "banting tulang" demi pendidikan agama dan pembentukan karakter yang dinilai lebih kuat di sekolah swasta. Dulu sekolah swasta dianggap sekolah buangan, kini realitas berbalik: sekolah negeri dipandang biasa saja dan tidak menunjukkan peningkatan signifikan. Ini bukan sekadar soal gengsi; ketika orang tua miskin merasa harus membayar demi kualitas, akses sekolah gratis di atas kertas menjadi kehilangan makna. Ketidakpercayaan ini, jika tidak direspons, akan mendorong anak ke risiko tunggakan dan akhirnya putus sekolah.

Strategi Bertahan: Peran Orang Tua, Komunitas, dan Pemerintah Lokal

Pelajaran utama dari Buol, Depok, dan Jogja jelas: mencegah anak putus sekolah adalah kerja ekosistem, bukan tugas satu lembaga. Pendataan lintas sektor di Buol yang melibatkan dinas kependudukan, pemberdayaan desa, dan operator lokal menunjukkan betapa penting koordinasi untuk menemukan anak yang tidak sekolah dan memberi intervensi yang tepat. Pemerintah kabupaten menyiapkan jalur pendidikan nonformal melalui PKBM dan SKB bagi anak yang sudah lama meninggalkan sekolah formal; ini mengakui bahwa tidak semua anak bisa langsung kembali ke bangku reguler. Di sisi lain, koordinasi gubernur dengan wali kota Depok dan dinas pendidikan provinsi untuk menangani tunggakan warga memperlihatkan bahwa masalah biaya perlu diselesaikan secara terstruktur, bukan sekadar belas kasihan. Orang tua dan komunitas bisa membentuk sistem dukungan: kelompok tabungan pendidikan, pemantauan anak rawan putus sekolah, dan dialog kritis dengan sekolah negeri agar perbaikan kualitas benar-benar terjadi, bukan hanya dijanjikan.

Kuybeli memperoleh komisi saat Anda berbelanja melalui tautan kami, tanpa biaya tambahan untuk Anda.

You May Also Like

Comments
Tulis sesuatu...
Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berbagi pendapat!