KuybeliKuybeli

10 Tahun Ngeblog: Dari Buku Harian Digital sampai Laptop AI Idaman

10 Tahun Ngeblog: Dari Buku Harian Digital sampai Laptop AI Idaman
Minat|Penggunaan Laptop

Sepuluh Tahun, Ribuan Kenangan di Layar

Hai, ketemu lagi! Setelah cukup lama hiatus dari dunia blog, akhirnya jari ini kembali menari di keyboard. Postingan ini jadi semacam pemanasan sekaligus refleksi: perjalanan ngeblogku selama lebih dari 10 tahun terakhir.

Blog berdomain yang sekarang kamu kenal sudah berusia 11 tahun. Rasanya masih seperti kemarin waktu pertama kali memutuskan punya blog berbayar. Padahal, kalau ditarik ke belakang, perjalananku dengan dunia tulis-menulis digital sudah dimulai jauh sebelum itu.

Sejak zaman SMP aku sudah akrab dengan buku diary. Tahun 2006, diary itu pindah bentuk jadi blog di Multiply. Di sanalah dulu aku banyak menulis cerita jadi ibu baru dan kisah tentang anak pertama. Sayangnya, Multiply tutup dan semua tulisan lenyap begitu saja.

Mungkin itu juga yang bikin aku makin sadar: kenangan perlu tempat yang lebih “aman” untuk disimpan.

Titik Balik: Dari Lomba Berhadiah Kompor, Lahir Blog Pribadi

Setelah Multiply tutup, jujur aku sempat kehilangan minat menulis di blog. Sampai di akhir 2012, ada sebuah lomba menulis dari Modena yang tiba-tiba jadi titik balik.

Karena ingin ikut lomba tapi belum punya blog pribadi, aku membuat akun di Kompasiana. Itu adalah pertama kalinya aku serius menulis untuk blog lomba.

Yang tidak pernah kuduga, tulisan perdanaku malah keluar sebagai juara pertama dan berhadiah free standing cooker dari Modena. Untuk penulis pemula yang baru “nyemplung” lagi ke dunia blog, kemenangan ini berkesan banget.

Kompor hadiah itu akhirnya kujual, dan uangnya langsung kutabung sebagai tabungan haji pertamaku. Rasanya luar biasa: hasil menulis bisa berubah jadi langkah nyata menuju Baitullah.

Kemenangan pertama itulah yang bikin semangat ngeblogku menyala. Aku pun memutuskan membuat blog pribadi. Awalnya masih pakai blog gratisan di WordPress, hingga tahun 2014 akhirnya lahirlah blog berbayar dengan nama yang masih kupakai sampai sekarang.

Ngeblog Traveling: Menjahit Cerita dari Satu Kota ke Kota Lain

Di awal-awal, niche blogku adalah traveling. Tujuan utamanya sederhana: mendokumentasikan perjalanan kami sekeluarga. Biar kenangan nggak cuma lewat, tapi tersimpan rapi dalam bentuk cerita.

Kebetulan waktu itu aku lagi gandrung backpackeran dan berburu tiket murah—bahkan yang bener-bener nol rupiah. Aku pernah ke Malaysia PP nol rupiah di masa ketika nol rupiah benar-benar nol, belum ada fuel surcharge. Pernah juga terbang ke Singapura, dan ke Bali PP cuma lima ribu rupiah.

Dari pengalaman-pengalaman itulah lahir banyak tulisan tentang tips jalan-jalan hemat. Rasanya menyenangkan bisa berbagi trik sekaligus mengabadikan perjalanan kami.

Alih-alih menuliskan tumbuh kembang anak secara detail seperti beberapa temanku, aku memilih menulis perjalanan kami bersama. Bangka, Belitung, Malang, Bali, Semarang, Bandung, Jepara, Pontianak, Jogja, sampai Istanbul—semua pernah kuceritakan di blog.

Bahkan main ke taman dekat rumah pun bisa jadi bahan tulisan, selama masih bisa diberi judul “jalan-jalan”.

Kalau ada yang lebih suka membelikan anaknya barang branded, aku sering memilih barang biasa, lalu sisa dananya kupakai untuk mengajak mereka jalan-jalan. Pengalaman, buatku, lebih berharga dan sulit diulang.

Belasan tahun kemudian, tulisan-tulisan itu berubah jadi semacam harta karun. Saat anak-anak kangen atau ingin nostalgia perjalanan keluarga, mereka tinggal membuka blog ibunya.

Ngeblog dan Rasa Percaya Diri yang Kembali

Buatku, ngeblog bukan sekadar hobi. Ia adalah bentuk aktualisasi diri.

Setelah menikah, aku memutuskan jadi ibu rumah tangga dan meninggalkan pekerjaanku sebagai staff research and development di sebuah perusahaan di Jakarta. Keputusan itu datang bersama rasa minder yang nggak kecil.

Setiap ada meme di media sosial soal “dulu yang ranking satu sekarang jadi apa”, aku sering merasa ingin menghilang. Teman-teman banyak yang sudah sukses di berbagai profesi, sementara aku cuma terlihat seperti ibu rumah tangga biasa tanpa aktivitas luar.

Lingkar pergaulanku pun terbatas: tetangga, tukang sayur, tukang jamu, dan beberapa mama yang kutemui saat antar-jemput sekolah.

Saat mulai ngeblog lagi, semuanya pelan-pelan berubah. Aku punya banyak teman baru dari berbagai profesi dan kota. Meski belum pernah bertemu, interaksi lewat blogwalking membuat kami akrab.

Perasaan minder itu mulai memudar. Aku tidak lagi melihat diriku sebagai ibu rumah tangga lusuh yang kerjanya cuma antar jemput anak. Aku adalah blogger, dengan jaringan pertemanan yang luas dan banyak ilmu baru yang bisa kupelajari setiap hari dari tulisan orang lain.

Saat satu per satu tulisanku mulai menjuarai lomba blog, rasa percaya diri itu makin menguat. Ada kepuasan tersendiri ketika tulisan dihargai, baik lewat piala, hadiah, maupun kerja sama dengan brand.

Rasanya menyenangkan ketika seorang ibu rumah tangga bisa menghasilkan uang dari rumah melalui tulisan. Sejak saat itu, reuni dengan teman-teman sudah tidak lagi terasa menegangkan.

Suka Duka Ngeblog: Antara Hadiah, Air Mata, dan Rasa Syukur

Ngeblog membuat batin terasa kaya. Aku punya banyak teman dari berbagai daerah yang ramah meski belum pernah bertatap muka.

Ada rasa hangat saat menulis tentang suatu kota, lalu ada blogger yang tinggal di sana meninggalkan komentar seperti, “Kapan-kapan meet up ya, Mbak” atau “Wah, tahu gitu mampir, Mbak”. Rasanya seperti punya banyak saudara di mana-mana.

Aku pernah melonjak kegirangan ketika tulisanku “Mendadak Piknik ke Semarang” menang lomba blog berhadiah menginap di hotel senilai 10 juta rupiah. Pernah juga mendapat juara kedua di lomba asuransi syariah. Di kesempatan lain, aku dapat voucher pesawat yang akhirnya kupakai terbang ke Kalimantan.

Total ada sekitar 24 kemenangan lomba menulis yang berhasil kudapatkan sejak aktif ngeblog. Tidak sebanyak blogger lain yang jam terbangnya lebih tinggi, tapi untuk penulis otodidak sepertiku, itu adalah prestasi yang sangat membahagiakan.

Tentu tidak semua perjalanan manis. Ada kalanya tulisan yang kukerjakan berhari-hari, lengkap dengan survei lapangan, ternyata kalah. Pernah juga sudah bela-belain terbang ke Bali demi wawancara narasumber untuk tulisan lomba, tapi hasilnya tak sesuai harapan.

Bahkan pernah saking seriusnya menggarap tulisan, aku sampai demam dua hari, dan akhirnya tulisan itu tetap tidak menang. Sedih? Jelas. Tapi di situlah aku belajar bahwa kalah dan kecewa adalah bagian dari paket lengkap bernama “perjalanan ngeblog”.

Di luar urusan lomba, ngeblog membawaku ke pengalaman yang nyaris mustahil kualami kalau hanya diam di rumah.

Aku pernah duduk satu ruangan dan satu meja dengan Trinity, penulis traveling favoritku. Pernah pula duduk bersebelahan sambil mengobrol dan bertukar kartu nama dengan Hanum, presenter CNN, di sebuah acara traveling.

Aku juga sempat merasakan lunch di hotel-hotel berbintang di Jakarta—Hotel Sultan, Hotel Pullman, dan lainnya—berkat undangan acara blogger. Semua pengalaman itu membuatku merasa sangat beruntung pernah mengenal dunia blog.

Ketika Niat Ngeblog Mulai Bergeser

Seiring makin seringnya dapat kerja sama dengan brand dan beberapa kali menang lomba, tanpa kusadari niat awal ngeblog mulai bergeser.

Blog yang dulu diniatkan sebagai tempat menyimpan kenangan bersama anak-anak, pelan-pelan berubah jadi ladang materi. Setiap kali rupiah berdatangan dari blog, fokusku mulai condong ke “job” dan “lomba”.

Sampai aku menyadari: aku jadi sedih kalau kalah lomba. Ikut baper jika melihat blogger lain dapat job, sementara aku tidak. Pertanyaan seperti “Kok bisa tulisan dia menang, sedangkan tulisanku kalah?” sering berputar di kepala.

Kurasa banyak blogger yang pernah berada di fase serupa. Wajar, tapi kalau dibiarkan, justru membuat kita lelah dan kehilangan esensi menulis.

Seiring waktu, aku mulai belajar melepas. Menyadari bahwa blog bukan semata soal uang. Materi hanyalah bonus yang datang sesekali, bukan tujuan utama.

Berbagi lewat tulisan itu sendiri sudah merupakan kebahagiaan.

Ada rasa haru ketika tulisanku tentang Bu Yuni—seorang ustazah yang mendirikan rumah Qur’an untuk dhuafa—menang lomba dan menghadiahkannya kesempatan umroh dari Allianz.

Ada kehangatan tersendiri saat pemilik sebuah homestay di Bromo mengucapkan terima kasih karena penginapannya kutulis di blog. Begitu juga ketika pengelola penginapan di pinggir pantai Jepara meninggalkan komentar penuh apresiasi.

Momen-momen seperti itu membuatku sadar: blog bisa jadi jembatan kebaikan. Bukan hanya untuk diri sendiri, tapi juga untuk orang lain.

Selama 10 tahun terakhir, ada sekitar 380 artikel yang berhasil kutulis. Tidak banyak jika dibandingkan dengan blogger yang rajin update tiap minggu, apalagi tiga tahun terakhir aku hampir tidak menerima job. Kebanyakan tulisanku belakangan ini adalah artikel organik—lahir dari mood dan kebutuhan hati.

Tahun 2023 aku hanya menulis 28 artikel, tahun 2024 tinggal 13 artikel, dan tahun 2025 baru satu artikel ini. Meski tertatih, aku bersyukur masih bertahan. Buatku, menulis adalah hobi yang selalu berhasil menyegarkan pikiran.

ASUS dan Komunitas Blogger: Dari Gathering sampai Roadshow

Dalam perjalanan panjang para blogger di Indonesia, ASUS punya peran yang cukup terasa. Sejak sekitar 2015, mereka konsisten mengadakan berbagai event untuk blogger, baik offline maupun online.

ASUS Blogger Gathering pernah diadakan di berbagai kota: Jakarta, Malang, Surabaya, Bandung, hingga Lampung pada Februari 2024. Di sana, para blogger tidak hanya bersilaturahmi, tapi juga berkesempatan mencoba produk terbaru ASUS secara langsung.

Event-event seperti ini membuat komunitas blogger tetap hidup, saling terhubung, dan melek teknologi terkini, terutama di dunia laptop.

Beberapa blogger daerah bahkan pernah diundang khusus ke Jakarta untuk menghadiri peluncuran produk ASUS. Aku sempat bertemu dengan beberapa blogger dari berbagai kota di acara peluncuran Zenfone Max Pro tahun 2018.

Rasanya seperti reuni lintas kota, difasilitasi oleh sebuah brand yang memang cukup loyal terhadap komunitas blogger.

Peran Laptop dalam Aktivitas Blogger

Untuk sebagian besar blogger, laptop adalah senjata utama. Dari menulis, mengedit foto, hingga mengelola berbagai platform, semuanya biasanya dikerjakan lewat layar laptop.

Menariknya, aku justru selama ini lebih banyak menulis menggunakan komputer di rumah. Kalau sedang mobile, aku mengandalkan handphone untuk mengetik.

Banyak yang tidak percaya kalau puluhan artikel di blog ini kutulis hanya dengan ponsel. Padahal itu kenyataannya.

Bukan berarti aku tidak mengikuti perkembangan teknologi laptop. Ada beberapa laptop yang sudah lama masuk daftar incaran, dan salah satunya adalah laptop AI dari ASUS.

Zenbook 14 OLED UX3405CA jadi salah satu wishlist yang masih kusimpan rapi di kepala. Laptop AI ini seperti paket lengkap untuk blogger yang ingin lebih produktif.

Zenbook 14 OLED UX3405CA: Laptop AI yang Bikin Blogger Kepincut

Zenbook 14 OLED UX3405CA hadir dengan teknologi AI yang dilengkapi fitur Copilot. Buat blogger, fitur seperti ini bisa jadi game changer.

  • Lebih produktif: AI dapat membantu mempercepat alur kerja, mulai dari riset, pengelolaan ide, sampai pengaturan dokumen.

  • Efisiensi waktu: tugas-tugas repetitif bisa dipersingkat sehingga energi bisa difokuskan ke hal kreatif, seperti mengolah cerita.

  • Pengalaman penggunaan lebih nyaman: AI membantu menyesuaikan cara kerja laptop dengan kebiasaan pemakainya.

Desainnya pun tipis dan ringan, sehingga praktis dibawa ke mana-mana. Tampilan stylish dan modern membuatnya cocok hadir di meja meeting, coworking space, kafe, atau sudut rumah favorit.

Fitur keamanannya juga dirancang lebih canggih, sehingga membantu melindungi pengguna dari ancaman seperti malware dan phishing. Ditambah lagi, pengelolaan daya yang dibantu AI membuat baterainya lebih awet.

Sebagai blogger yang selama ini lebih sering bergantung pada komputer rumah dan ponsel, punya laptop seperti ini tentu akan sangat membantu untuk:

  • Menulis dari mana saja tanpa terikat meja kerja.

  • Mengelola foto dan bahan tulisan langsung di satu perangkat.

  • Lebih leluasa mengikuti event atau traveling sambil tetap update blog.

Jadi wajar kalau Zenbook 14 OLED UX3405CA ini masuk daftar laptop impian. Siapa tahu, dengan laptop AI seperti ini, produktivitas ngeblog ikut naik dan ide-ide baru mengalir lebih lancar.

Menjaga Nyala Semangat Ngeblog

Beberapa tahun terakhir, semangat menulis memang sempat naik turun. Namun setiap kali kembali membuka dashboard blog dan membaca tulisan-tulisan lama, aku selalu diingatkan pada satu hal: blog ini bukan sekadar kumpulan kata, tapi rekam jejak sebuah perjalanan hidup.

Ngeblog mengajarkanku banyak hal:

  • Bahwa pengalaman bisa disimpan, dibagikan, dan menginspirasi orang lain.

  • Bahwa ibu rumah tangga pun bisa punya ruang aktualisasi diri yang luas.

  • Bahwa rezeki bisa datang dari hobi yang dikerjakan dengan sepenuh hati.

Ke depan, aku berharap semangat ngeblog yang sempat meredup bisa kembali menyala—dibantu suasana baru, pengalaman baru, dan mudah-mudahan, perangkat baru seperti laptop AI yang selama ini cuma jadi wishlist.

Yang jelas, selama masih ada cerita yang ingin kutulis dan hati yang merasa ringan setelah menulis, blog ini akan tetap hidup.

Karena pada akhirnya, ngeblog bukan hanya tentang pageview, lomba, atau kerja sama. Ini tentang berbagi, meninggalkan jejak, dan merayakan perjalanan hidup, satu halaman demi satu halaman.

Kuybeli earns a commission when you shop through our links, at no extra cost to you. Editorial content is independently selected by our team.

You May Also Like

Comments
Tulis sesuatu...
Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berbagi pendapat!