Sains Turun ke Tengah Publik
The Conversation Indonesia kembali menggelar TCID Author Awards 2024 pada Jumat, 31 Januari 2025, sebagai ajang apresiasi untuk para penulis dan narasumber podcaster yang berasal dari kalangan peneliti serta akademisi.
Acara tahunan ini dihadiri 406 peserta dan mengusung tema “Misi Sains di Era Post Truth”. Intinya, TCID menegaskan komitmen untuk membawa sains keluar dari menara gading dan mendekatkannya ke masyarakat lewat publikasi populer.
Semangat membumikan sains melalui kanal alternatif ini juga disambut positif oleh Menteri Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi, Satryo Soemantri Brodjonegoro. Dalam sambutannya, ia mengajak para peneliti lebih berani menulis artikel populer, bukan hanya jurnal ilmiah yang keterbacaannya relatif rendah.
Menurut Satryo, tulisan ilmiah untuk publik tidak harus seketat jurnal, tapi tetap wajib orisinal, relevan, dan membawa kebaruan bagi masyarakat.
Misi TCID di Tengah Badai Post-Truth
Di era media sosial, arus informasi datang bagai tsunami tanpa ada “tanggul” yang cukup kuat menahannya. Akibat limpahan informasi ini, banyak orang tanpa sadar memilih mempercayai sesuatu bukan karena kebenarannya, melainkan karena kedekatan emosional atau kesesuaian dengan minat pribadi.
Fenomena itu menandai masuknya kita ke era “Post-Truth”, ketika opini publik begitu mudah diarahkan oleh narasi yang bisa melenceng jauh dari fakta.
Di titik ini, peran TCID jadi krusial. CEO/Publisher TCID, Prodita Sabarini, menegaskan bahwa akan sangat berbahaya jika masyarakat dijejali informasi tanpa landasan jelas dan dipakai untuk menggiring opini. TCID, dengan ekosistem ribuan akademisi dari berbagai universitas dan lembaga riset di dalam dan luar negeri, memegang visi untuk menyajikan informasi yang berbasis fakta dan ilmu pengetahuan.
Namun, Satryo mengakui masih banyak akademisi yang kesulitan menembus ruang publik karena keterbatasan akses. Platform seperti TCID bisa menjadi jembatan penting untuk memasyarakatkan sains. Pemerintah pun melihat peluang untuk mendorong akademisi lebih aktif menulis di media populer.
Menurut Bagus Muljadi dari Nottingham University, akses dua arah antara akademisi dan publik perlu diperlebar. Ia menilai akademisi juga membutuhkan literasi media yang lebih baik, karena cara mereka menyampaikan gagasan sering kali masih kaku dan kurang naratif.
Tantangan Baru: AI, Misinformasi, dan Gaya Bertutur Ilmuwan
Di tengah perkembangan teknologi, publik kini dihadapkan pada tantangan lain: kecerdasan buatan yang sudah mampu menghasilkan artikel ilmiah. Di satu sisi, ini memudahkan produksi konten; di sisi lain, publik makin sulit membedakan mana informasi yang benar-benar dapat dipertanggungjawabkan secara akademis.
Josefhine Chitra dari Sahabat.AI menilai AI memang berpotensi disalahgunakan oleh pihak yang tidak bertanggung jawab. Namun, ia juga melihat sisi cerahnya: AI bisa dipakai sebagai alat untuk mendeteksi misinformasi, membantu verifikasi fakta, dan menjelaskan konsep sains yang rumit. AI dapat membuka akses terhadap sumber-sumber terkait penemuan penelitian sehingga publik tidak terputus dari rujukan primer.
Di sisi lain, Guru Besar Biologi Konservasi Universitas Indonesia, Jatna Supriatna, mengingatkan adanya tren ilmuwan yang kini semakin sering berbicara langsung ke publik tanpa melewati prosedur akademik seperti dulu.
Hal ini positif, tetapi ada risikonya: bila akademisi sembarangan mengumbar hasil pemikirannya, kepercayaan publik terhadap sains dapat tergerus.
Merespons berbagai tantangan ini, Prodita menjelaskan bahwa ekosistem publikasi di TCID mengutamakan proses verifikasi yang sistemik untuk setiap artikel yang tayang. TCID juga memiliki panduan ketat soal penggunaan AI dan tidak ragu menolak artikel yang ketahuan dihasilkan oleh AI demi menjaga kualitas serta originalitas tulisan.
Delapan Penulis Terbaik TCID Author Awards 2024
Sepanjang satu tahun terakhir, ada 741 artikel yang terbit di TCID. Dari jumlah tersebut, delapan penulis dinobatkan sebagai penulis terbaik TCID Author Awards 2024 dengan berbagai kategori.
Berikut beberapa di antaranya:
Penulis Paling Banyak Dibaca: Ilham Akhsanu Ridlo (Fakultas Kesehatan Masyarakat, Universitas Airlangga). Ia konsisten menulis soal kesehatan masyarakat dan berhasil menarik perhatian puluhan ribu pembaca.
Penulis Terproduktif: Arif Perdana (Monash University), dosen strategi digital dan data yang menulis 18 artikel sepanjang 2024. Karyanya mendapat banyak perhatian karena sangat relevan dengan kehidupan di era digital.
Penulis Pilihan Editor Politik & Masyarakat: Aniello Ianonne (Universitas Diponegoro), yang rutin memberi analisis tajam tentang dinamika politik dan demokrasi terkini.
Penulis Pilihan Editor Bisnis & Ekonomi: Imam Salehudin (FEB UI). Ia menulis soal literasi keuangan yang dekat dengan keseharian, termasuk ajakan lebih bijak berbelanja dan tidak terjebak standar gaya hidup yang menyesatkan.
Penulis Pilihan Editor Kesehatan: Ronny Soviandhi (Pusat Kedokteran Tropis UGM). Ia beberapa kali mengulas isu tuberculosis (TB), salah satu penyakit dengan angka kematian tinggi di Indonesia, untuk mendorong kesadaran publik dan pemangku kebijakan.
Penulis Pilihan Editor Lingkungan: Nikodemus Niko (Universitas Maritim Raja Ali Haji), yang giat menyuarakan kepentingan masyarakat adat yang kian termarginalisasi oleh pembangunan.
Penulis Pilihan Editor Pendidikan dan Budaya: Rizqy Amelia Zein, dosen Psikologi Sosial Universitas Airlangga yang menyuguhkan perspektif segar tentang dunia pendidikan nasional.
Penulis Pilihan Editor Sains dan Teknologi: Harry Octavianus Sofian (BRIN), seorang arkeolog yang antusias membagikan ide serta teori baru dunia arkeologi ke publik.
Kategori Baru: Penulis Pendatang dan Narasumber Podcaster
Tahun ini, TCID Author Awards menghadirkan beberapa kategori baru, di antaranya “Penulis Baru” dan “Narasumber Podcaster Terbaik”.
Untuk kategori Penulis Baru, TCID menominasikan:
Kasmiati – dosen Fakultas Pertanian dan Kehutanan, Universitas Sulawesi Barat
Dhuha Hadiyansyah – dosen Fakultas Ilmu Budaya, Universitas Al-Azhar Indonesia
Chontida Auikool – dosen Ilmu Hubungan Internasional, Lund University
Sementara itu, kategori “Narasumber Podcast Terbaik” diberikan kepada Krisna Gupta, peneliti senior di Center for Indonesian Policy Studies (CIPS). Dalam kapasitasnya sebagai peneliti, ia dinilai mampu menjelaskan persoalan yang dibahas dalam podcast dengan jelas dan menarik, tercermin dari tingkat retention (pendengar bertahan sampai akhir) yang tinggi.
Mengapresiasi Fact Checker dan Institusi Terproduktif
TCID juga menghadirkan kategori Fact Checker #PanelAhliCekFaktaTerproduktif, untuk mengapresiasi peneliti dan akademisi yang bersedia menjadi fact checker selama tahun politik 2024.
Panel Ahli Cek Fakta adalah kolaborasi TCID dengan akademisi dan peneliti untuk memverifikasi pernyataan politik para politisi dan menguji kebenarannya.
Dalam kategori ini, TCID memilih Alexander Michael Tjahjadi, peneliti ekonomi di Indonesia China Partnership Studies (INCHIPS), Universitas Atma Jaya Yogyakarta, sebagai “Fact Checker #panelAhliCekFakta Terproduktif”. Sepanjang tahun, ia dinilai sangat aktif dan sigap bekerja sama dalam aktivitas pemeriksaan fakta.
Selain individu, TCID Author Awards 2024 juga memberikan penghargaan untuk institusi terproduktif, yang dibagi menjadi dua kategori:
Institusi Universitas Terproduktif
Institusi Non-Universitas Terbaik
Melalui dua kategori ini, TCID ingin menegaskan bahwa universitas maupun lembaga non-universitas saling melengkapi dalam menghadirkan penelitian dan menjadi sumber pengetahuan.
Enam lembaga terpilih pada kategori ini seluruhnya menyumbang lebih dari 200 artikel sepanjang 2024 dan berhasil meraih ratusan ribu keterbacaan.
Universitas Terproduktif: Universitas Gadjah Mada (UGM), Universitas Indonesia (UI), dan Universitas Islam Indonesia (UII) Yogyakarta
Institusi Non-Universitas Terproduktif: Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN), Center of Economics and Law Studies (Celios), dan Think Policy
Sains untuk Publik, Bukan Hanya untuk Akademik
Para penerima penghargaan menyambut positif penyelenggaraan TCID Author Awards 2024. Ilham Akhsanu Ridlo, misalnya, melihat The Conversation Indonesia sebagai ruang penting bagi akademisi dan peneliti untuk menjembatani ilmu pengetahuan dengan masyarakat luas.
Ia juga menyampaikan harapan agar semakin banyak akademisi dan peneliti yang mau membagikan pengetahuannya, serta semakin banyak jurnalis yang berkomitmen pada kebenaran informasi.
Pada akhirnya, semangat yang dirayakan TCID Author Awards 2024 bukan hanya soal siapa yang paling produktif atau paling banyak dibaca, melainkan tentang bagaimana sains bisa hadir di ruang publik sebagai panduan, bukan sekadar pilihan opini.
Dan ruang kolaborasi itu tetap terbuka lebar: TCID mengundang akademisi dan peneliti untuk terus menghasilkan artikel analisis berbasis sains, agar sains tidak berhenti di laboratorium, tetapi hidup di tengah masyarakat.






