Sains Tanpa Aksi Tak Akan Mengubah Dunia
Ilmu pengetahuan tidak akan pernah mengubah dunia jika hanya berhenti di jurnal dan ruang seminar. Ia baru punya daya guncang ketika diterjemahkan menjadi kebijakan nyata dan tindakan konkret.
Dengan semangat itu, digelar sebuah Seminar Internasional dan Dialog Kebijakan bertajuk “Menerjemahkan Ilmu Pengetahuan ke dalam Tindakan: Kebijakan Pangan untuk Mendorong Pola Makan Sehat dan Mencegah Penyakit Tidak Menular di Indonesia”.
Forum ini bukan sekadar ajang presentasi, tetapi dirancang sebagai ruang serius untuk menghubungkan ilmu gizi, kebijakan pangan, dan kesehatan masyarakat agar tak lagi berjalan sendiri-sendiri.
Panggung Kolaborasi Ilmuwan dan Pembuat Kebijakan
Seminar dan dialog kebijakan ini menjadi titik temu strategis bagi:
ilmuwan dan peneliti,
pembuat kebijakan,
pemangku kepentingan di bidang kesehatan dan pangan.
Mereka duduk satu meja untuk merumuskan langkah nyata dalam menghadapi lonjakan penyakit tidak menular (PTM) di Indonesia.
Fokus utamanya: bagaimana ilmu gizi dan kebijakan pangan nasional bisa saling menguatkan untuk membangun pola makan yang lebih sehat bagi seluruh rakyat Indonesia.
Di tengah meningkatnya konsumsi makanan ultra-proses, rendahnya literasi gizi, dan perubahan pola makan, forum ini dihadirkan sebagai wadah untuk menyusun strategi yang berbasis bukti ilmiah namun siap dieksekusi di lapangan.
Siapa di Balik Acara Ini?
Perhelatan ini diinisiasi oleh Akademi Ilmu Pengetahuan Indonesia (AIPI) yang berperan sebagai motor penggerak, berkolaborasi dengan:
Inisiatif Gizi Indonesia (Indonesian Nutrition Initiative – IGI),
Program Magister Ilmu Gizi Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia.
Para pembicara datang dari latar belakang yang beragam:
pakar gizi,
epidemiolog,
peneliti kebijakan pangan,
pejabat kementerian terkait.
Mereka membedah isu-isu krusial seperti:
tantangan gizi buruk,
maraknya konsumsi makanan ultra-proses,
lemahnya literasi gizi di masyarakat.
Semua ini dibahas dengan tujuan melahirkan strategi konkret yang bisa diimplementasikan, bukan sekadar wacana.
Format Acara dan Bahasanya
Rangkaian seminar ini berlangsung dalam bahasa Inggris dengan dukungan penerjemah agar diskusi lintas disiplin dan lintas sektor tetap inklusif.
Perhelatan digelar secara hibrida: ada sesi tatap muka di Ruang Pertemuan AIPI, Lantai 17 Gedung Perpustakaan Nasional RI, sekaligus terbuka untuk peserta yang mengikuti secara daring.
Kehadiran format hibrida ini memperluas jangkauan, sehingga ide dan rekomendasi yang lahir dari forum ini bisa dinikmati tidak hanya oleh peserta yang hadir secara fisik, tetapi juga komunitas ilmiah dan kebijakan yang lebih luas.
Misi Besar: Menghadang Tsunami Penyakit Tidak Menular
Tujuan utama seminar internasional dan dialog kebijakan ini adalah menyusun rekomendasi yang tajam dan aplikatif untuk mengatasi:
obesitas,
penyakit tidak menular (PTM),
risiko kesehatan yang dipicu konsumsi makanan ultra-olahan (Ultra-Processed Foods/UPF),
khususnya di Indonesia dan negara berpenghasilan rendah dan menengah lainnya.
Pendekatan yang diambil berangkat dari sistem pangan yang komprehensif, dengan beberapa langkah strategis:
Mengungkap dan mensintesis bukti ilmiah mengenai transisi gizi, tren konsumsi UPF, serta kaitannya dengan obesitas dan PTM.
Membuka dialog interdisipliner dan lintas sektoral untuk memperkuat strategi kebijakan promotif dan preventif.
Mendorong penerjemahan pengetahuan ke kebijakan melalui pengembangan ringkasan kebijakan yang jelas dan dapat ditindaklanjuti.
Membangun kolaborasi jangka panjang multi-pemangku kepentingan untuk mendukung reformasi sistem pangan dan kesehatan yang berbasis bukti, dengan AIPI sebagai salah satu pengampu kepemimpinan ilmiah.
Intinya, forum ini berupaya menjembatani data dan keputusan, laboratorium dan ruang rapat, pengetahuan dan kebijakan.
Deretan Tokoh dan Perspektif Kunci
Acara ini dibuka dengan pidato utama Wakil Menteri Kesehatan, Prof. dr. Dante Saksono Harbuwono, Sp.PD-KEMD, Ph.D.
Beliau mengupas arah strategis dan prioritas pemerintah dalam:
menangani persoalan gizi,
menekan beban penyakit tidak menular,
memperkuat sistem pangan nasional.
Sebagai pembicara kunci, hadir Prof. Barry Popkin, pakar global di bidang transisi nutrisi dan kebijakan pangan dari University of North Carolina Gillings School of Global Public Health.
Ia menyampaikan presentasi utama berjudul “Dekade Pertama Kebijakan Pangan Global: Masa Lalu, Masa Kini, dan Masa Depan”.
Dari sesi ini, diharapkan muncul wawasan kritis mengenai:
gelombang global makanan ultra-olahan (UPF),
dinamika sosial-budaya yang mengubah pola makan masyarakat,
strategi membangun sistem pangan yang tangguh sekaligus mendukung kesehatan.
Panel Diskusi: Menyatukan Sudut Pandang
Dalam sesi panel, berbagai tokoh kunci hadir untuk memberikan pandangan dari perspektif masing-masing:
Drs. Amich Alhumami, M.A., M.Ed., Ph.D. dari Bappenas,
Dr. Fauzan Adziman, S.T., M.Eng. dari Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains dan Teknologi,
Prof. Dr. Ali Ghufron, M.Sc., Ph.D., AAK dari BPJS,
Prof. Dr. Ir. Purwiyatno Hariyadi dari Komisi Ilmu Rekayasa AIPI,
Prof. Barry Popkin dari UNC.
Mereka memberikan refleksi dan rumusan akhir dari jalannya diskusi, masing-masing dengan kacamata keahlian yang berbeda.
Di sinilah kekuatan utama forum: menyatukan ilmuwan, perencana pembangunan, penyelenggara jaminan kesehatan, dan pakar kebijakan pangan dalam satu ruang dialog.
Dari Diskusi Menuju Dokumen dan Aksi Nyata
Hasil yang diharapkan dari Seminar Internasional dan Dialog Kebijakan ini tidak berhenti pada notulen acara.
Berbagai output strategis tengah disiapkan:
Policy Brief berupa laporan komprehensif yang merangkum hasil diskusi, inovasi yang teridentifikasi, serta rekomendasi strategis untuk implementasi kebijakan peningkatan kesehatan masyarakat Indonesia.
Manuskrip komentar internasional untuk jurnal, agar pengalaman dan pembelajaran dari Indonesia bisa berkontribusi pada diskursus global.
Agenda pertemuan tindak lanjut, yang memetakan langkah ke depan dalam horizon jangka pendek, menengah, hingga jangka panjang.
Dengan demikian, forum ini diposisikan sebagai awal dari rangkaian gerak panjang, bukan hanya satu acara seremonial.
Penutup: Ketika Sains Menyentuh Kebijakan Pangan
Lewat pertemuan ini, AIPI dan para mitra mengirim pesan jelas: ilmu pengetahuan harus turun gunung.
Bukti ilmiah tentang gizi, pola makan, dan penyakit tidak menular tidak boleh berhenti di meja peneliti. Ia harus menjelma menjadi:
kebijakan pangan yang lebih berpihak pada kesehatan,
strategi pencegahan PTM yang lebih kuat,
sistem pangan yang lebih tahan banting sekaligus menyehatkan.
Jika semua rangkaian ini berjalan konsisten, Seminar Internasional dan Dialog Kebijakan ini berpeluang menjadi salah satu tonggak penting dalam transformasi sistem pangan dan kesehatan Indonesia di dekade mendatang.






