Seminar Nasional: Desa, SINTHESA, dan Swasembada Pangan
Bagaimana desa bisa menjadi motor utama swasembada pangan nasional? Pertanyaan besar inilah yang menjadi ruh Seminar Nasional bertajuk “Sinkronisasi Sistem Integrasi Horizontal Ekonomi Desa (SINTHESA) dengan Program Swasembada Pangan”.
Forum ini dirancang sebagai ruang strategis untuk merumuskan langkah konkret memperkuat posisi desa sebagai tulang punggung ketahanan pangan Indonesia, dengan mempertemukan akademisi, praktisi, dan pengambil kebijakan dari berbagai daerah.
Latar Belakang: Tantangan Ketahanan Pangan Indonesia
Pertumbuhan penduduk Indonesia yang telah melampaui 284,44 juta jiwa mendorong peningkatan kebutuhan pangan yang sangat besar.
Tidak hanya pangan pokok yang naik, kebutuhan protein hewani juga mengalami lonjakan signifikan. Situasi ini menuntut adanya sistem pangan yang:
Efisien dalam produksi dan distribusi
Berkeadilan bagi pelaku usaha kecil hingga besar
Adaptif terhadap perubahan zaman dan tantangan global
Di titik inilah, program swasembada pangan bukan lagi sekadar slogan, tetapi menjadi pondasi kedaulatan dan keberlanjutan bangsa.
Peran Strategis Peternakan Rakyat dan SPR
Sektor peternakan rakyat menempati posisi yang sangat penting dalam menjawab kebutuhan pangan nasional, terutama di wilayah pedesaan sebagai sentra produksi.
Namun, peternakan rakyat masih bergulat dengan berbagai kendala:
Skala usaha yang kecil dan tersebar
Pola manajemen tradisional
Akses yang terbatas terhadap teknologi
Keterbatasan akses pasar dan permodalan
Untuk menjawab tantangan tersebut, IPB University sejak 2013 menggagas Sekolah Peternakan Rakyat (SPR).
Melalui SPR, banyak peternak yang perlahan bertransformasi dari pelaku usaha tradisional menjadi pengusaha ternak kolektif. Transformasi ini bertumpu pada:
Penguatan kelembagaan di tingkat lokal
Peningkatan profesionalisme pengelolaan usaha
Penerapan ilmu pengetahuan dalam manajemen peternakan
Dalam jangka panjang, para alumni SPR yang terorganisir dalam Solidaritas Alumni SPR Indonesia (SASPRI) berperan penting membangun kelembagaan ekonomi di tingkat kecamatan, terhubung dengan perguruan tinggi, pemerintah daerah, dan mitra swasta.
AGISPRINA, SASPRI, dan Ekosistem Bisnis Terintegrasi
Peran SASPRI yang semakin menguat didukung oleh perguruan tinggi yang tergabung dalam Aliansi Strategis Perguruan Tinggi Pengelola SPR Indonesia (AGISPRINA).
Lokasi alumni SPR tidak hanya menjadi sentra produksi, tetapi juga berfungsi sebagai:
Kawasan riset dan inovasi teknologi bagi insan SPR
Laboratorium penerapan tridharma perguruan tinggi
Ruang pendampingan profesional dalam bisnis kolektif
Semua ini menjadi bagian dari upaya bersama mewujudkan swasembada bahan pangan, yang masih membutuhkan perjuangan panjang dan kolaboratif.
Dalam konteks ini, peran aktif pemerintah daerah sangat diharapkan untuk memicu terbentuknya ekosistem bisnis integrasi horizontal yang melibatkan:
Alumni SPR sebagai aktor utama
Asosiasi pelaku usaha dari hulu hingga hilir
Pelaku UMKM dan koperasi di desa
Lumbung Pangan Daerah: Pilar Lokal untuk SINTHESA
Sebagai bentuk intervensi kelembagaan di level pangan lokal, Pusat Studi Pembangunan Pertanian dan Perdesaan (PSP3) IPB University menggagas program Lumbung Pangan Daerah.
Inisiatif ini dirancang untuk memperkuat ketahanan pangan berbasis komunitas melalui:
Pengelolaan cadangan pangan desa secara sistematis
Membangun jejaring distribusi pangan antarwilayah
Integrasi sistem logistik lokal untuk stabilitas harga dan ketersediaan pangan
Lumbung Pangan Daerah menjadi instrumen konkret menuju terwujudnya SINTHESA (Sistem Integrasi Horizontal Ekonomi Desa) yang:
Terdesentralisasi
Inklusif
Berbasis kearifan lokal dan kekuatan komunitas
SINTHESA: Menghubungkan Sektor yang Selama Ini Terpisah
Gagasan SINTHESA lahir dari kebutuhan untuk menyatukan kekuatan berbagai pemangku kepentingan dalam satu kerangka integrasi yang sistemik.
Forum kolaboratif yang dibangun bertujuan menyatukan:
Peternak dan pelaku usaha pangan
Perguruan tinggi dan lembaga riset
Pemerintah pusat dan daerah
Industri dan mitra swasta
Komunitas dan masyarakat desa
SINTHESA diharapkan menjadi simpul integrasi kelembagaan yang mampu:
Menguatkan sinergi antar sektor
Menyelaraskan program dan kebijakan lintas aktor
Mengurangi fragmentasi dalam pengelolaan sistem pangan nasional
Memperkuat basis komunitas sebagai aktor utama
Dengan cara ini, sektor-sektor ekonomi desa yang sebelumnya cenderung berjalan sendiri-sendiri dapat bergerak secara terpadu dan saling menopang.
Pertanian, UMKM, koperasi, dan teknologi lokal dapat berkolaborasi dalam satu ekosistem pembangunan desa yang terintegrasi.
Peran Para Narasumber dan Arsitektur Kebijakan
Seminar nasional ini menghadirkan jajaran narasumber dari berbagai level dan latar belakang untuk memperkaya sudut pandang.
Di antaranya:
Menteri Koordinator Bidang Pangan sebagai pembicara kunci yang mengulas arah kebijakan pemerintah dalam ketahanan pangan dan program swasembada pangan
Prof. Dr. Muladno, penggagas SPR, dengan tema “Tridarma Perguruan Tinggi, SINTHESA, dan Ketahanan Pangan”
Perwakilan pemerintah pusat, termasuk Kepala Badan Pangan Nasional, H. Arief Prasetyo Adi, S.T., M.T., Ph.D., yang membahas “Kebijakan Nasional dalam Swasembada Protein”
Wakil pemerintah daerah yang mengulas “Penguatan Ekosistem Pangan di Daerah”
Dari kalangan akademisi dan praktisi turut mengisi sesi presentasi, antara lain:
Paparan “Model Pendampingan SPR dan Korporasi Rakyat” yang membahas pola pendampingan berkelanjutan untuk peternak rakyat
Paparan praktisi mengenai “Gerakan SASPRI dan Dampaknya di Daerah”, yang mengungkap pengalaman lapangan dalam membangun usaha kolektif
Konsep “Diseminasi Lumbung Pangan Daerah” sebagai pengembangan kelembagaan pangan lokal
Rangkaian diskusi ini dipandu oleh moderator yang mengarahkan dialog agar berujung pada rumusan agenda bersama dan rekomendasi kebijakan.
SAINX dan Kekuatan Kolaborasi Lintas Lembaga
Untuk menguatkan inisiatif SINTHESA dan berbagai program pendukungnya, dibentuk sebuah forum kolaboratif yang melibatkan banyak pihak.
Melalui Forum SASPRI-AIPI-IPB-ILDEX (SAINX), bersama dengan lembaga dana riset serta berbagai mitra lainnya, diselenggarakan seminar nasional yang mempertemukan:
Para ahli lintas bidang yang terkait ketahanan pangan
Pelaku industri pangan dan peternakan
Akademisi dan peneliti
Wakil pemerintah pusat dan daerah
Forum ini tidak berhenti pada diskusi, tetapi diarahkan menjadi wahana untuk:
Menyusun agenda bersama penguatan pangan nasional
Mengembangkan inovasi kebijakan berbasis bukti
Menyusun langkah aksi konkret di tingkat desa, daerah, hingga nasional
SINTHESA di sini diposisikan sebagai kerangka besar yang menghubungkan berbagai program, mengurangi tumpang tindih, dan mengatasi fragmentasi dalam sistem pangan Indonesia.
Momentum Strategis: SINTHESA, Lumbung Pangan, dan Swasembada
Seminar ini menjadi momentum penting untuk:
Memperkenalkan gagasan Lumbung Pangan Daerah secara lebih luas kepada publik
Menunjukkan bagaimana program ini dapat menjadi pemantik terwujudnya SINTHESA
Mempertemukan aktor kunci di industri pangan nasional dalam satu ruang dialog
Diharapkan dari pertemuan ini akan lahir:
Kesepahaman bersama tentang pentingnya integrasi horizontal antar pelaku industri pangan
Komitmen kolektif untuk membangun sistem pangan yang tangguh dan mandiri
Rekomendasi kebijakan yang relevan dan aplikatif
Peluang kerja sama lintas sektor yang konkret dan berkelanjutan
Semua diarahkan untuk memperkuat program swasembada pangan Indonesia yang berbasis pada kekuatan desa dan komunitas.
Tujuan Utama Seminar: Dari Gagasan ke Aksi Nyata
Tujuan utama seminar ini dapat dirangkum dalam beberapa poin konkret:
Mendeseminasikan program Lumbung Pangan Daerah sebagai simpul kolaborasi lintas sektor untuk penerapan SINTHESA
Mengangkat peran alumni SPR dalam membangun usaha kolektif berbasis korporasi rakyat
Mendorong adopsi pendekatan Tetra Helix sebagai arsitektur baru pengembangan peternakan rakyat, yang menghubungkan pemerintah, akademisi, pelaku usaha, dan masyarakat
Merumuskan rekomendasi kebijakan yang mendukung terwujudnya swasembada pangan nasional
Menyusun rencana kerja kolaboratif lintas sektor untuk penguatan sistem pangan nasional yang dapat dijadikan pola kerja bersama
Pada akhirnya, melalui kehadiran SINTHESA dan berbagai inisiatif pendukung seperti SPR, SASPRI, AGISPRINA, dan Lumbung Pangan Daerah, diharapkan:
Sektor-sektor ekonomi desa yang selama ini berjalan sendiri-sendiri dapat bersinergi secara horizontal, membentuk ekosistem pembangunan desa yang terintegrasi dan berdaya saing.
Dari desa, ketahanan pangan dibangun. Dari desa pula, kemandirian pangan Indonesia dikuatkan.






