KuybeliKuybeli

Inti Bumi Berlapis Seperti Bawang: Temuan Mengejutkan dari Kedalaman 5.000 Km

Inti Bumi Berlapis Seperti Bawang: Temuan Mengejutkan dari Kedalaman 5.000 Km
Minat|Popularisasi Sains oleh Ahli

Inti Bumi Ternyata Jauh Lebih Rumit

Selama ini kita diajari membayangkan inti bumi sebagai bola besi raksasa yang padat dan seragam.

Namun, riset terbaru justru membalik gambaran sederhana itu. Bagian terdalam planet kita ternyata berlapis-lapis dan tidak homogen, lebih mirip bawang daripada bola logam polos.

Penelitian ini mengungkap bahwa inti bumi memiliki struktur internal yang kompleks, dengan sifat fisik yang berubah sesuai kedalaman.

Jejak Misteri dari Gelombang Gempa

Kunci dari temuan ini datang dari pengamatan terhadap gelombang seismik yang merambat melewati bumi hingga lebih dari 5.000 kilometer menuju pusat planet.

Para ilmuwan sejak lama mencatat kejanggalan:

  • Gelombang seismik melaju lebih cepat jika merambat sejajar dengan sumbu rotasi bumi.

  • Di jalur ekuator, kecepatannya lebih lambat.

Perbedaan arah rambat ini dikenal sebagai anisotropi seismik, yakni kondisi ketika kecepatan gelombang bergantung pada arah perjalanannya.

Yang membuat penasaran, anisotropi ini tidak seragam di semua kedalaman. Polanya berubah seiring bertambahnya kedalaman, mengisyaratkan bahwa ada sesuatu yang berbeda pada struktur di dalam inti.

Menciptakan Inti Bumi di Dalam Laboratorium

Untuk menjawab teka-teki ini, tim peneliti dari Universitas Münster di Jerman tidak hanya mengandalkan data gempa.

Mereka berhipotesis bahwa penyebab utamanya bukan sekadar tekanan dan suhu ekstrem, tetapi juga struktur mikroskopis material penyusun inti bumi.

Meski dikenal didominasi unsur besi, inti dalam bumi ternyata juga mengandung unsur ringan seperti silikon dan karbon. Kehadiran unsur-unsur ini diduga memengaruhi:

  • Susunan kristal besi.

  • Cara gelombang seismik menembus dan merambat di dalamnya.

Untuk mengujinya, para peneliti mensimulasikan kondisi inti bumi menggunakan perangkat bernama diamond anvil cell.

Mereka menekan campuran besi, silikon, dan karbon di antara dua ujung berlian hingga mencapai tekanan sekitar satu juta kali tekanan atmosfer, dengan suhu lebih dari 820 derajat Celsius.

Kristal Besi, Orientasi, dan Kecepatan Gelombang

Hasil eksperimen kemudian dianalisis menggunakan difraksi sinar-X untuk melihat bagaimana orientasi kristal terbentuk di dalam kondisi ekstrem tersebut.

Dari sini terungkap bahwa penambahan silikon dan karbon mampu mengubah orientasi kristal besi, yang dalam ilmu material dikenal sebagai lattice preferred orientation (LPO).

Perubahan orientasi kristal ini membuat gelombang seismik:

  • Tidak lagi memiliki satu kecepatan tunggal.

  • Bergerak dengan kecepatan berbeda, tergantung arah rambat dan kedalamannya.

Dengan kata lain, apa yang terjadi di skala mikroskopis kristal besi ternyata meninggalkan jejak yang bisa kita baca di skala planet melalui gelombang gempa.

Inti Bumi Seperti Bawang: Berlapis dan Bertingkat

Ketika temuan laboratorium ini diekstrapolasi ke seluruh planet, muncullah gambaran baru tentang inti bumi.

  • Di bagian terdalam inti, kandungan unsur ringan seperti silikon dan karbon diperkirakan lebih rendah, sehingga anisotropinya lebih kuat.

  • Di lapisan yang lebih luar, kandungan unsur ringan ini lebih tinggi, dan anisotropi seismik pun melemah.

Struktur yang berlapis-lapis ini membuat inti bumi tampak mirip bawang:

  • Kompleks.

  • Bertingkat.

  • Terus berevolusi selama miliaran tahun.

Temuan ini sekaligus membantu menjelaskan berbagai anomali seismik yang selama puluhan tahun membingungkan para ahli geofisika.

Inti Bumi Bukan Padat Seragam

Penelitian ini memperkuat kesimpulan bahwa inti dalam bumi jauh dari kata seragam.

Sejak tahap awal kristalisasi, perbedaan komposisi kimia sudah membentuk lapisan-lapisan (stratifikasi) yang memengaruhi sifat fisik material inti.

Dampaknya, gelombang gempa yang tercatat di seluruh dunia bukan sekadar sinyal bencana, melainkan juga kode rahasia yang membantu ilmuwan:

  • Mengurai struktur terdalam bumi.

  • Menyusun ulang sejarah evolusi planet secara lebih akurat.

Pada akhirnya, inti bumi bukan lagi sekadar “bola besi” di imajinasi buku pelajaran, melainkan arsip hidup geologi yang terus dibaca melalui gempa dan eksperimen canggih di laboratorium.

Kuybeli earns a commission when you shop through our links, at no extra cost to you. Editorial content is independently selected by our team.

You May Also Like

Comments
Tulis sesuatu...
Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berbagi pendapat!