Aceh Bangkit: Saat TNI dan Warga Turun Tangan Bersama
Personel TNI bersama warga di berbagai wilayah Aceh bahu-membahu memulihkan kondisi pascabencana. Mereka tidak hanya membersihkan lumpur dan puing, tetapi juga memperbaiki fasilitas umum agar aktivitas sehari-hari warga cepat kembali normal.
Berbagai kegiatan dilakukan serentak di sejumlah titik terdampak, terutama di Kabupaten Pidie Jaya, Aceh Tamiang, dan Bireuen. Semangat gotong royong menjadi motor utama pemulihan di lapangan.
Aksi Nyata di Pidie Jaya: Gang, TK, hingga Polindes
Di Kabupaten Pidie Jaya, lorong-lorong permukiman menjadi fokus pertama. Personel TNI dan masyarakat membersihkan kawasan Lorong Seulanga di Desa Meunasah Lhok, Kecamatan Meureudu. Lumpur dan puing yang semula menumpuk pelan-pelan disingkirkan agar akses kembali terbuka.
Tak hanya permukiman, fasilitas pendidikan juga jadi prioritas. Ruang kelas II TK/PAUD Al-Bayan di Desa Manyang Cut, Kecamatan Meureudu, dibersihkan agar anak-anak bisa segera kembali belajar tanpa harus menunggu lama.
Selain itu:
TNI membersihkan Pondok Bersalin Desa (Polindes) Pante Beureune, Kecamatan Meurah Dua.
Halaman Polindes Blang Cut di kecamatan yang sama diratakan agar lebih aman dan layak digunakan.
Alat berat dari Yonif TP 857/GG dikerahkan di Desa Pante Beureune dan Desa Meunasah Balek, Kecamatan Meureudu, untuk mempercepat pembersihan dan penataan lingkungan.
Fokusnya jelas: tempat tinggal, layanan kesehatan dasar, dan ruang belajar harus segera kembali berfungsi.
Aceh Tamiang: Sekolah dan Balai Desa Jadi Pusat Pemulihan
Di Aceh Tamiang, kerja bersama ini terasa kuat di kawasan pendidikan dan fasilitas pelayanan warga. Personel TNI tampak membersihkan tembok-tembok kelas dan mengangkut sisa lumpur di SD Rantau Panjang, Desa Rantau Panjang, Kecamatan Karang Baru.
Upaya serupa dilakukan di Balai Desa Rantau Panjang. Ruang ini penting karena menjadi pusat aktivitas masyarakat, mulai dari layanan administrasi hingga pertemuan warga.
Di tengah proses tersebut, muncul kondisi yang lebih menantang. Dalam salah satu dokumentasi, personel TNI terlihat membantu mengevakuasi kendaraan yang terjebak lumpur di sekitar SD Islam Terpadu Tupah, Desa Tupah, Kecamatan Karang Baru. Artinya, pemulihan tidak hanya soal bangunan, tapi juga kelancaran mobilitas warga.
Bireuen: Sekolah Dibersihkan, Belajar Mulai Jalan Lagi
Kabupaten Bireuen juga menjadi lokasi penting pemulihan. Di SMK Negeri 1 Peusangan, Gampong Raya Dagang, Kecamatan Peusangan, TNI dan warga bekerja sama membersihkan lingkungan sekolah. Progres pembersihan dikabarkan sudah mencapai sekitar 98 persen.
Menariknya, di tengah lantai dan halaman yang belum sepenuhnya bersih dari lumpur, kegiatan belajar mengajar sudah mulai berjalan kembali. Sekolah pelan-pelan hidup lagi, meski jejak bencana masih terasa.
Tak berhenti di situ, personel TNI juga terlibat dalam pembersihan Perpustakaan SMA Negeri 1 Peusangan di Jalan Banda Aceh–Medan, Matang Glumpang Dua, Kecamatan Peusangan. Progres di perpustakaan ini disebut sudah mencapai kurang lebih 96 persen. Targetnya jelas: rak buku kembali rapi, aman, dan nyaman digunakan siswa.
Menyentuh Rumah Ibadah dan Lingkungan Permukiman
Upaya pemulihan tidak hanya berfokus pada sekolah dan fasilitas umum, tetapi juga menyentuh sisi spiritual dan kehidupan sehari-hari warga.
Beberapa titik yang turut dibersihkan antara lain:
Balai Pengajian di Desa Mesi, Kecamatan Kuta Blang, Kabupaten Bireuen.
SDN 8 Kuta Blang, Parit Desa Ulle, Kecamatan Peusangan Selatan.
Sejumlah rumah warga di wilayah Peusangan.
Dengan begitu, pemulihan tidak hanya bersifat fisik, tetapi juga menyentuh ruang ibadah, ruang belajar, dan ruang keluarga yang menjadi pusat kehidupan sosial masyarakat.
Gotong Royong sebagai Pondasi Pemulihan
Di balik alat berat, seragam loreng, dan tumpukan lumpur, ada satu hal yang menonjol: kebersamaan. Gotong royong antara TNI dan warga menjadi simbol kepedulian yang nyata.
Warga tidak dibiarkan berjuang sendiri.
TNI hadir bukan sekadar sebagai pasukan, tetapi sebagai mitra di lapangan.
Pemulihan dilakukan menyeluruh, dari sekolah, balai desa, fasilitas kesehatan, rumah ibadah, hingga rumah-rumah penduduk.
Kolaborasi ini mempercepat pemulihan pascabencana dan membantu warga kembali beraktivitas dengan lebih aman dan nyaman. Ketika negara dan masyarakat bergerak bersama, proses bangkit dari bencana menjadi lebih kuat dan penuh harapan.






