Dies Natalis yang Mengubah Cara Publik Memandang Dunia Teknik
Pameran inovasi Dies Natalis ke-40 Fakultas Teknik Ubaya adalah kegiatan enam hari di Atrium Pakuwon Trade Center (PTC) Surabaya yang menampilkan karya VR, Smart Chess berbasis AI, 3D printing, teknologi Mindwave, dan beragam teknologi tepat guna lain sebagai cara mendekatkan dunia teknik kepada masyarakat luas. Ini bukan sekadar pesta ulang tahun fakultas, tetapi pernyataan sikap: teknologi harus turun dari menara gading dan hadir di tengah keramaian mal, di antara keluarga yang berbelanja dan anak-anak yang penasaran. Dengan tema “Leading the Future: 40 Years of Engineering Innovation”, pameran ini menolak pendekatan elitis, mengganti citra teknik yang kaku dengan pengalaman langsung yang ramah pengguna dan menyenangkan. Dunia teknik diposisikan sebagai bagian dari keseharian, bukan dunia eksklusif yang hanya dimengerti oleh kalangan tertentu.
VR dan Smart Chess Berbasis AI: Teknologi AI Universitas yang Bisa Dicoba Siapa Saja
Daya tarik utama pameran inovasi VR ini adalah bagaimana teknologi canggih diubah menjadi permainan yang bisa dirasakan langsung oleh pengunjung dari berbagai usia. Smart Chess berbasis AI, misalnya, bukan dipajang sebagai prototipe dingin, melainkan “teman tanding” yang responsif. Mahasiswa Teknik Elektro merancang robot yang mampu membaca langkah catur manusia dan merespons dengan gerakan presisi, membuat kecerdasan buatan terasa konkret, bukan konsep abstrak. Di sisi lain, realitas virtual (VR) dan simulasi tenis imersif mengajak pengunjung merasakan dunia digital yang mengelilingi mereka alih-alih sekadar melihat layar. Di sinilah kekuatan teknologi AI universitas: mampu menjadi alat belajar, sarana rekreasi, sekaligus contoh nyata bagaimana inovasi fakultas teknik dapat menyentuh kehidupan sehari-hari tanpa menakut-nakuti publik dengan istilah teknis.

Teknologi Tepat Guna: Dari Es Krim Kondensasi hingga Mindwave
Tema “Leading the Future: 40 Years of Engineering Innovation” akan terdengar kosong jika inovasi yang dibawa ke mal hanya berupa konsep futuristik tanpa manfaat praktis. Karena itu, karya yang tampil adalah teknologi tepat guna: mesin pembuat es krim berbasis proses kondensasi dari Teknik Kimia, teknologi 3D printing dari Teknik Mesin dan Manufaktur, serta perangkat Mindwave dari Sistem Informasi untuk mengukur gelombang otak. Semua ini menunjukkan bahwa inovasi fakultas teknik tidak berhenti di laboratorium. Pengunjung bukan hanya melihat mesin, tetapi memahami bahwa ilmu yang dimanfaatkan di balik es krim, cetak 3D, dan sensor otak bisa menjawab kebutuhan industri, pendidikan, hingga kesehatan. Seperti disampaikan Dekan FT Ubaya, Eric Wibisono, pameran ini ingin membuktikan bahwa sains terapan mampu memberikan solusi praktis bagi kehidupan sehari-hari.
Menghapus Stigma Teknik yang Rumit dan Kaku
Keputusan membawa seluruh purwarupa ke atrium pusat perbelanjaan adalah langkah politis sekaligus pedagogis: FT Ubaya ingin meruntuhkan kesan bahwa ilmu teknik rumit dan kaku. Pameran dibuka untuk masyarakat umum, bukan hanya sivitas akademika, sebagai cara sadar untuk memecah batas antara kampus dan publik. Anak-anak yang mencoba VR tenis, orang tua yang melihat proses 3D printing, atau pelajar yang menantang Smart Chess berbasis AI secara tidak langsung belajar bahwa teknologi bisa diakses, dipahami, dan dinikmati. Pendekatan ini mengubah narasi dari “teknik adalah hitungan rumit” menjadi “teknik adalah alat untuk memecahkan masalah sehari-hari”. Dengan desain pameran yang interaktif dan ramah pengguna, dunia teknik tidak lagi tampak sebagai ruang penuh formula, melainkan ekosistem kreatif yang mengundang rasa ingin tahu.
Empat Dekade Inovasi dan Masa Depan yang Lebih Membumi
Puncak perayaan empat dekade Fakutas Teknik Ubaya ditandai dengan peluncuran buku “Unlocking Innovation: Forty Years of Engineering Ubaya”, yang merangkum sejarah, rekam jejak, dan arah pengembangan pendidikan ke depan. Ini bukan sekadar dokumentasi, tetapi kompas yang menegaskan posisi FT Ubaya: inovasi harus dibuka, diketahui, dan dimanfaatkan oleh publik. Dengan rangkaian agenda mulai dari pameran, penghargaan untuk sivitas berprestasi, reuni akbar hingga lokakarya dan kompetisi antarsiswa, Dies Natalis ke-40 tampak seperti latihan intensif untuk budaya kolaborasi yang lebih luas. Pameran inovasi VR, Smart Chess berbasis AI, 3D printing, dan Mindwave menunjukkan bahwa masa depan teknik yang ingin dipegang Ubaya adalah masa depan yang membumi: teknologi maju, tetapi mudah disentuh, dijajal, dan dipahami oleh siapa pun yang lewat di atrium mal.






