Temukan minat Anda, bersama

Promo pilihan, ulasan jujur, dan cerita belanja dari mereka yang seminat dengan Anda — setiap hari di Kuybeli.

Temukan minat Anda, bersamaPromo pilihan, ulasan jujur, dan cerita belanja dari mereka yang seminat dengan Anda — setiap hari di Kuybeli.

Sekolah Kejuruan Menyiapkan Siswa Hadapi Era AI dengan Jurnalistik dan Komunikasi Digital

Sekolah Kejuruan Menyiapkan Siswa Hadapi Era AI dengan Jurnalistik dan Komunikasi Digital
Minat|Pendidikan Usia Sekolah

Jurnalistik di Sekolah Kejuruan: Bukan Tambahan, Tapi Fondasi Keterampilan Era AI

Jurnalistik sekolah kejuruan adalah praktik mengintegrasikan keahlian menulis berita, literasi media digital, dan public speaking siswa ke dalam pembelajaran vokasi untuk membentuk lulusan yang tidak hanya menguasai teknologi, tetapi juga mampu mengolah, mengkritisi, dan menyampaikan informasi secara etis di ruang digital yang dipenuhi algoritma dan kecerdasan buatan. Dalam konteks era AI, langkah ini bukan sekadar pelengkap kurikulum, melainkan fondasi keterampilan komunikasi era AI yang akan menentukan apakah generasi muda menjadi pengguna teknologi yang kritis atau sekadar konsumen pasif. SMK Muhammadiyah Kutowinangun membaca situasi ini dengan cermat ketika menggelar Pelatihan Jurnalistik dan Public Speaking selama tiga hari, Senin–Rabu, 14–16 September 2026.

Tiga Hari Intensif: Meracik Teknik Jurnalistik, Public Speaking, dan Etika Digital

Pelatihan di SMK Muhammadiyah Kutowinangun dibuka oleh kepala sekolah, Rochmat Aris Susyanto, yang menegaskan pentingnya siswa tidak hanya terampil teknis tetapi juga cakap bicara, kreatif, dan beretika di era AI. Hari pertama, materi teknik pengambilan foto dan video, komposisi, angle, framing, pencahayaan, hingga editing konten dibawakan oleh pewarta televisi, sekaligus membahas bagaimana kecerdasan buatan digunakan untuk riset, mencari ide, dan produksi karya dengan tetap mengutamakan verifikasi dan tanggung jawab manusia. Hari kedua, fokus bergeser ke public speaking siswa: kepercayaan diri, vokal, artikulasi, bahasa tubuh, dan teknik menjadi MC, disusul dasar-dasar jurnalistik seperti penentuan angle, observasi, wawancara, dan penulisan berita 5W+1H yang akurat dan berimbang. Hari ketiga, siswa masuk ke ranah literasi media digital, etika bermedia sosial, serta pemahaman UU ITE dan konsekuensi hukum di ruang digital.

Literasi Media Digital: Tameng Melawan Disinformasi di Kelas hingga Kampus

Inti transformasi pendidikan komunikasi hari ini adalah literasi media digital: kemampuan membaca, memproduksi, dan memeriksa informasi sebelum menyebarkannya. Di SMK Muhammadiyah Kutowinangun, materi literasi digital menyoroti jejak digital, cyberbullying, etika bermedia sosial, dan prinsip “Saring Sebelum Sharing” agar siswa tidak mudah menyebarkan informasi yang belum terverifikasi. Pendekatan ini sejalan dengan pelatihan jurnalistik bagi lembaga pers mahasiswa di sebuah universitas negeri, yang menekankan kualitas konten tanpa meninggalkan kaidah dasar jurnalistik. Dalam pelatihan itu, pimpinan biro kantor berita mengingatkan mahasiswa untuk memegang teguh kode etik dan norma hukum ketika memproduksi konten di media massa maupun media sosial. Artinya, dari tingkat sekolah kejuruan sampai kampus, literasi media digital dan etika bukan lagi tema tambahan, melainkan tameng utama melawan disinformasi, budaya ujaran kebencian, dan jebakan hukum di dunia online.

Etika dan Aturan Hukum: Mengimbangi Kecepatan Teknologi dan AI

Kecerdasan buatan membuat produksi konten semakin cepat, tetapi kecepatan tanpa etika dan pemahaman hukum bisa berujung pada masalah serius. Itulah mengapa pelatihan jurnalistik sekolah kejuruan kini selalu menyertakan sesi tentang pedoman jurnalistik dan aturan hukum, termasuk UU ITE. Di SMK Muhammadiyah Kutowinangun, siswa diperkenalkan dengan pedoman peliputan terorisme, pemberitaan ramah anak, media siber, dan disabilitas, yang menekankan verifikasi, keberimbangan, perlindungan privasi, hak jawab, serta penghormatan martabat individu. Sementara itu, pelatihan di kalangan pers mahasiswa diarahkan untuk meningkatkan kualitas konten tanpa mengesampingkan etika dan aturan hukum yang berlaku. "Harapannya LPM dapat semakin meningkatkan kualitas dalam pembuatan konten serta menyampaikan berbagai isu, namun tak lupa kami tekankan agar tidak melupakan etika, kode etik, dan aturan-aturan hukum," tegas kepala biro kantor berita. Kombinasi etika dan hukum ini adalah rem yang mengimbangi akselerasi teknologi dan AI di tangan generasi muda.

Kesimpulan: SMK Harus Menjadi Laboratorium Komunikasi Digital di Era AI

Pelatihan tiga hari di SMK Muhammadiyah Kutowinangun menunjukkan bahwa sekolah kejuruan tidak lagi cukup hanya melahirkan teknisi, programmer, atau operator mesin; mereka harus menjadi laboratorium komunikasi digital yang menyiapkan siswa sebagai produsen informasi yang cerdas dan beretika. Dengan mengintegrasikan jurnalistik sekolah kejuruan, public speaking siswa, literasi media digital, dan pemahaman hukum, sekolah membekali murid dengan keterampilan komunikasi era AI yang tidak mudah digantikan algoritma. Pelatihan semacam ini juga terbukti membentuk siswa yang lebih percaya diri, kreatif, kritis, dan adaptif terhadap perkembangan teknologi. Di sisi lain, upaya penguatan literasi jurnalistik dan etika di lingkungan pers mahasiswa menandakan kesinambungan ekosistem komunikasi dari bangku SMK hingga kampus. Jika tren ini diikuti lebih banyak sekolah kejuruan, maka transformasi digital dan AI bukan hanya ancaman, melainkan peluang untuk mencetak generasi yang mampu berbicara lantang, menulis tajam, dan tetap memegang teguh etika di ruang publik digital.

Kuybeli memperoleh komisi saat Anda berbelanja melalui tautan kami, tanpa biaya tambahan untuk Anda.

You May Also Like

Comments
Tulis sesuatu...
Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berbagi pendapat!